Artikel Ilmiah

MAKNA DAN FUNGSI MAJAS PLEONASME DALAM NOVEL LELAKI TERINDAH

ABSTRAK

Kata kunci: Makna dan Fungsi majas pleonasme dalam novel lelaki teridah.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis majas pleonasme yang digunakan oleh pengarang sebagai ungkapan ekspresinya dalam novel “Lelaki Terindah” karya Andrei Aksana.

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis hal-hal yang berkenaan dengan:

  1. Makna majas pleonasme yang digunakan pengarang dalam novel tersebut, dan
  2. Fungsi majas pleonasme tersebut berdasarkan pemahaman penulis.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriftif, yang meliputi pengumpulan data, klasifikasi data, dan analisis data dalam novel “Lelaki Terindah.”

Data-data yang diperlukan diolah dengan cara mendeskripsikan penggunaan majas pleonasme yang digunakan pengarang.

Berdasrkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengarang dalam menuliskan novel “Lelaki Terindah” menggunakan majas pleonasme dari jumlah 219 halaman yang disajikan terdapat 46 buah majas pleonasme, dengan tujuan untuk memperkuat gagasan atau ide cerita, sehingga tampilan cerita lebih hidup dan menakjubkan bagi penikmat sastra.

Makna penggunaan majas pleonasme untuk mempertegas gagasan atau ide cerita yang ditampilkan, sehingga cerita lebih menarik bagi pembacanya.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Karya sastra diciptakan untuk dinikmati oleh manusia. Bahkan sastra telah menjadi bagian dari pengalaman hidup manusia yang dimanfaatkan sepenuhnya bagi penikmat karya sastra tersebut. Kita tahu bahwa karya satara merupakan hasil ekspresi pengalaman batin pencitanya, sehingga ada saja orang yang menjadikan karya sastra sebagai alat ubtuk mendidik dan mengajar, mengingat dalam karya sastra berisi sarat dengan nilai-nilai dan moral.

Dalam sebuah karangan yang berbentuk karya sastra, penggunaan bahasa memiliki fungsi ganda. Bahasa yang digunakan bukan hanya sekadar penyampaian ide-ide pengarang, melainkan juga sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan pengarang. Seorang pengarang membeberkan cerita tidak hanya memberi tahu pembaca atau penikmat tentang apa yang dialami oleh tokoh cerita. Untuk itulah, maka pengarang akan selalu memilih kata-kata sedemikian rupa sehingga mewakili gagasan sekaligus persoalaan-persoalan dan perasaan yang terkandung didalamnya. Untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu itu, pengarang menempuh cara berbeda dengan apa yang biasa kita temukan dalam bahasa sehari-hari, pengarang akan menggunakan kata-kata dan menyusunnya menjadi kalimat yang bergaya.

Cara-cara yang ditempuh untuk hal tersebut antara lain dengan menggunakan perumpamaan, menghidupkan benda-benda mati, melukiskan sesuatu dengan lukisan yang tidak sewajarnya dan dengan perulangan. Oleh karena itu, dalam karya sastra sering dijumpai pemakaian kalimat-kalimat khusus yang dikenal dengan sebutan majas dengan aneka jenisnya.

Seperti halnya puisi, novel juga mengandung sejumlah majas yang sengaja di gunakan pengarang. Dengan pemilihan kata tertentu sehingga menimbulkan efek tertentu pula. Oleh karena itu, persoalan majas menyangkut banyak hal sesuai dengan dampak tertentu yang ingin dimunculkan pengarang dalam karyanya tersebut.

Sebagai pembangun unsur karya sastra, majas merupakan persoalan yang cukup penting untuk dibahas.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Majas Pleonasme

Sebuah unsur yang membangun kesan estetik dalam sebuah karya sastra ialah majas atau gaya bahasa. Kedudukan majas dalam karya sastra dapat menciptakan dan menimbulkan sesuatu yang apa adanya menjadi luar biasa dan yang sederhana menjadi mempesona. Ibarat seorang perempuan yang cantik kalau didandani, maka semakin menarik dan semakin mempesona penampilannya. Seperti dandanan itulah keberadaan majas pada setiap karya sastra yang berkualitas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990 : 235) “Majas adalah cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan baik lisan maupun tulisan.”

Falah (1996 : 34) mengatakan “gaya bahas atau majas adalah cara seorang pengarang dalam melukiskan suatu hal dengan menggunakan bahasa sebagai alat untuk melahirkan perasan dan pikiran sehingga dapat menimbulkan efek estetis.”

Tarigan, (1985:113) mengatakan majas adalah cara mengungkapkan gagasan atau pikiran melalui bahasa yang indah atau dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan membandingkan dengan suatu benda dengan benda yang lain.

