KAJIAN STRUKTURAL SASTRA (PUISI, DRAMA, DAN CERPEN)

MAKALAH

“KAJIAN SASTRA”

Dosen Pembimbing: Dra. Maria L.A.S., M.Pd

 

Tentang:

Apresiasi dan Kajian Puisi, Cerpen dan Drama

Angkatan 66

 

 

 

Kelompok 4

 

  1. 1.      Yaumil Nuur Fajar             A1B109211
  2. 2.      Yunita Ambarwati              A1B109212
  3. 3.      Alfiati                                    A1B109218
  4. 4.      Rabiatul Hamiah                 A1B109230
  5. 5.      M. Fachrijal Ilmi                  A1B109232
  6. 6.      Arif Sunarya                        A1B109235
  7. 7.      Yayan Rusadi                      A1B109241
  8. 8.      Aditya Destira                      A1B110701

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARMASIN

2011

 

 

  1. A.  PUISI

DOA

Karya: Taufik Ismail

Tuhan kami

Telah nista kami dalam dosa bersama

Bertahun membangun kultus ini

Dalam pikiran yang ganda

Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

Tuhan kami

Telah terlalu mudah kami

Menggunakan asmaMu

Bertahun di negeri ini

Semoga

Kau rela menerima kembali

Kami dalam barisanMu

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

 

APRESIASI

–  Tema                        : meminta ampun Tuhan

–  Amanat                    : mintalah ampun kepada Tuhan atas dosa yang pernah kita lakukan dan tidak mengulanginya lagi.

–  Diksi                         :  Nista: perbuatan yang sangat keji dan berdosa besar

Kultus: penggunaan kata kultus dalam puisi ini menggambarkan sesuatu yang tidak baik, yang dibangun sekelompok orang.

Gaya Bahasa           : a. Repetisi:    (1) Ampunilah, Ampunilah

(2) Tuhan kami, Tuhan Kami

Bertahun membangun kultus ini

Dalam fikiran yang ganda

Telah nista kami dalam dosa bersama

b. Sinekdoke pars pro toto

karena penggunaan Mu digunakan untuk penyebutan keesaan yang dipegang oleh tuhan

Menggunakan asmaMu

Kami dalam barisanMu

–  Rima                         : bebas / tidak beraturan

–  Pencitraan               : pencitraan penglihatan. Kutipan “Dan menutupi hati nurani”

–  Suasana                    : puisi ini menggambarkan suasana yang khusyuk dan tenang dalam berdoa kepada tuhan.

–  Korespondensi        : judul dengan lirik tema dengan amanat

 

  1. B.  CERPEN

 

TUNGGU AKU DI POJOK JALAN ITU

Karya: Iwan Simatupang

 

SINOPSIS

Ketika suami-isteri sedang berjalan berdua, sang suami pergi untuk membeli rokok. Sang isteri menunggunya di pojok jalan. Hari demi hari, sampai sepuluh tahun kemudian, ia kembali ke kota itu. Ternyata sang isteri masih menunggu di pojok jalan itu.

Mereka saling tegur sapa seperti orang yang baru mengenal. Kemudian datang laki-laki lain, isterinya pun segera menghampiri lelaki itu dan berbincang-bincang akrab dengan lelaki itu.

Sang suami cemburu melihat kejadian itu. Tapi dia lihat-lihat isterinya selalu ramah dengan semua laki-laki yang menghampirinya. Ternyata dia baru tahu kalau isterinya sekarang sama saja dengan wanita-wanita lainnya yang pernah ditegurnya di kaki-kai lima. Isterinya sekarang menjadi tuna susila.

APRESIASI

  1. a.      Unsur Intrinsik

–          Isi       

  1. a.      Tema        : Penyesalan yang sia-sia
  2. b.      Amanat    : Pikirkanlah dengan baik sebelum melakukan sesuatu, jangan sampai menyesal dikemudian hari.

