BAHASA DALAM KARYA ILMIAH

BAHASA DALAM KARYA ILMIAH

A.    Penggunaan Bahasa dalam Karya Ilmiah

Bahasa dalam artikel ilmiah memiliki fungsi yang sangat penting. Hal itu disebabkan bahasa merupakan media pengungkap gagasan penulis. Sebagai pengungkap gagasan, bahasa dalam artikel ilmiah dituntut mampu mengungkapkan gagasan keilmuan secara tepat sehingga gagasan penulis dapat ditangkap pembaca secara tepat. Kesalahan penggunaan bahasa dalam artikei ilmiah menyebabkan gagasan yang disampaikan penulis tidak dapat diterima pembaca. Boleh jadi, pemakaian bahasa yang salah menyebabkan pemahaman pembaca bertoiak belakang dengan gagasan penulis.

Sesuai dengan ranah penggunaannya, bahasa Indonesia yang digunakan dalam artikel ilmiah adalah bahasa Indonesia ilmiah. Oleh sebab itu, kaidah pemakaian bahasa Indonesia ilmiah perlu mendapat perhatian khusus. Dilihat dari segi performansinya, bahasa dalam artikei ilmiah adalah bahasa tulis. Hal itu disebabkan artikel ilmiah merupakan salah satu bentuk karya tulis. Sebagai bahasa tulis, kaidah bahasa tulis perlu mendapat perhatian khusus pula. Sehubungan dengan hal di atas, paparan mengenai bahasa Indonesia tulis ilmiah menjadi sentral pembahasan ini.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam artikel ilmiah ternyata tidak selalu benar. Berbagai kesalahan sering ditemukan. Sebagai bekal/wawasan, pada akhir paparan ini dibahas pula berbagai kesalahan yang sering muncul dalam penulisan artikel ilmiah.

Kemampuan berbahasa yang baik dan benar merupakan persyaratan mutlak untuk melakukan kegiatan ilmiah sebab bahasa merupakan sarana komunikasi ilmiah yang pokok. Tanpa penguasaan tata bahasa dan kosakata yang baik akan sukar bagi seorang ilmuan untuk mengkomunikasikan gagasannya kepada pihak lain. Dengan bahasa selaku alat komunikasi, kita bukan saja menyampaikan informasi tetapi juga argumentasi, di mana kejelasan kosakata dan logika tata bahasa merupakan persyaratan utama. Bahasa merupakan sarana untuk mengungkapkan perasaan, sikap, dan pikiran. Aspek pikiran dan penalaran merupakan aspek yang membedakan bahasa manusia dan makluk lainnya. Selanjutnya disimpulkan bahwa aspek penalaran bahasa Indonesia belum berkembang sepesat aspek kultural. Demikian juga, kemampuan berbahasa untuk komunikasi ilmiah dirasakan sangat kurang apalagi dalam komunikasi tulisan. Hal ini disebabkan oleh proses pendidikan yang kurang memperlihatkan aspek penalaran dalam pengajaran bahasa. Dua masalah kebahasaan yaitu masalah strategi kebahasaan nasional dan peran perguruan tinggi sebagai agen pengembangan dan perubahan bahasa untuk tujuan keilmuan. Masalah pertama berkaitan dengan kebijakan penegasan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa keilmuan dan masalah kedua menyangkut peran perguruan tinggi dalam mengembangkan bahasa keilmuan. Bahasa keilmuan merupakan salah satu ragam bahasa yang harus dikuasai oleh mereka yang berkecimpung dalam dunia keilmuan dan akademik. Ragam bahasa keilmuan pada dasarnya merupakan ragam bahasa yang memenuhi kaidah kebahasaan. Tulisan ini menunjukkan sebagian kaidah bahasa Indonesia yang seharusnya digunakan dalam dunia akademik demi penyebaran dan pemahaman ilmu. Kaidah bahasa difokuskan pada pengalihbahasaan istilah asing ke bahasa Indonesia.

Bahasa merupakan salah satu faktor pendukung kemajuan suatu bangsa karena bahasa merupakan sarana untuk membuka wawasan bangsa (khususnya pelajar dan mahasiswa) terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Dengan kata lain, bahasa merupakan sarana untuk menyerap dan pengembangkan pengetahuan. Pada umumnya, negara maju mempunyai struktur bahasa yang sudah modern dan mantap.

