Jurnal Skripsi PTK Arif Sunarya

UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN MENGAPRESIASI PUISI DENGAN METODE “STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING” SISWA KELAS VII SMP NEGERI 21 BANJARMASIN

 

ARIF SUNARYA

FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Brigjend. Hasan Basry,

Kampus Kayu Tangi Banjarmasin 70123

 

Abstract

 

Lack of liveliness appreciate poetry class VII B Junior High School 21 Banjarmasin caused students who do not pay attention to the teacher, feelings of shame, fear, and not unfamiliar students to speak in class. This has prompted researchers to conduct action research. The problem studied is how the activity of students in appreciating poetry using the Student Facilitator and Explaining and how improved learning outcomes in appreciating poetry using the Student Facilitator and explaining. The aim of this action research study revealed activity in appreciating poetry with Student Facilitator and Explaining methods along with improved learning outcomes expressed in appreciating poetry with Student Facilitator and Explaining methods. This study uses the cycle stages of planning, implementation, observation, and reflection. The analysis technique used is descriptive analysis with performance indicators, ie if the teacher using Student Facilitator and Explaining the appreciation of poetry into increased activity. The results of the first cycle, active students in appreciating poetry there were 17 students (45%), and 20 (55%); students are less activeness. While the learning outcomes of students, there are 18 students (48.64%), which achieve mastery. Results of the second cycle, active students in appreciating poetry there were 25 students (70.9%), and 10 (29.1%); students are less activeness. While the learning outcomes of students have reached mastery level there are 38 students (100%). Research conducted only till the second cycle, because the results achieved in the second cycle in compliance with the involvement of the student performance indicators increased by 60% the level of activity and student learning outcomes with the provision of 70% of students managed to obtain a good and very good value.

 

Kata kunci : apresiasi puisi, Student Facilitator and Explaining

 

Abstrak

Sunarya, Arif. 2013. Upaya Meningkatkan Keaktifan Mengapresiasi Puisi dengan Metode “Student Facilitator and Explaining” Siswa kelas VII SMP Negeri 21 Banjarmasin. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Pembimbing: (I) Dra. Zakiah Agus Kusasi, M.Pd., (II) Dra. Maria LAS, M.Pd.

 

Kata kunci : apresiasi puisi, Student Facilitator and Explaining

 

Kurangnya keaktifan mengapresiasi puisi siswa kelas VII B SMP Negeri 21 Banjarmasin disebabkan siswa yang tidak memperhatikan guru, perasaan malu, takut, dan tidak terbiasanya siswa berbicara di kelas. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Masalah yang diteliti adalah bagaimanakah keaktifan siswa dalam mengapresiasi puisi menggunakan metode Student Facilitator and Explaining dan bagaimanakah peningkatan hasil belajar dalam mengapresiasi puisi dengan menggunakan metode Student Facilitator and explaining.

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan mengungkapkan keaktifan belajar dalam mengapresiasi puisi dengan metode Student Facilitator and Explaining beserta mengungkapkan peningkatan hasil belajar dalam mengapresiasi puisi dengan metode Student Facilitator and Explaining.

Penelitian ini menggunakan siklus dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis diskriptif dengan indikator kinerja, yaitu jika guru menggunakan metode Student Facilitator and Explaining dalam keaktifan mengapresiasi puisi menjadi meningkat.

Hasil siklus I, keaktifan siswa dalam mengapresiasi puisi ada 17 siswa (45%); dan 20 (55%); siswa yang kurang keaktifannya. Sedangkan hasil belajar siswa ada 18 siswa (48,64%); yang mencapai ketuntasan.

Hasil siklus II, keaktifan siswa dalam mengapresiasi puisi ada 25 siswa (70,9%); dan 10 (29,1%); siswa yang kurang keaktifannya. Sedangkan hasil belajar siswa sudah mencapai tingkat ketuntasan ada 38 siswa (100%).

Penelitian hanya dilakukan sampai siklus II, karena hasil yang dicapai pada siklus II telah memenuhi indikator kinerja dengan keaktifan siswa meningkat dengan tingkat keaktifan 60% dan hasil belajar siswa dengan ketetapan 70% siswa berhasil memperoleh nilai baik dan sangat baik.

 

PENDAHULUAN

Pengajaran bahasa Indonesia mempunyai ruang lingkup dan tujuan yang menumbuhkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan meng-gunakan bahasa yang baik dan benar. Pada hakikatnya pembelajaran bahasa Indo-nesia diarahkan untuk mempertajam kepekaan perasaan siswa. Guru dituntut mampu memotivasi siswa agar mereka dapat meningkatkan minat baca terhadap karya sastra. Karena dengan mempelajari sastra siswa diharapkan dapat menarik berbagai manfaat untuk kehidupannya. Oleh karena itu, seorang guru harus dapat mengarahkan siswa membaca karya sastra yang sesuai dengan minat dan kema-tangan jiwa mereka. Berbagai upaya dapat dilakukan, salah satunya dengan mem-berikan tugas untuk memberikan kegiatan mengapresiasi puisi.

