Kajian Semiotik terhadap Puisi ”Cintaku Jauh di Pulau” Chairil Anwar

Nama  : ARIF SUNARYA

NIM  : A1B109235

Kajian Semiotik terhadap Puisi

”Cintaku Jauh di Pulau” Chairil Anwar

Pengertian Kajian Semiotik

Dari segi istilah, semiotik berasal dari kata Yunani kuno “semeion” yang berarti tanda atau “sign” dalam bahasa Inggris. Semiotik merupakan ilmu yang mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan komuniasi dan ekspresi. Sehubungan dengan sastra, semiotik secara khusus mengkaji karya sastra (termasuk puisi) yang dipandang memiliki system tersendiri yang harus dikaitkan dengan masalah seperti ekspresi, bahasa, situasi, symbol, dan gaya.

Semiotik menjadi satu istilah untuk kajian sastra yang bertolak dari pandangan bahwa semua yang terdapat dalam karya sastra (termasuk puisi) merupakan lambing-lambang atau kode-kode yang mempunyai arti atau makna tertentu. Arti atau makna itu berkaitan dengan sistem yang dianut. Pengetahuan tentang kehidupan masyarakat tidak dapat diabaikan dalam kajian semiotik.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kajian semiotik merupakan kajian terhadap tanda-tanda secara sistematis yang terdapat dalam karya sastra termasuk puisi­). Ada dua hal yang berhubungan dengan tanda, yakni yang menandai/penanda yang ditandai/penanda. Hubungan antara tanda dengan acuannya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu;

  1. Ikon

Ada kemiripannya antara acuannya dengan tanda. Tanda tersebut memamng mirip dengan acuannya atau merupakan gambar/arti langsung dari petanda. Misalnya, foto merupakan gambaran langsung dari yang difoto. Ikon masih dapat dibedakan atas dua macam, yakni ikon tipologis, kemiripan yang tampak disini adalah kemiripan rasional. Jadi, di dalam tanda tampak juga hubungan antara unsure-unsur yang diacu, contohnya susunan kata dalam kalimat, dan ikon metaforis, ikon jenis ini tidak ada kemiripan antara tanda dengan acuannya, yang mirip bukanlah tanda dengan acuan melainkan antara dua acuan dengan tanda yang sama, kata kancil misalnya, mempunyai acuan ‘binatang kancil’ dan sekaligus ‘kecerdikan’.

  1. Indeks

Istilah indeks berarti bahwa antara tanda dan acuanya ada kedekatan ekstensial. Penanda merupakan akibat dari petanda (hubungan sebab akibat). Misalnya, mendung merupakan tanda bahwa hari akan hujan; asap menandakan adanya api. Dalam karya sastra, gambaran suasana muram biasanya merupakan indeks bahwa tokoh sedang bersusah hati.

  1. Simbol

Penanda tidak merupakn sebab atu akibat dan tidak merupakan gambaran langsung dari petanda, tetapi hubungan antara tanda dan acuannya yang telah terbentuk secara konvensional. Jadi sudah ada persetujuan antara pemakai tanda dengan acuannya. Misalnya, bahasa merupakan simbol yang paling lengkap, terbentuk secara konvensional, hubungan kata dengan artinya dan sebagainya. Ada tiga macam simbol yang dikenal, yakni (1) simbol pribadi, misalnya seseorang menangis bila mendengar sebuah lagu gembira karena lagu itu telah menjadi lambing pribadi ketika orang yang dicintainya meninggal dunia, (2) simbol pemufakatan, misalnya burung Garuda/Pancasila, bintang = ketuhanan, padi dan kapas = keadilan social, dan (3) symbol universal, misalnya bunga adalah lambing cinta, laut adalah lambing kehidupan yang dinamis (djojosuroto, 2005; 68-72).

Ruang Lingkup Kajian Semiotik

Untuk melakukan kajian semiotik terhadap puisi, dapat dilakukan dengan pemaknaan sebagai berikut:

  1. Puisi dikaji ke dalam unsur-unsurnya dengan memperhatikan saling hubungan antar unsur-unsurnya dengan keseluruhan.
  2. Tiap unsur puisi dan keseluruhannya diberi makna sesuai dengan konvensi puisi.
  3. Setelah puisi dikaji ke dalam unsur-unsurnya dan dilakukan pemaknaan, puisi dikembalikan kepada makna totalitasnya dengan kerangka semiotik.
  4. Untuk pemaknaan diperlukan pembacaan secara semiotik, yaitu pembacaan heuristik dan pambacaan hermeneutik.

(Riffaterre, 1978: 506; Pradopo, 2003:95).