Majas pleonasme adalah majas yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan (alfiansyah, 2009)

Pengertian pleonasme merupakan satu majas dalam bahasa Indonesia. Pleonasme adalah majas yang menambahkan keterangan pada keterangan yang sudah jelasatau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. Pleonasme termasuk dalam kategori majas penegasan.

Makna Majas Pleonasme

Pada umumnya makna kata dibedakan atas makna yang bersifat denotatif dan konotatif. Kata yang tidak mengandung makna atau perasaan tambahan disebut kata denotatif, atau maknanya disebut makna denotatif. Sedangkan makna kata yang mengandung arti tambahan, perasaan tertentu, atau nilai rasa tertentu di samping makna dasar yang umum, dinamakan makna konotatif atau konotasi.

Fungsi Majas Pleonasme

Seperti telah dikemukakan diatas, bahwa gaya bahasa merupakan bagian unsur terpenting dari bahasa sastra yang pada dasarnya tidak sama dengan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Gaya bahasa pada umumnya memiliki fungsi untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui bahasa yang retoris, indah dan memiliki seni, baik secara tersirat maupun tersurat untuk menimbulkan efek estetis.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi majas atau gaya bahasa adalah mempertegas idea tau gagasan pikiran, perasaan pengalaman secara halus, dramatis, tajam, mengharu biru dan menggigit guna meyakinkan pembaca mengenai apa yang ingin disampaikan pengarang, sesuai dengan pemahaman dan penafsiran pembaca dan penikmat sastra yang variatif serta memperkuat tema yang mengacu pada berbagai persoalan kompleks yang disorot pengarang dalam karyanya.

Pleonasme juga di samping menambah keindahan suatu cipta sastra, juga berperan dalam rangka menambah ranah suku kata yang disajikan dengan padanan kata, sehingga arti dan makna yang tersembunyi dari sebuah cipta sastra semakin mempesona pembaca. Dengan demikian majas pleonasme walaupun diartikan dengan penggunaan kata yang mubazir, namun menambah keindahan suatu cipta sastra.

Fungsi majas pleonasme adalah dapat memperkuat karakter tokoh, memperkuat alur cerita yang disajikan, memperkuat tema dari cerita, serta memperkuat gagasan atau ide dari cerita.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan  Penelitian

Sebuah karya ilmiah harus memiliki tujuan agar proses penelitiannya dapat terarah dengan baik. Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai terbagi atas dua bagian, yakni tujuan umum dan khusus.

 

Tujuan Umum:

Secara unum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis majas pleonasme yang digunakan oleh pengarang sebagai ungkapan ekspresinya dalam novel “Lelaki Terindah” karya Andrei Aksana.

 

Tujuan Khusus:

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis hal-hal yang berkenaan dengan makna majas pleonasme yang digunakan dalam novel “lelaki Terindah” dan fungsi majas pleonasme berdasarkan pemahaman penulis.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan wawasan aspek literatur bagi mahasiswa atau pelajar. Dalam studi sastra diperlukan bahan-bahan yang menyangkut telaah literatur sastra agar dapat dijadikan pedoman untuk telaah selanjutnya terhadap karya tersebut, sedangkan terhadap pengajaran sastra disekolah, penelitian ini dimanfaatkan sebagai masukan untuk bahan pengajaran sastra yang masih sangat terbatas, terutama yang berhubungan dengan aspek yang bersifat apresiatif.

 

 

 

 

 

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Analisis Pleonasme Novel Lelaki Terindah Karya Andrei Aksana

Pleonasme adalah majas berupa pemakaian kata yang mubazir atau berlebihan yang sebenarnya tidak perlu. Berikut akan disajikan sedikit majas pleonasme yang terdapat dalam  novel Lelaki Terindah.

Tubuhnya cadas menantang badai. Tubuhnya baja tak tembus peluru. Sekuat itu, sekokoh itu (hal. 13). Majas pleonasmenya adalah menantang badai, tak tembus peluru. Maknanya: Menceritakan tentang sosok seorang pemuda yang gagah dan tampan dan penuh pendirian, merupakan sosok yang dikagumi oleh semua orang  dan membuat iri bagi pemuda lain yang melihatnya. Fungsinya: memberikan kiasan tentang seorang pemuda yang penuh kesempurnaan, baik fisik maupun materi.

            Tulang-tulangnya begitu tegas, sekeras otot-otot yang menyembul di lengan dadanya (hal. 15). Majas pleonasmenya adalah tegas dan keras. Maknanya: menggambarkan otot tubuuh yang keluar dengan bentuk badan yang indah berotot. Fungsinya: untuk memberikan gambaran tentang keperkasaan.