Mengapresiasi puisi perlu ditanamkan kepada siswa di Sekolah Menengah Pertama sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk mengapresisasi puisi dengan baik pada saat menuju sekolah lanjutan. Mengapresiasi sebuah puisi bukan hanya ditujukan untuk penghayatan dan pehamanan puisi, melainkan berpengaruh mempertajam kepekaan perasaan, penalaran, serta kepekaan anak terhadap masalah-masalah kemanusian. Kemampuan tersebut ditentukan oleh beberapa faktor penting dalam proses pembelajaran mengapresiasi puisi.

Selain menerapkan strategi yang tepat agar peranan guru dalam proses pem-belajaran terhadap siswa dapat lebih aktif di dalam proses belajar di kelas. Pem-belajaran yang aktif merupakan pembelajaran yang penuh semangat, hidup, giat, berkesinambungan, kuat dan efektif. Pembelajaran aktif melibatkan pembelajaran yang terjadi ketika siswa bersemangat, siap secara mental dan biasa memahami pengalaman yang dialami. Selain pembelajaran yang aktif maka diperlukan pem-belajaran yang efisieanan seorang guru dalam mengajar. Dalam hal itu, menurut Shacleford dan Henak (dalam Soekartawi, 1995:390) berpendapat bahwa secara pengajaran yang efisien akan terbentuk kalau pengajarnya juga bertindak efisien.

Dalam pembelajaran mengapresiasi puisi di Sekolah Menengah Pertama masih ditemukan berbagai kendala dan hambatan. Hal ini berkaitan dengan ketepatan penggunaan metode atau teknik dalam pembelajaran sastra dalam hal mengapresiasi puisi. Demikian pula dengan permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran mengapresiasi puisi dikelas VII B SMPN 21 Banjarmasin, selama ini keaktifan siswa dalam mengapresiasi masih kurang, siswa yang masih malu untuk berbicara dan takut. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Bapak Muhamad Yusuf, S.Pd selaku guru pengajar di SMPN 21 Banjarmasin yang kemudian diduga mempunyai permasalahan dari guru maupun murid.

Berdasarkan masalah di atas penulis melakukan penelitian tentang “Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Mengapresiasi Puisi dengan Metode “Student Facilitator and Explaining” Siswa Kelas VII SMPN 21 Banjarmasin”. Sehingga diharapkan melalui penelitian ini meningkatkan proses belajar mengajar dan hasil belajar dapat ditingkatkan.

Berdasarkan latar belakang di atas, mempelajari proses pembelajaran meng-apresiasikan puisi dengan menggunakan metode “Student Facilitator and Explaining” di kelas VII B SMPN 21 Banjarmasin perlu dilakukan penelitian ini. Rumusan masalah kemudian ditentukan berikut ini.

  1. Bagaimanakah keaktifan belajar dalam mengapresiasi puisi menggunakan metode Student Facilitator and Explaining?
  2. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar dalam mengapresiasi puisi dengan menggunakan metode Student Facilitator and Explaining?

Sesuai dengan permasalahan yang telah dipaparkan di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Mengungkapkan keaktifan belajar dalam mengapresiasi puisi dengan metode Student Facilitator and Explaining.
  2. Mengungkapkan peningkatan hasil belajar dalam mengapresiasi puisi dengan metode Student Facilitator and Explaining.

Samadhi (2009:47) menyatakan pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun dengan guru dalam proses pembelajaran.

Menurut Gulo (2004:73-74) “aktivitas siswa adalah keterlibatan langsung siswa dalam proses belajar mengajar secara emosional dan fisik”. Sedangkan menurut Imron (1995:107) “aktivitas siswa adalah keikutsertaan siswa dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung, secara aktif baik fisik, mental, maupun emosional dari siswa itu sendiri”.

Mulyono (2001:26) menyatakan “keaktifan adalah kegiatan atau aktifitas dan segala sesuatu yang dilakukan kegiatan-kegiatan yang terjadi baik secara fisik maupun non fisik”.

Senada dengan pendapat di atas, Sanjaya (2007:101-106) mengatakan aktifitas non fisik seperti mental, intelektual dan emosional. Keaktifan disini pene-kanannya adalah peserta didik, sebab dengan adanya keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran akan tercipta situasi belajar aktif.