–          Bentuk

a)      Alur                                  : alur maju dengan sedikit flash back

b)     Tokoh dan Penokohan   :

  1. 1.      Suami                         :

tidak bertanggung jawab

Kutipan: “Sejak itu, isterinya tidak pernah melihatnya lagi.”

 

  1. 2.      Isteri               :

tidak setia

Kutipan: “Ia cepat berpaling kepada laki-laki lain yang datang menghampirinya.”

cabul

Kutipannya: “Minyak wanginya, pupurnya, cat bibirnya, cat kukunya, gaun dari sutera hijau. Semua dari harga murah dengan hanya tugas, merangsang birahi jalang pada laki-laki.”

  1. 3.      Janda gemuk :

genit

Kutipan: “Ia mengedipkan mata kirinya.”

berbadan gemuk dan berupa jelek

Kutipan: “Hatinya mengutuk perempuan yang gemuk jelek yang tampaknya ingin mengobral kebaikan hati itu.”

c)      Sudut Pandang                : orang ke tiga sebagai pencerita

d)     Latar/setting                    :

  • Waktu                        :

Sore    kutipannya “Selamat Sore,” sapa isterinya.

Malam kutipannya angin malam sangat dingin. Leher bajunya ditegakkan.

Pagi     kutipannya Esok paginya, dengan kereta api pertama…. 

  • Tempat           :

di sebuah kota

kutipannya “Sepuluh tahun kemudian, dia kembali ke kota itu.”

di pojok jalan

kutipannya “Lama ia tegak termangu di bawah lentera pojok jalan itu.”

di persimpangan jalan

kutipannya “Persimpangan jalan yang dihadapi itu sangat membingungkan.”

di ujung kaki lima

kutipannya “Mereka sampai di ujung kaki lima.”

e)      Suasana/ nada                 :

Adegan I Sedih: karena ditinggalkan oleh suaminya yang tidak kunjung kembali.

Adegan II Tegang: saat sang suami bertemu kembali dengan isterinya tapi ternyata isterinya sudah menjadi pelacur.

Adegan III Kekecewaan: ketika suami telah mengetahui bahwa isterinya sekarang telah menjadi pelacur.

f)       Gaya Bahasa                   :

Muka manis                                                           : majas hiperbola

Menyiram kesejukan maaf                                    : majas personifikasi

Hatinya mengutuk                                                            : majas personifikasi

Lurus, dangkal, netral, seperti netralnya keindahan barang-barang dibalik kaca pajangan.                                                               : majas perbandingan

Rasa khas menusuk masuk ke dalam dirinya        : personifikasi

Tajam-tajam memandang dalam mata isterinya    : hiperbola

Menerobos ke lubuk jiwa masing-masing : personifikasi

Bintang-bintang dilangit, yang berkedip              : personifikasi

Gong dalam hati sanubari mereka berbunyi          : hiperbola

Seperti disambar petir di siang bolong                  : perumpamaan

 

  1. b.      Unsur Ekstrinsik

Dalam cerpen ini unsur ekstrinsik yang paling dominan adalah nilai sosial. Karena menceritakan tentang kehidupan seorang suami yang meninggalkan isterinya dan akibat kejadian itu isterinya menjadi seorang pelacur.

PENGKAJIAN

–          Tema                          : suami yang meninggalkan isterinya

Kutipan “ Ia pergi. Sejak itu, isterinya tak pernah melihatnya lagi”

–          Amanat                      : jangan membuat isteri menunggu terlalu lama.

Kutipan “ Aku masih saja… menunggu”

“ Danau biru bening yang ditinggalkannya sepuluh tahun yang lalu…”

“Sinar dari penderitaan selama sepuluh tahun”

 

–          Sudut Pandang          : ia (biasa)

Kutipan “ Ia memburu isterinya”

“ Ia hampiri isterinya”

–          Tokoh Utama             : ia (suami)

Kutipan “ Ia pergi. Sejak itu, isterinya tak pernah melihatnya lagi”

 

–          Suasana/nada                        : dominan sedih

Kutipan “Sinar dari penderitaan…”

Dalam cerpen ini terdapat keterkaitan antara tema, amanat, tokoh, dan sudut pandang, dimana ada seorang suami yang pergi meninggalkan isterinya terlalu lama, sehingga membuat isterinya merasa terpukul.