            Kepedihan yang menyeruak karena luka teramat dalam, dan duka yang telah sekian lama terpendam (hal. 16). Majas pleonasmenya adalah luka, duka. Maknanya: menggambarkan kepedihan yang dialami oleh seorang pemuda, kepedihan yang teramat dalam. Fungsinya: memperkaya perbendaharaan kata mengenai keadaan kepedihan yang dalam dari seorang pemuda.

            Aku tercengang, seperti ditampar hujan topan. Meniupku terseret mundur menjauhinya (hal. 17). Majas pleonasmenya adalah topan, meniup. Maknanya: menggambarkan pemaksaan hati yang membuat seseorang pemuda terpaut dan tidak bisa lepas lagi. Fungsinya: memperkaya atau mengembangkan ide dan gagasan cerita.

Tetaplah duduk di situ. Jangan pernah menyebrangi jarak diantara kita. . . .(hal. 21). Majas pleonasmenya adalah menyebrangi, jarak. Maknanya: jangan duduk terlalu jauh. Fungsinya: mengembangkan pikiran dan perasaan melalui bahasa retoris, indah dan bersemi secara tersirat maupun tersurat untuk melukiskan perhatian yang dalam terhadap seseorang.

Kita hanyalah kanak-kanak yang dilarang bermain di luar rumah supaya tidak kotor dan cedera di dalam lebih aman meski hanya makan nasi dan teri (hal. 28). Maknanya: menggambarkan sosok yang jarang pergi keluar rumah. Fungsinya: memperkaya atau mengembangkan ide dan gagasan dalam cerita.

Telapak tangan itu begitu halus, lembut, licin, mengingatkan Rafky pada guci porselin di ruang tengah rumahnya (hal. 33). Maknanya:menggambarkan kehalusan dan kelembutan serta keindahan kulit seorang laki-laki yang bernama Valent. Fungsinya: untuk memperkuat idea tau gagasan  terhadap alur cerita yang disajikan.

Terbuat dari apakah hatinya? Rafky mengira-ngira. Besi yang lumer oleh bara? Bukankah sudah berkali-kali aku tidak mengubrisnya….(hal. 34). Maknanya: menggambarkan dari keadaan Valent yang lemah, namun ada kekuatan yang sulit diterka. Fungsinya: memperkaya atau mengembangkan ide dan gagasan atau tema  cerita.

Aku bersembunyi di dalam gelap dirimu. . . . Aku terperangkap tapi tak pernah tersesat. . . .(hal. 38). Maknanya: melukiskan hati yang sudah terikat dengan seseorang. Penulis menggunakan majas ini untuk melukiskan betapa seseorang yang jatuh cinta akan sangat sulit menghilangkannya. Fungsinya: untuk menguatkan gagasan atau ide dalam cerita yang disajikan, sehingga membuat keindahan bahasa yang ditampilkan.

Ketika engkau berganti kita. Ketika dua menjadi satu. Tak ada lagi berapa dan siapa diantara. Hanya ada kita (hal. 48). Maknanya melukiskan pertautan antara dua insan yang saling jatuh cinta, sehingga tidak ada lagi dinding pemisah setelah mereka menginap bersama-sama di hotel pada saat liburan. Pengarang menggunakan kata ini untuk mempertajam maknanya. Fungsinya: untuk memperkaya atau mengembangkan gagasan cerita.

Aku ingin menggandeng tanganmu, disaat aku ragu. Aku ingin lari ke dalam dekapanmu, disaat aku takut… aku ingin membaca peristiwa, diantara helai rambutmu yang memutih…. Aku ingin memahami hidup, disetiap kerut wajahmu (hal. 56). Maknanya: menggambarkan keinginan tokoh yang bernama Valent yang selalu ingin bersama pemuda tampan bernama Rafky. Fungsinya: untuk memperkuat ide dan gagasannya.

Hanya engkaulah yang terindah. Diantara semua lelaki yang indah . . . . (hal. 71). Maknanya: menggambarkan keindahan, kesempurnaan yang tiada tara dari seorang lelaki yang dikagumi dibandingkan dengan lelaki lain yang ada. Pengarang menggunakan majas ini untuk melukiskan alur cerita untuk menggambarkan begitu sempurnanya lelaki yang bernama Rafky. Fungsinya: agar cerita lebih menarik.

Pasung aku dalam pikiranmu, melihat dengan matamu, berkata dengan mulutmu (hal. 80). Maknanya: memberikan jiwa dan raganya kepada orang yang dicintai, hingga membuat tak berdaya dengan dirinya sendiri. Fungsinya: memperkaya atau menyampaikan ide serta gagasan atau tema cerita agar cerita lebih menarik.