Moeliono (1989) mengungkapkan bahwa untuk dapat memodernkan bangsa dan masyarakat, pemodernan bahasa merupakan suatu hal yang sangat penting. Di Jepang, misalnya, usaha pemodernan bahasa Jepang yang dirintis sejak restorasi Meizi telah mampu menjadi katalisator perkembangan ilmu dan teknologi di Jepang. Dengan pemodernan bahasa, semua sumber ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diterjemahkan kedalam bahasa Jepang dengan cermat sehingga wawasan berpikir bangsa Jepang dapat dikembangkan secara intensif lewat usaha penerjemahan secara besar-besaran.

Gagasan tersebut telah mendorong usaha untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa keilmuan. Usaha pemodernan ini telah ditandai dengan dibentuknya Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dan diterbitkannya buku Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.2 Walaupun publikasi tersebut belum secara tuntas menggambarkan aspek kebahasaan yang diharapkan, publikasi tersebut memberi isyarat bahwa untuk memantapkan kedudukan bahasa Indonesia perlu ada suatu pembakuan baik dalam bidang ejaan maupun tata bahasa. Pembakuan ini merupakan suatu prasyarat untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa keilmuan. Publikasi itu merupakan salah satu sarana untuk menuju ke status tersebut.Keefektifan usaha di atas dipengaruhi oleh sikap dan tanggapan kita terhadap bahasa Indonesia. Komunikasi ilmiah dalam bahasa Indonesia belum sepenuhnya mencapai titik kesepakatan yang tinggi dalam hal kesamaan pemahaman terhadap kaidah bahasa termasuk kosakata. Beberapa kenyataan atau faktor menjelaskan keadaan ini.

Pertama, kebanyakan orang dalam dunia akademik belajar berbahasa Indonesia secara alamiah (bila tidak dapat dikatakan secara monkey see monkey do/MSMD). Artinya orang belajar dari apa yang nyatanya digunakan tanpa memikirkan apakah bentuk bahasa tersebut secara kaidah benar atau tidak. Lebih dari itu, akademisi kadangkala lebih menekankan selera bahasa daripada penalaran bahasa. Akibatnya, masalah kebahasaan Indonesia dianggap hal yang sepele (trivial) dan dalam menghadapi masalah bahasa orang lebih banyak menggunakan argumen “yang penting tahu maksudnya.”

Kedua, bahasa Indonesia harus bersaing dengan bahasa asing (Inggris). Kenyataan ini tidak hanya terjadi pada tingkat penggunaan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat umum tetapi juga dalam kehidupan akademik. Cendekiawan dan orang yang berpengaruh biasanya mempunyai kosakata asing yang lebih luas daripada kosakata Indonesianya sehingga mereka merasa lebih asing dengan bahasa Indonesia. Akibatnya mereka lebih nyaman menggunakan bahasa (istilah) asing untuk komunikasi ilmiah tanpa ada upaya sedikit pun untuk memikirkan pengembangan bahasa Indonesia. Media masa juga memperparah masalah terutama televisi. Nama acara berbahasa Inggris tetapi isinya berbahasa Indonesia. Apakah bahasa Indonesia ataukah penyelenggara acara yang miskin bagi dirinya, dia merasa itu bukan bahasanya dan akan bereaksi dengan mengatakan “Apa artinya ini, kok aneh-aneh?” dan berusaha untuk tidak pernah tahu apalagi membuka kamus dan menggunakannya secara tepat.

Ketiga, dalam dunia pendidikan (khususnya perguruan tinggi) sebagian buku referensi atau buku ajar yang memadai dan lengkap biasanya berbahasa asing (Inggris) karena memang banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang di luar negeri. Sementara itu, kemampuan bahasa asing rata-rata pelajar dan mahasiswa dewasa ini belum dapat dikatakan memadai untuk mampu menyerap pengetahuan yang luas dan dalam yang terkandung dalam buku tersebut. Kenyataan tersebut sebenarnya merupakan implikasi dari suatu keputusan strategik implisit yang didasarkan pada asumsi bahwa setiap pelajar harus sudah fasih berbahasa Inggris setamatnya dari sekolah sehingga bahasa Inggris mempunyai kedudukan istimewa dalam kurikulum sekolah. Selain itu, digunakannya buku teks berbahasa Inggris didasarkan pada gagasan bahwa jaman sekarang telah mengalami globalisasi dan banyak orang berpikir bahwa globalisasi harus diikuti dengan penginggrisan bangsa dan masyarakat. Pikiran semacam ini sebenarnya merupakan suatu kecohan penalaran (reasoning fallacy).