 

  1. C.  DRAMA

RT NOL RW NOL

Karya: Iwan Simatupang

SINOPSIS

Disebuah kota besar hiruk – pikuk kendaraan yang melintas di atas jembatan yang tidak begitu besar, hidup beberapa orang di bawahnya.  Seorang kakek tinggal di bawah kolong jembatan itu dia adalah mantan klasi kapal, ada pula Si pincang dengan kondisi fisiknya yang kurang telah mencari kerja kemana – mana dan tidak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan, dengan di temani  Ani dan Ina kakak – beradik yang bekerja sebagai  PSK ( Pekerja Seks Komersial ) mereka meratapi kejamnya kota besar.

Yang kemudian membawa sebuah permasalahan pelik diantara mereka, Pincang telah putus asa dengan kehidupan yang Ia alami, karena tidak pernah satu pun ia berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan yang dapat menunjang kebutuhan hidupnya.

Datanglah seorang laki – laki bernama Bopeng, Ia adalah mantan penghuni kolong jembatan tempat tinggal kakek, pincang, Ani dan Ina. Ia telah bekerja di sebuah kapal  sebagai Klasi Kapal, tapi Ia membawa seorang wanita bersamanya yang bernama Ati. Ati adalah sosok wanita yang mencari Suaminya yang entah kemana telah menghilang dan kemudian Ia tersesat dan kehabisan uang untuk pulang ke kampungnya.

Karena iri hati Pincang pun selalu memojokkan Bopeng, karena pada awal bertemu dengan Ati, Bopeng berjanji untuk mengantarkannya pulang ke kampung tetapi karena adanya panggilan kerja sebagai klasi kapal Bopeng mengurungkan niat tersebut.

Setelah pertengkaran argumen antara Si Pincang dan Bopeng, akhirnya kakek pun menengahi pertengkaran mereka, selang beberapa waktu Ani dan Ina pun datang setelah bekerja dengan membawa kabar bahwa mereka akan dinikahi oleh Pria yang menjadi langganan mereka. Akhirnya mereka meninggalkan kolong jembatan yang menjadi tempat mereka tinggal. Disusul oleh bopeng dan Si pincang yang akan berjuang mengantarkan Ati kembali ke kampung halamannya dan berjanji mencari pekerjaan kembali dan menikahi Ati. Akhir cerita Tinggal lah Kakek sendiri di bawah jembatan itu yang mereka semua memberi nama tempat tinggal mereka RT NOL RW NOL.

APRESIASI

  1. 1.      Tema        : Tema dari naskah drama Rt 0/ Rw 0 ini adalah realita sosial perjuangan hidup. Terlihat dari dialog-dialog yang yang idealis dan lebih menonjolkan sikap pantang menyerah.
  1. 2.      Amanat    : Amanat dalam naskah RT NOL RW NOL ini yaitu sebagai manusia harus selalu berusaha dan berjuang dalam menjalani hidup tanpa ada keputusasaan dalam hidup.
  1. 3.      Alur          : Adapun alur yang terdapat pada drama RT NOL RW NOL adalah alur maju atau alur lurus. Dimana penulis naskah drama menceritakan dari awal mula adegan sampai pada akhir adegan.
  1. 4.      Latar        : Latar yang terdapat pada drama ini terdapat latar tempat dan latar waktu. Latar tempat yang terdapat pada drama ini berlatar dibawah jembatan besar. Penulis naskah ini dengan jelas menuliskan latar yang terdapat dalam drama ini.

 

  1. 5.      Sudut pandang: orang pertama dan orang ketiga.

 

  1. 6.      Suasana    :

 

–          Tegang

Kutipan: “Kalau maksudmu, bahwa gara-gara ucapanku yang barusan kita terpaksa berkelahi. Ayo berkelahi!”