Pembacaan heuristik adalah pembacaan karya sastra (puisi) berdasarkan struktur kebahasaannya atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi system semiotik tingkat pertama. Pembacaannya hermeneutik adalah pembacaan karya sastra (puisi) berdasarkan konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan ulang sesudah pembacaan heuristik dengan tafsiran berdasarkan konvensi sastra (Pradopo, 2003:96).

Pembacaan Heuristik terhadap Puisi

“Cintaku Jauh di Pulau” Chairil Anwar

 

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

 

(Chairil Anwar, 1946)

            Dalam pembacaan heuristik puisi dibaca berdasarkan struktur kebahasaannya. Untuk memperjelas arti pada puisi, bila perlu dapat diberi sisipan kata atau sinonim kata yang ada pada puisi tersebut dengan cara kata-kata yang disisipkan ditaruh dalam tanda kurung. Begitu pula dengan struktur kalimatnya, disesuaikan dengan kalimat baku, dan bila perlu susunannya dapat dibalik untuk memperjelas arti. Pembacaan heuristik terhadap puisi “Cintaku jauh di Pulau” karya Chairil Anwar dapat dilakukan secara berikut:

Bait Kesatu

Cintaku ( telah) jauh di pulau, gadis manis (itu), sekarang iseng sendiri (-an).

Bait Kedua

Perahu (yang) melancar, bulan (yang) memancar. Di leher (telah) kukalungkan ole-oleh buat si pacar. Angin (telah) membantu, laut (menjadi) terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya (ke tempat gadis manis).

Bait Ketiga

Di air yang tenang, di angin (yang) mendayu, di perasaan penghabisan segala (sesuatu)  melaju. Ajal bertakhta, sambil berkata: “Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Bait Keempat

Amboi! Jalan sudah bertahun (-tahun) ku tempuh! Perahu yang bersama (berlayar) ‘kan (menjadi) merapuh! Mengapa Ajal (telah) memanggil dulu. Sebelum sempat (aku) berpeluk dengan cintaku?!

Bait Kelima

Manisku (yang) jauh di pulau, kalau ‘ku (nanti) mati, dia (akan) mati iseng sendiri.
Pembacaan Hermeneutik terhadap Puisi

“Cintaku Jauh di Pulau” Chairil Anwar

            Dalam pembacaan hermeneutik puisi dibaca berdasarkan konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan ulang sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan tafsiran berdasarkan konvensi sastra. Konvensi sastra itu, di antaranya yaitu konvensi ketaklangsungan ucapan (ekspresi) puisi. Ketaklangsungan ekpresi puisi dapat disebabkan oleh penggantian arti, penyimpanan arti, dan penciptaan arti (Riffaterre, 1978: 1-2; Pradopo, 2003:97).

Penggantian arti dapat disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimi. Penyimpangan arti dapat disebabkan oleh ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Penciptaan arti dapat disebabkan oleh pemanfaatan bentuk visual seperti enjambemen, persajakan, homologues (persejajaran bentuk maupun baris, dan tipografi) (Pradopo, 2003:97).

Pembacaan hermeneutik terhadap puisi “Cintaku Jauh di Pulau” karya Chairil Anwar, terutama dilakukan terhadap bahasa kiasan, secara khusus metafora. Pembacaannya (tafsirannya) dapat dilakukan sebagai berikut:

Bait kesatu

Seorang kekasih yang berada di suatu tempat yang jauh (cintaku jauh di pulau). Seoarang gadis manis yang menghabiskan waktunya sendirian tanpa kehadiran sang kekasih (gadis manis iseng sendiri).

Bait kedua

Sang kekasih yang menempuh perjalanan jauh dengan perahu inigin menjumpai kekasihnya (gadis manis). Ketika cuaca pada saat itu bagus dan malam bulan yang bersinar. Namun sang kekasih gundah karena terasa tak sampai pada kekasihnya (gadis manis).

Bait ketiga

            Perasaan kekasih yang bersedih tak kunjung bertemu sang kekasih (gadis manis). Walaupun air tenang, angin mendayu,  ajal telah memanggil (ajal betahta sambil berkata: “Tunjukkan perahu kepangkuanku saja”)

Bait keempat

Sang kekasih putus asa (amboi). Bertahun-tahun berlayar, parahu yang membawanya akan rusak (perahu bersama kan merapuh). Kematian yang menghadang mangakhiri hidupnya tanpa bertemu sang kekasih (gadis manis).

Bait kelima

            Kekhawatiran sang kekasih jika dia meninggal, kekasih (gadis manis) akan mati dalm penantian yang sia-sia (dia mati iseng sendiri).