Pengertiaan tentang puisi sampai sekarang ini sangat sulit untuk dibatasi. Blair dan Chandler berpendapat bahwa, puisi adalah peluapan spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, dia bercikal bakal dari emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian (dalam Tarigan, 1997:5).

Selanjutnya menurut Effendi (dalam Sulkarnaini, 2002:3) apresiasi adalah kegiatan mengakrabi karya sastra dengan sungguh-sungguh. Di dalam proses me-ngakrabi terjadi proses pengenalan, pemahaman, penghayatan, penikmatan dan setelah itu penerapan.

SFE mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: informasi kempetensi, sajian materi, siswa mengembangkanya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi, serta refleksi (Suyatno, 2009:71).

Selanjutnya menurut Suprijono (2009:129) metode Student Facilitator and Explaining mempunyai arti metode yang menjadikan siswa dapat membuat peta konsep maupun bagan untuk meningkatkan kreatifitas siswa dan prestasi belajar siswa.

 

METODE

Penelitian ini, merupakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang merupakan terjemahan dari  classroom action research. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (teman sejawat) dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran di kelasnya melalui suatu tindakan tertentu dalam suatu siklus.

 

PEMBAHASAN

1.1 Keaktifan Belajar dalam Mengapresiasi Puisi Menggunakan Metode Student Facilitator and Explaining

Pada saat pertemuan pertama kelas VII B masih belum nampak keaktifannya. Akan tetapi tingkat keaktifan siswa mengalami peningkatan setiap siklusnya. Penelitian tindakan kelas ini telah berhasil meningkatkan keaktifan belajar siswa secara bertahap. Pada siklus pertama rata-rata keaktifan siswa adalah 45% siswa yang aktif. Hal ini dilihat pada aktivitas siswa pada saat persentase atau diskusi hanya 8 siswa (21,6%), selanjutnya aktivitas siswa dalam bertanya pada siklus pertama ini hanya 4 siswa (10,8%).

Selanjutnya pada siklus kedua mengalami peningkatan menjadi 70,9%, sehingga siswa yang pasif menjadi 29,1%. Hal ini juga dapat dilihat pada keaktifan siswa pada diskusi sebanyak 20 siswa (55%) siswa yang aktif dan aktivitas siswa dalam bertanya sebanyak 6 siswa (16,6%) yang dalam artian mengalami peningkatan keaktifan dari beberapa aspek.

Tabel 5.1 Rata-rata Keaktifan Siswa

No

Siklus

Rata-rata Keaktifan Siswa

1

I

45%

2

II

70,9%

 

Hal ini sesuai dengan Cooperative Learning yaitu PAIKEM, yang menyatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran adalah lebih kepada kemandirian dan berpikir siswa. Elemen yang dimunculkan dalam kegiatan ini adalah kerja individu, kemampuan berbicara dan mendengarkan (Suprijono, 2009:89).

Sehingga pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun dengan guru dalam proses pembelajaran (Samadhi, 2009:47).

Metode pembelajaran Student Facilitator and Explaining ini efektif untuk melatih siswa berbicara dan menyampaikan ide, gagasan atau pendapatnya sendiri karena metode ini didesain agar peserta didik belajar mempresentasikan ide atau pendapat pada rekan peserta didik lainnya.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Jono (1992:19-20) dan Yamin (2007:80-81) menyatakan keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan manakala:

1)        Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada peserta didik;

2)        Pendidik berperan sebagai pembimbing supaya terjadi pengalaman dalam belajar;

3)        Tujuan kegiatan pembelajaran tercapai kemampuan minimal peserta didik (kompetensi dasar);

4)        Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreatifitas peserta didik, meningkatkan kemampuan minimalnya, dan mencapai peserta didik yang kreatif serta mampu menguasai konsep-konsep; dan

5)        Melakukan pengukuran secara kontinyu dalam berbagai aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan.

 

1.2 Peningkatan Hasil Belajar dalam Mengapresiasi Puisi dengan Metode Student Facilitator and Explaining

Pemahaman siswa dalam mengapresiasi pusi juga mengalami peningkatan pada setiap siklusnya, sebagaimana yang tercantum dalam tabel 5.2.

Tabel 5.2 Peningkatan Pemahaman Siswa

 No

Siklus

Tingkat Ketuntasan

Nilai Rata-rata

 1

I

48,64%

61,65

 2

II

100%

81,4

 

Dalam memberdayakan peserta didik memang tidak hanya dengan meng-gunakan strategi ceramah saja, sebagaimana yang selama ini digunakan oleh para pendidik dalam proses pembelajaran.

          Student Facilitator and Explaining mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: informasi kompetensi, sajian materi, siswa mengembangkannya dan men-jelaskan lagi kesiswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi serta refleksi (Suyatno, 2009:71).