–          Bahagia

Kutipan: “Aku berharap, suatu hari dapat melihat kau lewat, naik becak suamimu, kau dan anakmu sehat dan montok-montok. Selamat jalan, Nak.”

  1. 7.      Tokoh dan Penokohan :
    1. 1.      Kakek             :

Bijaksana

Kutipannya : “Jangan bingungkan dirimu lebih lama lagi dalam kerangka-kerangka kata-kata mu yang meawang itu.”

Penyabar

Kutipannya: “kelenggangan disebabkan perpisahan, terkadang lebih parah dari kematian sendiri. Mengapa pula kita, manusia-manusia gelandangan, berbuat seolah tak mengerti itu?”

  1. 2.      Pincang          : Pemarah

Kutipannya: “Apa aku harus menutup mulutku terus? Mengapa setiap ucapanku kau anggap sebagai cari fasal saja?”

  1. 3.      Ani                  :

Keras kepala

Kutipannya: “Semuanya itu akan kami nikmati mala mini. Cara apapun akan kami jalani, asal kami dapat menemukannya malam ini. Ya, mala mini juga!”

Pantang menyerah

Kutipannya: “Terus, pantang mundur! Kita bukan dari garam, kan?”

  1. 4.      Bopeng           : Rendah Hati

Kutipannya: “Sabar. Rokok sungguhpun ada. Malah sebungkus utuh.”

  1. 5.      Ina                  : Penyabar

Kutipannya: “Sudahlah Kak. Hujan atau tak hujan, kita tetap keluar.”

  1. 6.      Ati                   : Pemalu

Kutipannya: “Malu Kek. Kami berangkat dari sana dengan pesta dan doa. Segala pakaian dan perhiasan emasku didalamnya, telah dia bawa kabur.”

Hal ini dapat terlihat dari paparan penulis dari naskah tersebut.

….KAKEK
Rupa-rupanya, mau hujan lebat.

PINCANG (Tertawa)
Itu kereta-gandengan lewat, kek!

KAKEK
Apa?

PINCANG
Itu, truk yang pakai gandengan, lewat.

KAKEK (Menggeleng-Gelengkan Kepalanya, Sambil Mengaduk Isi Kaleng Mentega Di Atas Tungku)
Gandengan lagi! Nanti roboh jembatan ini. Bukankah dilarang gandengan lewat di sini.

ANI
Lalu?

KAKEK
Hendaknya, peraturan itu diturutlah. ….

 

              …. HUJAN TELAH REDA. KEMBALI JELAS DERU-DERU LALU LINTAS DI ATAS JEMBATAN. MASUK BOPENG DAN ATI.

BOPENG
Belum tidur kalian?

PINCANG
Hm, lambat juga kau pulang kali ini.

KAKEK
Ada puntung?

BOPENG (Tertawa)
Sabar. Rokok sungguhanpun ada. Malah sebungkus utuh. Juga aku bawa nasi rames empat bungkus.

KAKEK
Na… nasi rames? Kau kan tak merampok hari ini?

BOPENG (Tertawa)
Syukur, belum sejauh itu aku perlu merendahkan diriku, Kek.

 

Hingga pada akhir adegan terlihat jelas bahwa alur cerita adalah alur lurus.


KEDENGARAN SESEKALI DERU LALU LINTAS DI ATAS JEMBATAN. BUNYI-BUNYI MALAM DARI JANGKRIK, KODOK, DLL, DI BAWAH JEMBATAN.

ATI (Setelah Lama Hening)
Mengapa Abang ini harus pulang pergi mengantarkan aku?

KAKEK (Curiga)
Apa maksudmu?

ATI
Eh, apa salahnya dia tinggal sambil istirahat sebentar di kampungku. Siapa tahu, di sana ada kerja yang cocok untuknya.

KAKEK (Setelah Menyenggol Pincang Keras-Keras Dengan Sikunya Di Samping)
Akur! Aku setuju banget, dia tinggal dulu sekedar istirahat di sana, asal saja orang tuamu setuju di sana, sudah tentu.