Keempat, kalangan akademik sering telah merasa mampu berbahasa sehingga tidak merasa perlu untuk belajar bahasa Indonesia atau membuka kamus bahasa Indonesia (misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia). Akibatnya, orang sering merasa lebih asing mendengar kata bahasa sendiri daripada mendengar kata bahasa asing. Anehnya, kalau orang menjumpai kata asing (Inggris) yang masih asing bagi dirinya, mereka dengan sadar dan penuh motivasi berusaha untuk mengetahui artinya dan mencarinya di dalam kamus dan tidak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa kata itu aneh. Akan tetapi, kalau mereka mendengar kata bahasa Indonesia yang masih asing dan akan bereaksi dengan mengatakan “Apa artinya ini, kok aneh-aneh?” dan berusaha untuk tidak pernah tahu apalagi membuka kamus dan menggunakannya secara tepat

B.    Ciri-ciri Ragam Bahasa Ilmiah dalam Karya Tulis Ilmiah

Bahasa tulis ilmiah merupakan perpaduan ragam bahasa tulis dan ragam bahasa ilmiah. Ragam bahasa tulis memiliki ciri (1) kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat, (2) pembentukan kata diiakukan secara sempurna, (3) kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap, dan (4) paragraf dikembangkan secara lengkap dan padu (kohesif dan koheren). Selain itu, hubungan antargagasan terlihat jelas, rapi, dan sistematis. Ragam bahasa ilmiah memiliki ciri cendekia, lugas, jelas, formal, objektif,  konsisten, dan bertolak dari gagasan (Basuki, dkk. 1995). Paparan berikut akan mengupas ciri—ciri tersebut dengan pijakan ciri bahasa ilmiah.

Cendekia

Bahasa tulis ilmiah bersifat cendekia. Artinya, bahasa ilmiah itu mampu digunakan secara tepat untuk mengungkapkan hasil berpikir logis. Bahasa yang cendekia mampu membentuk pernyataan yang tepat dan seksama sehingga gagasan yang disampaikan penulis dapat diterima secara tepat oleh pembaca. Kalimat-kalimat yang digunakan mencerminkan ketelitian yang objektif sehingga suku-suku kalimatnya mirip dengan proposisi logika. Karena itu, apabila sebuah kalimat digunakan untuk mengungkapkan dua buah gagasan yang memiliki hubungan kausalitas, dua gagasan beserta hubungannya itu harus tampak secara jelas dalam kalimat yang mewadahinya. Dua contoh di bawah ini dapat memperjelas uraian di atas.

(1) Kemajuan informasi pada era globalisasi ini dikhawatirkan akan terjadi pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama pengayuh budaya barat yang masuk ke negara Indonesia yang dimungkinkan tidak sesuai dengan  nilai-nilai budaya dan moral bangsa Indonesia. ·

(2) Pada era globalisasi informasi ini dikhawatirkan akan terjadi pergeseran nilai-nilai moral bangsa Indonesia terutama karena pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia.

Contoh kalimat (2) di atas secara jelas mampu menunjukkan hubungan kausalitas, tetapi hal itu tidak terungkap secara jelas pada contoh (1). Kecendekiaan bahasa juga tampak pada katepatan dan keseksamaan penggunaan kata. Karena  itu, bentukan kata yang dipilih harus disesuaikan dengan  muatan isi pesan yang akan disampaikan. Perhatikan contoh di bawah ini.