Dengan adanya metode Student Facilitator and Explaining dapat meningkatkan pemahaman siswa, berbeda dengan metode atau strategi pembelajaran yang diajarkan oleh guru selama ini. Metode ceramah dan penugasan yang digunakan guru oleh guru membuat siswa pasif dalam pem-belajaran, dan membuat siswa menjadi malu untuk berbicara.

Metode Student Facilitator and Explaining merupakan salah satu dari tipe pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis dan penghargaan kelompok (Trianto, 2007:52).

Hal pertama adalah menyiapkan silabus dan RPP dengan baik. Setelah itu mempersiapkan kisi-kisi soal pretest maupun tes akhir, serta lembar observasi keaktifan siswa, agar siswa benar-benar mempersiapkan diri sebelum pelajaran dimulai, maka dibuatlah lembar kerja siswa yang bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa.

Guru profesional adalah guru yang memiliki perencanaan matang sebelum pembelajaran dimulai. Seorang guru harus siap menjadi anggota komunitas belajar seumur hidup. Karena yang terpenting dalam meningkatkan kualitas pendidikan khususnya prestasi siswa adalah guru yang efektif. Dan guru yang efektif akan mengetahui cara membuka pintu hati dan mengajak siswa-siswa mereka untuk belajar.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

1.1  Simpulan

Dari paparan yang telah disampaikan dapat disimpulkan:

  1. Penerapan metode Student facilitator and Explaining dalam meningkatkan keaktifan dan pemahaman siswa dimulai dengan membuat RPP, instrumen soal, lembar kerja siswa, dan lembar observasi keaktifan siswa memberikan perhatian, motivasi, respons yang baik, penguatan dan hukuman.
  2. Peningkatan keaktifan dan pemahaman siswa ini ditandai dengan mening-katnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dari 61,5 pada siklus I menjadi 81,4 pada siklus II. Sehingga ketuntasan hasil belajar siswa bertahap dari 48,6% menjadi 100% pada siklus II. Keaktifan siswa juga mengalami peningkatan dari 45% pada siklus I menjadi 70,9% pada siklus II.

1.2 Saran

Penerapan metode Student Facilitator and Explaining ini perlu dikembang-kan pada konsep lain yang memiliki permasalahan yang sama. Pendidik harus memiliki manajemen waktu yang baik agar saat menerapkan metode Student Facilitator and Explaining, yaitu ketika siswa berdiskusi, melakukan persentasi dan tanya jawab, sehingga waktu yang disediakan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh siswa untuk belajar. Apapun yang disampaikan oleh siswa saat berpendapat haruslah menda-patkan penghargaan walau ada kekurangan, karena hal ini membantu siswa untuk memiliki rasa percaya diri saat bertanya maupun meningkat-kan pendapat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Arifin, Muhammad. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Gulo. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Grasindo.

 

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Pembelajaran Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Hamalik, Oemar. 2003. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan

Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Http://smacepiring.wordpress.comp/2008/02/09/19/pendekatan-dan-Metodepem-belajaran/ didownload pada tanggal 10 Mei 2012 pukul 19:20.

 

Joni, Raka. 1992. Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah Melalui Strategi Pembelajaran Aktif (cara Belajar Siswa Aktif) dan Pembinaan Profesional Guru, Kepala Sekolah serta Pembina Lainnya. Jakarta: Rinehart and Wiston.

 

Kesuma, Tri Mastoyo Jati. 2007. Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Carosvatibooks.

 

Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan  Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

 

Miles, MB dan AM Huberman. 1992. Qualitative Data Analysis: a Sourceb of New Methods. SAGE. Baverly Hills.

 

Mulyono, Anton. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Prasetya, Joko Tri. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.

Samadhi. 2009. Pembelajaran Aktif (Active Learning). TIW. 1(1): 46-50.

 

Soekartawi. 1995. Meningkatkan Efektifitas Mengajar. Jakarta: Pustaka Jaya.

 

 

Sukamto. 2000. Penelitian Tindakan (Action Research). Yogyakarta: Universitas

Negeri Yogyakarta (UNY).

 

Saukah, Ali. Dkk. 2012. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Edisi Kelima. Malang: Universitas Negeri Malang.

 

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Sumardjono, Jakob dan Saini KM. 1991. Apresiasi Kesusastraa. Jakarta: Gramedia Pustaka Cipta.

 

Tarigan, Djago. 1997. Pendidikan Keterampilan Berbahasa di Sekolah. Jakarta:

Rineka Cipta.

 

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Indonesa.

 

Yamin, Martinis. 2007.  Kiat Membelajarkan Siswa. Jakarta: Gaung Persada Press

Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s