Kutipan ALUR

KOLONG SUATU JEMBATAN UKURAN SEDANG, DI SUATU KOTA BESAR. PEMANDANGAN BIASA DARI SUATU PEMUKIMAN KAUM GELANDANGAN. LEWAT SENJA. TIKAR-TIKAR ROBEK. PAPAN-PAPAN. PERABOT-PERABOT BEKAS RUSAK. KALENG-KALENG MENTEGA DAN SUSU KOSONG. LAMPU-LAMPU TOMPLOK.
DUA TUNGKU, BERAPI. DI ATASNYA KALENG MENTEGA, DENGAN ISI BERASAP. SI PINCANG MENUNGGUI JONGKOK TUNGKU YANG SATU, YANG SATU LAGI DITUNGGUI OLEH KAKEK. ANI DAN INA, DALAM KAIN TERLILIT TIDAK RAPIH, DAN KUTANG BERWARNA, ASYIK DANDAN DENGAN MASING-MASING DI TANGANNYA SEBUAH CERMIN RETAK. SEKALI-KALI KEDENGARAN SUARA GEMURUH DI ATAS JEMBATAN, TANDA KENDARAAN BERAT LEWAT. SUARA GEMURUH LAGI.

kutipan TEMA

INA
Abang selama ini telah banyak bercerita padaku tentang masa depan, tentang cita-cita dan bahagia. Tapi, aku sedikitpun tak ada melihat, bahwa Abang sungguh-sungguh ingin menebus kata-kata itu dengan perbuatan. Terus terang saja, Bang, aku memang selalu mengagumi ucapan-ucapan Abang. Sungguh dalam-dalam maknanya! Dan kata-kata, dengan mana Abang mengatakannya sungguh lain dari yang lain. Bermalam-malam aku, tergolek di samping Abang (Suara Batuk-Batuk Kakek), melanturkan angan-anganku menerawang entah kemana: Ah, sekiranya betullah semua yang diucapkan laki-laki pujaanku ini, aku pastilah jadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.

Tapi, dengan hati yang pedih aku dari hari kehari melihat, dan mengalami, bahwa semua ucapan Abang itu bakal tetap tinggal cuma kata-kata saja. Aku melihat pada diri Abang semacam kejanggalan laku dan sikap untuk berbuat, untuk bertindak. Abang gamang berbuat sesuatu. Abang adalah manusia khayal dan kata-kata semata, dan asing sekali di bumi dari otot-otot, debu, deru dan keringat berkucuran. Semula masih ada harapanku diam-diam, bahwa Abang pada suatu hari akan mengungkapkan diri Abang sebagai seorang pengarang. Tapi, alangkah kecewanya aku melihat, betapa Abang telah menghambur-hamburkan kerangka karangan-karangan Abang itu dalam percakapan-percakapan kecil tentang kisah-kisah kecil yang menjemukan di kolong jembatan ini. Ya, kolong jembatan ini telah membunuh dan mengubur tokoh pengarang pada diri Abang itu. Dan aku, gelandangan biasa saja, yang diburu oleh sekian kekurangan dan kenangan buruk di masa yang lampau, aku tak mampu lagi mencernakan kata-kata Abang itu sebagaimana mestinya. Walhasil, bagiku Abang adalah seorang aneh, tak lebih dan tak kurang dari seorang parasit…