(3)                    (4)

pemaparan       paparan

pembuatan        buatan

pembahasan     bahasan

pemerian          perian

Kata-kata pada contoh (3) menggambarkan suatu proses, sedangkan contoh (4) menggambarkan suatu hasil. Dalam pemakaian bahasa ilmiah, panggunaan kedua jenis bentukan kata tersebut perlu dilakukan secara carmat. Kalau paparan itu mangacu pada proses, kata-kata yang cocok adalah kata-kata pada contoh (3), tetapi kalau paparan itu mengacu pada hasil, kata·kata yang cocok adalah kata-kata pada contoh (4).

Di samping itu, kecendekiaan juga berhubungan dengan  kecermatan memilih kata. Suatu kata dipilih secara cermat apabila kata itu tidak mubazir, tidak rancu, dan bersifat /idiomatis. Pilihan kata maka dan bahwa pada contoh (5) termasuk mubazir. Oleh sebab itu, kata tersebut perlu dihilangkan sebagaimana contoh (6).

(5) Karena sulit, maka pengambilan data dilakukan secara tidak langsung. Menurut para ahli psikologi bahwa korteks adalah pusat otak yang paling rumit.

(6) Karena sulit, pengambilan data dilakukan secara tidak langsung. Menurut para ahli psikologi korteks adalah pusat otak yang paling rumit.

Kerancuan pilihan kata dalam artikel  ilmiah perlu  dihindari. Kerancuan  pilihan kata pada umumnya terjadi karena  dua struktur kalimat yang digabung menjadi  satu. Untuk membetulkannya perlu  dikembalikan pada struktur asal. Pilihan kata meskipun  dan namun serta  mulai dan sejak pada contoh (7) rancu. Untuk itu, perlu dikembalikan pada struktur asal sebagaimana contoh (8).

(7) Meskipun sudah diuraikan, namun paparannya belum jelas .
Mulai sejak penentuan masalah penelitian  itu tidak jelas arahnya.

(8) Meskipun sudah diuraikan, papararnya belum  jelas .
Paparannya
sudah diuraikan, namun belum  jelas.

Mulai penentuan  masalah, penelitian  itu tidak jelas  arahnya. 
Sejak
penentuan  masalah, penelitian itu tidak jelas  arahnya.

Kata-kata yang barsifat idiomatis perlu dipilih secara cermat. Pilihan kata idiomatis yang tidak cermat tampak pada contoh (9) terdiri dan dengan. Pilihan kata yang cermat tampak pada contoh (10).

(9)  Peneliti  terdiri orang-orang yang mewakili lembaga.
Hubungan rumusan masalah dengan simpulan tidak cocok.

(10)  Peneliti  terdiri atas orang·orang yang mewakili lembaga.
Hubungan rumusan masalah dan simpulan tidak cocok.

 

 

Lugas

Bahasa tulis ilmiah digunakan untuk menyampaikan gagasan ilmiah secara jelas  dan tepat. Untuk itu, setiap gagasan hendaknya diungkapkan secara langsung sehingga makna yang ditimbulkan oleh pengungkapan itu adalah makna lugas. Dengan  paparan yang lugas kesalahpahaman dan kesalahan menafsirkan isi kalimat akan terhindarkan. Penulisan  yang bernada sastra perlu  dihindari (Basuki, 1994). Penulisan  yang bernada sastra cendarung tidak mengungkapkan sesuatu secara langsung (lugas). Perhatikan  contoh di bawah ini!

(11)  Para pendidik  yang kadangkala atau bahkan sering kena getahnya oleh  ulah sebagian, anak-anak mempunyai  tugas yang tidak bisa dikatakan ringan.

(12)  Para pendidik  yang kadang-kadang atau bahkan sering  terkena  akibat ulah sebagian anak-anak mempunyai  tugas yang berat.

Kalimat (11) bermakna  tidak lugas. Hal itu tampak pada pilihan kata kena getahnya dan tidak bisa dikatakan ringan. Kedua ungkapan itu tidak mampu mengungkapkan gagasan secara lugas. Kedua ungkapan itu dapat diganti terkena akibat dan berat yang memiliki makna langsung, separti kalimat (12).