Pemaknaan terhadap Puisi “Cintaku Jauh di Pulau” Chairil Anwar

Berdasarkan hasil pembacaan heuristik dan hermeneutik, dapat diketahui bagaimana makna puisi “Cintaku jauh di Pulau” karya Chairil Anwar, terutama pada bahasa kiasan, secara khusu metafora. Pemaknaannya dapat dilakukan sebagai berikut:

 Bait kesatu

“Cintaku jauh di pulau” adalah metafora yang mengiaskan bahwa seorang kekasih yang menanti kekasihnya yang berada di tempat yang jauh. Seorang kekasih yang mengadu nasib dan meninggalkan kekasihnya hingga kelak bisa bersama-sama dengan sang kekasih. “Gadis manis, sekarang iseng sendiri” adalah seorang gadis yang menghabiskan waktunya sendirian tanpa kehadiran sang kekasih yang pergi jauh merantau demi sang kekasih.

Bait kedua

“Perahu melancar, bulan memancar” ialah sebuah perahu yang dilayarkan untuk mendatangi sang kekasih. Sang kekasih pergi jauh menggunakan perahu untuk menemui sang kekasih yang berada di tempat yang jauh. “dileher ku kalungkan ole-ole buat si pacar” yang berari sang kekasih berhasil dalam perantauannya dan diiringi dengan cuaca yang bagus dengan bulan yang bersinar terang ”bulan memancar”. “angin membantu, laut terang” yang mengkiaskan bahwa angin yang membantu dan laut yang terang, namun sang kekasih terasa gudah karena khawatir tak akan sampai pada sang kekasih.

Bait ketiga

            “Di air yang tenang, di angin mendayu” yang menggambarkan bahwa sang kekasih semakin sedih karena walaupun keadaan air yang tenang dan angin yang membantu dia merasa sedih karena khawatir tak akan bertemu dengan sang kekasih kerana pada perasaannya ajal telah memanggil “Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Bait keempat

“Perahu yang bersama ‘kan merapuh” yang menggambarkan bahwa perahu yang di tumpanginya akan rusak karena telah bertahun-tahun telah berlayar demi menjumpai kekasihnya. “Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku” yang mengkiaskan sang kekasih yang semakin putus asa karena ajal telah memanggilnya terlebih dahulu sebelum dia sempat bertemu dengan sang kekasih.

Bait kelima

“Manisku jauh di pulau” yang menggambarkan kekhawatiran sang kekasih kepada kekasihnya karena pada saat dia meninggal kekasihnya pun akan ikut meninggal dengan penantian yang sia-sia dengan menunggu sang kekasih yang telah tiada, hal ini diperkuat dengan pengkiasan ” kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.”

Setelah kita menganalisis makna tiap bait, kita pun harus sampai pada makna lambang yang diemban oleh puisi tersebut. Kekasih tokoh aku adalah kiasan dari cita-cita si aku yang sukar dicapai. Untuk meraihnya si aku harus mengarungi lautan yang melambangkan perjuangan. Sayang, usahanya tidak berhasil karena kematian telah menjemputnya sebelum ia meraih cita-citanya.

Dalam puisi tersebut terasa perasaan-perasaan si aku : senang, gelisah, kecewa, dan putus asa. Kecuali itu ada unsur metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi. Dalam puisi di atas, unsur metafisis tersebut berupa ketragisan hidup manusia, yaitu meskipun segala usaha telah dilakukan disertai sarana yang cukup, bahkan segalanya berjalan lancar, namun manusia seringkali tak dapat mencapai apa yang diidam-idamkannya karena maut telah menghadang lebih dahulu. Dengan demikian, cita-cita yang hebat dan menggairahkan akan sia-sia belaka.

14 thoughts on “Kajian Semiotik terhadap Puisi ”Cintaku Jauh di Pulau” Chairil Anwar”

  1. Mas bisa minta tolong gak..?? Bantuin donk kaji puisi ini..terus terang aku paling gak bisa dgn kajian semiotik terhadap sebuah puisi…bingung..!! heheee..
    ne puisinya..

    Pagiku kini tak seriang kemarin

    Saat suaramu masih kudengar

    Angin malampun tau…

    Dingin memang tanpamu…

    Bintangpun enggan keluar…

    Kosong…langit bagai mati

    Saat mentari kembali…

    Hangat jiwa kini kurasa…

    Tolong…

    Cairkan…kebekuan hati ini…

    Sahabat..

    Sepi kini memang milik-ku..

    Milikmu, milik kita

    Tapi bukan untuk selamanya

    Jangan berhenti kawan…

    Jalan masih panjang…

    Segenggam asa…

    Mesti kau raih…

    Kini atau kelak …

    Engkau pasti dapat…

    Mengejar semua cita…

    Impian..yang engkau impikan…..

    Makasie sblumnya…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s