Dan bila aku tadi menerima lamaran bang becak itu, maka itu berarti, bahwa belum tentu aku mencintainya; itu berarti, bahwa pada hakekatnya aku masih tetap pengagum kata-katamu yang dalam-dalam maknanya itu. Tapi juga, Bang, bahwa aku lebih gandrung akan kepastian, kenyataan dan kejelasan. Bukannya aku tak sadar, apa dan bagaimana nasib seorang isteri dari seorang bang becak. Mungkin aku bukan isterinya satu-satunya. Mungkin aku akan berhari-hari tak melihat dia, tak menerima uang belanja. Mungkin tak lama lagi aku bakal jadi perawat dia yang sudah teruk dan tak kuat lagi menarik becaknya, batuk-batuk darah. Tapi, itu semuanya rela kuterima, Bang, demi – dapatnya aku memiliki sebuah kartu penduduk! (Menangis) Kartu penduduk, yang bagiku berarti: berakhirnya segala yang tak pasti. Berakhirnya rasa takut dan dikejar-kejar seolah setiap saat polisi datang untuk merazia kita, membawa kita dengan truk-truk terbuka keneraka-neraka terbuka yang di koran-koran disebut sebagai “taman-taman latihan kerja untuk kaum tuna karya”. Gambar kita di atas truk terbuka itu dimuat besar-besar di koran. Tapi, kemudian koran-koran bungkem saja mengenai penghinaan-penghinaan yang kita terima di sana. Kemudian kita dengan sendirinya berusaha dapat lari dari sana, untuk kemudian terdampar lagi di tempat-tempat seperti ini. Tidak, Bang! Mulai sekarang, aku mengharapkan tidurku bisa nyenyak, tak lagi sebentar-sebentar terkejut bangun, basah kuyup oleh keringat dingin.

Kemudian dialog dari si Pincang 

PINCANG
Ya, aku telah bertekad ingin memulai segala-galanya dengan benar-benar suci bersih. Aku besok mengantarnya kesana dengan tidak sedikitpun anggapan sebagai calon menantu seperti yang kalian gambarkan tadi. Apa alasanku untuk menganggap begitu saja, bahwa orang tuanya secara otomatis bakal menerima aku sebagai menantunya? Kemungkinan, bahkan hak penuh mereka untuk menolak aku, tetaplah ada dan ada baiknya sejak semula ikut diperhitungkan. Ya, aku ingin kesana, tapi dengan patokan bermula: aku benar-benar ingin kerja. Kembali kerja! Kembali merasakan keutuhan dan kedaulatan tubuhku di dalam teriknya matahari, dengan kesadaran bahwa butir-butir keringatku yang mengucur itu adalah taruhanku untuk sesuap nasi yang halal. Soal menantu, kawin, cinta… ah, hendaknya aku diperkenankan kiranya tidak dulu mempunyai urusan apa-apa dengan itu semuanya. Kerangka-kerangka yang disebut Ina tadi, ingin kukubur… setidaknya untuk sementara dulu. Aku ingin mengembalikan seluruh kedirianku kembali kekesegarannya semula, yang dulu… entah telah berapa puluh tahun yang lalu, telah hilang… oleh salahku sendiri. Aku harap, Ina, maupun orang tuanya, sudi memandang diriku dalam kerangka persoalan seperti ini, dan tidak menganggap aku di sana sebagai lebih dari itu. Aku datang sebagai pelamar kerja, pelamar keadaan dan kemungkinan hidup yang baik kembali. (Suaranya Turun, Nafasnya Satu-Satu) Sudah tentu, sudah tentu… kalian berhak menolak lamaranku…

 

Dan dialog dari Kakek

KAKEK

Ah, kau tak tahu apa arti kolong jembatan ini dalam hidupku. Sebagian dari hidupku, kuhabiskan di sini. Memang, dia milik siapa saja yang datang kemari karena rupa-rupanya memang tak dapat berbuat lain lagi. Ia milik manusia-manusia yang terpojok dalam hidupnya. Yang kenangannya berjungkiran, dan tak tahu akan berbuat apa dengan harapan-harapan dan cita-citanya. Yang meleset menangkap irama dari kurun yang sedang berlaku. (KEMBALI MENGUAP) Pada diriku, semuanya yang kusebut tadi itu terdapat saling tindih menindih, berlapis-lapis, dan sebagai selaput luarnya yang makin keras: usiaku yang semakin tua! Semakin tua kita, semakin lamban kita, semakin keluar kita dari rel… dan akhirnya: dari tuna karya, kita jadi tuna hidup. Selanjutnya, tinggallah lagi kita jadi beban bagi kuli-kuli kotapraja yang membawa mayat kita ke RSUP. Apabila kita mujur sedikit, maka pada saat terakhir mayat dan tulang-tulang kita masih dapat berjasa bagi ilmu urai kedokteran, menjadi pahlawan-pahlawan tak dikenal bagi kemanusiaan. (MENGUAP) Ah, selamat malam…

 

AMANAT

Bisa dilihat dari dialog berikut.