Jelas
Artikel ilmiah ditulis dalam rangka mengkomunikasikan gagasan kepada pembaca. Sehubungan dengan  hal tersebut, kejelasan gagasan yang disampaikan perlu  mendapat perhatian. Gagasan akan mudah dipahami apabila dituangkan dalam bahasa yang jelas. Gagasan akan mudah dipahami apabila hubungan gagasan yang satu dan yang lainnya jelas. Ketidakjelasan pada umumnya akan muncul pada kalimat yang sangat panjang. Dalam kalimat panjang, hubungan antargagasan menjadi  tidak jelas. Oleh sebab  itu, dalam artikel  ilmiah disarankan tidak digunakan kalimat yang terlalu panjang. Perhatikan  contoh berikut!
(13)  Penanaman  moral di sekolah  sebenarnya  merupakan kelanjutan dari penanaman moral di rumah yang dilakukan melalui mata pelajaran Pendidikan Moral Paneasila yang merupakan mata pelajaran paling strategis karena langsung menyangkut tentang moral Paneasila, juga diintegrasikan ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran Agama, IPS, Sejarah, PSPB, dan Kesenian.

(I 4)  Penanaman moral di sekolah sebenarnya  merupakan kelanjutan dari penanaman  moral di rumah. Penanaman  moral di Sekolah  dilaksanakan melalui mata pelajaran Pendidikan Moral Paneasila yang merupakan mata pelajaran paling strategis karena langsung menyangkut tentang moral Paneasila. Di samping itu, penanaman moral Pancasila juga diintegrasikan ke dalam mata pelajararan-mata pelajaran Agama, IPS, Sejarah, PSPB, dan Kesenian.

Contoh (13) tidak mampu mengungkapkan gagasan secara jelas, antara lain karena kalimat terlalu panjang. Kalimat yang panjang itu manyebabkan kaburnya hubungan antargagasan yang disampaikan. Hal itu berbeda dengan  contoh (14), kalimat-kalimatnya pendak sehingga mampu mengungkapkan gagasan secara jelas. Ini tidak berarti bahwa dalam menulis artikel ilmiah tidak dibenarkan membuat kalimat panjang. Kalimat panjang boleh digunakan asalkan penulis cermat dalam menyusun kalimat sehingga hubungan antargagasan dapat diikuti secara jelas.

Untuk membentuk kalimat yang memiliki gagasan yang jelas  diperlukan kiat khusus. Gagasan yang akan dituangkan ditata secara sistematis. Dengan  tataan itu dapat ditentukan apakah sebuah gagasan dituangkan dalam sebuah kalimat atau dalam sejumlah kalimat. Jika gagasan itu cukup dituangkan dalam sebuah kalimat, tidak perlu gagasan itu dituangkan dalam sejumlah kalimat. Sebaliknya, apabila sebuah gagasan tidak cukup diungkap dalam sebuah kalimat, jangan dipaksa diungkap dalam sebuah kalimat. Kalimat (13) berisi gagasan yang tidak dapat diungkap dalam sebuah kalimat. Untuk itu, kalimat (13) perlu  dipecah sebagaimana tertera pada kalimat (14). Contoh (15) berikut  merupakan contoh pengungkapan gagasan yang salah. Gagasan pada contoh (15) seharusnya diungkap sebagaimana contoh (16).

(15)  Pendidikan teknologi perlu  dimulai dan digalakkan untuk segenap lapisan masyarakat. Sehingga masyarakat tidak buta teknologi, termasuk di dalamnya teknologi mutakhir.

(16) Pendidikan teknologi perlu  dimulai dan digalakkan untuk seganap lapisan masyarakat sehingga masyarakat tidak buta teknologi,  termasuk di dalamnya teknologi mutakhir.

Bertolak dari Gagasan
Bahasa ilmiah digunakan dengan  orientasi gagasan. Itu berarti, penonjolan diarahkan pada gagasan atau hal-hal yang diungkapkan tidak pada penulis. Akibatnya, pilihan kalimat yang lebih cocok adalah kalimat pasif, sehingga kalimat aktif dengan  penulis sebagai palaku perlu  dihindari. Perhatikan  contoh berikut  ini.

(17)  Dari uraian tadi penulis dapat menyimpulkan bahwa menumbuhkan dan membina anak berbakat sangat penting.

(18)  Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menumbuhkan dan membina anak berbakat sangat penting.