Dan malam yang padam, menyulut gairah dihati yang remuk redam (hal. 82). Maknanya: suasana malam yang sangat menyedihkan dan seakan-akan membuat tidak berdaya lagi. Fungsinya: membuat pembaca terbius akan untaian kata yang diberikan.

Dalam malam yang terbakar gelap (hal. 124). Maknanya: menggambarkan suasana malam yang sangat gelap dan sunyi. Fungsinya: menambah dan menegaskan suasana malam yang sangat gelap.

Akhirnya mereka makan berhadapan tanpa berbicara sepatah katapun (hal. 150). Maknanya: menggambarkan tak ada komunikasi. Fungsinya: memperkaya ide dan gagasan.

Pembahasan

Novel Lelaki Terindah Karya Andrei Aksana berjumlah 219 lembar. Berdasarkan hasil analisis tentang kandungan majas pleonasme ditemukan sebanyak 46 buah.

Pengarang menggunakan majas pleonasme untuk mempertegas gagasan atau ide dalam cerita agar tampilan lebih menarik pembaca. Penggunaan majas ini menimbulkan keindahan tersendiri bagi para peminat novel, sehingga pembaca selalu ingin melahap semua kata-kata yang disajikan pengarang.

Pengarang penuh imajinasi dalam menuangkan kata-kata, sehingga setiap kosakata yang ditampilkan mengandung makna yang dalam dan hiburan yang memuaskan, khususnya bagi petualang pembaca novel.

Makna majas yang disajikan pengarang untuk menampilkan sosok keperkasaan seorang pemuda tokoh utama cerita yang bernama Rafky, sehingga kesan pembaca sangat jelas tergambar bagaimana sosok Rafky dalam tokoh cerita novel Lelaki Terindah.

Jadi penggunaan majas pleonasme oleh pengarang novel Lelaki Terindah menimbulkan keindahan gaya bahasa yang ditampilkan dengan tujuan untuk menarik minat baca para pembaca novel, yang mengakibatkan pembacanya seolah-olah ikut terbawa kedalam alur cerita atau sebagai pelaku cerita. Dengan demikian, liku-liku cerita yang ditampilkan selalu dengan jelas dihayati. Karena seolah menjadi peran utama dalam tokoh cerita tersebut.

 

 

 

 

Simpulan

Pengarang dalam menuliskan novel “Lelaki Terindah” menggunakan majas pleonasme dari sejumlah 219 lembar yang disajikan, terdapat 46 buah majas pleonasme, dengan tujuan untuk memperkuat gagasan atau ide cerita, sehingga tampilan cerita bernuansa hidup dan menakjubkan bagi penikmatnya.

Berdasarkan penggunaan majas pleonasme dalam novel Lelaki Terindah karya Andrei Aksana dapat diketahui bahwa majas yang digunakan berfungsi untuk memperkaya ide, mengembangkan gagasan dan pikiran serta perasaan melalui bahasa retoris yang indah dan bersemi baik tersirat maupun tersurat, memperkaya imajinasi dalam pikiran dan perasaan terhadap disiplin diri untuk mencapai tujuan, memperkuat ide tau gagasan terhadap alur cerita yang disampaikan, membuat pembaca terbius akan untaian kata yang diberikan dan memperkuat alur yang digambarkan.

Makna majas pleonasme dalam novel Lelaki Terindah karya Andrei Aksana, untuk mempertegas gagasan atau ide dalam cerita dan untuk menciptakan alur cerita yang menarik, sehingga pembaca merasa puas dengan karya sastra yang ditampilkan pengarang.

Saran

Penelitian ini terfokus pada majas pleonasme yang memperkuat cerita dalam novel “Lelaki Terindah” karya Andrei Aksana. Dengan demikian, masih banyak lagi aspek-aspek yang terdapat dalam novel tersebut dan sebagai bahan untuk diteliti, terutama tentang gaya bahasanya.

Peneliti juga menyarankan agar yang lain dapat meneliti aspek-aspek sastra yang lain dalam novel “Lelaki Terindah” ini, karena cerita didesain oleh pengarang penuh dengan gaya bahasa yang menarikuntuk diketahui lebih dalam lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Aksana, A. 2007. Lelaki Terindah. Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi.

Alfiansyah, 2009. Definisi, Pengertian dan Contoh Majas Pleonasme.                                 http://id.wikipedia.org/wiki/Majas diakses tanggal 15 April 2010.

Depdiknas, 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, PN Balai pustaka.

Djajasudarma, Fatimah. 1993. Metode Linguistik. Bandung: Eresco

Kridalaksana, 1994. Mengembangkan Minat dan Kebiasaan Membaca

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s