PINCANG

Ya, aku telah bertekad ingin memulai segala-galanya dengan benar-benar suci bersih. Aku besok mengantarnya kesana dengan tidak sedikitpun anggapan sebagai calon menantu seperti yang kalian gambarkan tadi. Apa alasanku untuk menganggap begitu saja, bahwa orang tuanya secara otomatis bakal menerima aku sebagai menantunya? Kemungkinan, bahkan hak penuh mereka untuk menolak aku, tetaplah ada dan ada baiknya sejak semula ikut diperhitungkan. Ya, aku ingin kesana, tapi dengan patokan bermula: aku benar-benar ingin kerja. Kembali kerja! Kembali merasakan keutuhan dan kedaulatan tubuhku di dalam teriknya matahari, dengan kesadaran bahwa butir-butir keringatku yang mengucur itu adalah taruhanku untuk sesuap nasi yang halal. Soal menantu, kawin, cinta… ah, hendaknya aku diperkenankan kiranya tidak dulu mempunyai urusan apa-apa dengan itu semuanya. Kerangka-kerangka yang disebut Ina tadi, ingin kukubur… setidaknya untuk sementara dulu. Aku ingin mengembalikan seluruh kedirianku kembali kekesegarannya semula, yang dulu… entah telah berapa puluh tahun yang lalu, telah hilang… oleh salahku sendiri. Aku harap, Ina, maupun orang tuanya, sudi memandang diriku dalam kerangka persoalan seperti ini, dan tidak menganggap aku di sana sebagai lebih dari itu. Aku datang sebagai pelamar kerja, pelamar keadaan dan kemungkinan hidup yang baik kembali. (Suaranya Turun, Nafasnya Satu-Satu) Sudah tentu, sudah tentu… kalian berhak menolak lamaranku…

Korespodensi/ keterkaitan antara “tema, amanat dan tokoh”

Disini sudah sangat jelas dijelaskan sebelumnya pada pembagian unsur intrinsik, bahwa tema yang diangkat yaitu Kehidupan dan adat istiadat penari ronggeng, diambilnya tema ini tentunya berdasarkan kejadian yang dialami oleh tokoh-tokoh yang ada pada novel, terutama tokoh utama yang harus menjalani kehidupannya dan melaksanakan syarat-syarat untuk menjadi seorang ronggeng yang sah berdasarkan budaya sebelumnya. Kemudian disini diambilnya amanat Jalani lah kehidupan dengan sebaik-baiknya, walaupun harus mengambil resiko yang tinggi. Juga merupakan kaitan dari tema dan yang dialami oleh tokoh utama, dimana disaat kita sudah mengambil keputusan, maka jalani lah keputusan yang sudah diambil itu dengan melakukan sebaik-baiknya tanpa mengenal seberapa besar resiko yang akan kita peroleh. Karena keputusan yang kita ambil pasti merupakan keputusan yang terbaik dari pilihan-pilihan yang ada.

Korespondensi          : Dapat kita pahami dan maknai sendiri, puisi ‘sorga’ ini tentunya saling memiliki keserasian antara judul, tema, isi dan amanat. Disini dapat kita buktikan dengan beberapa lirik yang menyangkut judul beserta dengan amanatnya.
Judul : sorga.
Lirik yang mendukung sebuah judul :
Aku minta pula supaya sampai di sorga
Yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
Dan bertabur bidadari beribu

                                      Tema : Keindahan sorga
Amanat yang berkaitan dengan judul, tema beserta liriknya :
Sorga pasti kita peroleh, selama kita terus melakukan kebaikan dan selalu mengingat Sang Kuasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s