Contoh kalimat (17) beroriantasi pada penulis. Hal itu tampak pada pemilihan kata penulis (yang menjadi sentral) pada kalimat tersebut. Contoh (18) berorientasi pada gagasan dengan  menyembunyikan kehadiran penulis. Untuk menghindari hadirnya pelaku dalam paparan, disarankan menggunakan kalimat pasif. Orientasi pelaku yang bukan penulis yang tidak berorientasi pada gagasan juga perlu  dihindari. Oleh sebab  itu, paparan yang melibatkan pembaca dalam kalimat perlu  dihindari. Perhatikan  contoh berikut !

(19)  Kita tahu bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangat penting dalam pananaman moral Pancasila.

(20)  Perlu  diketahui bahwa pandidikan di lingkungan keluarga sangat penting dalam pananaman moral Pancasila.

Contoh (20) merupakan penyempurnaan dari contoh (19) yang berorientasi pada pelaku bukan penulis. Dari Contoh-contoh di atas, bukan berarti bahwa kalimat aktif tidak boleh digunakan dalam karangan ilmiah. Kalimat aktif yang berorientasi pada gagasan dapat digunakan sebagaimana contoh berikut.

(21)  Soedjito (1998) menyatakan bahwa yang paling berpengaruh pada mutu proses balajar mengajar adalah sistem penilaian.

(22) Perkembangan teknologi komputer berjalan sangat cepat.

Formal
Artikel ilmiah merupakan salah satu bentuk komunikast ilmiah. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi ilmiah bersifat formal. Tingkat keformalan bahasa dalam artikel ilmiah dapat dilihat pada lapis kosa kata, bentukan kata, dan kalimat. Untuk memilih kata yang formal diperlukan kecermatan agar terhindar dari pemakaian kata informal. Perhatikan contoh-contoh di bawah ini

(23) Kata Formal         (24) Kata Informal

berkata                         bilang
membuat                      bikin
hanya                           cuma
memberi                       kasih
bagi                              buat
daripada                       ketimbang

Artikel ilmiah termasuk kategori paparan yang bersifat teknis. Kosa kata yang digunakan cenderung mengarah pada kosa kata ilmiah teknis. Kosa kata ilmiah teknis digunakan pada kalangan khusus, yang jarang dipahami oleh masyarakat umum. Untuk itu, dalam memilih kosa kata dalam menulis artikel ilmiah, perlu kecermatan agar tidak mengarah pada kata ilmiah populer. Contoh berikut ini menunjukkan perbedaan kedua jenis kosa kata tersebut.

(25) Kata Ilmiah Teknis            (26) Kata Ilmiah Populer

Anarki                                      kekacauan
Antipati                                     rasa benci
Antisipasi                                  perhitungan ke depan
Argumen                                   bukti
(Contoh lebih rinci dapat dilihat pada lampiran 1)

Ciri formal bahasa tulis ilmiah juga tampak pada bentukan kata. Bentukan kata yang formal adalah bentukan kata yang lengkap dan utuh sesuai dengan aturan pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Bentukan kata yang tidak formal pada umumnya terjadi karena pemberian imbuhan yang tidak lengkap, proses pembentukannya tidak mengikuti aturan, atau karena proses pembentukannya mengikuti bahasa lain sebagaimana contoh berikut.

(27) Bentukan Kata Bernada Formal    (28) Bentukan Kata Bernada Informal

membaca                                              mbaca
menulis                                                 nulis
tertabrak                                              ketabrak
mencuci                                                nyuci
mendapat                                             dapat
terbentuk                                              kebentur
legalisasi                                               legalisir
realisasi                                                realisir

Keformalan kalimat dalam artikei ilmiah ditandai oleh (1) kelengkapan unsur wajib (subjek dan predikat), (2) ketepatan panggunaan kata fungsi atau kata tugas, (3) kebernalaran isi, dan (4) tampilan esai formal. Sebuah kalimat dalam artikel  ilmiah satidak-tidaknya memiliki subjek dan predikat. Perhatikan  contoh di bawah ini!

(29)  Menurut Valendika (1999) menyatakan bahwa milenium ketiga belum  dimulai tahun 2000.

(30)  Valendika (1999) menyatakan bahwa milenium ketiga belum dimulai. tahun 2000.

Contoh (29) tidak jelas  subjeknya. Siapa yang menyatakan bahwa milenium ketiga belum dimulai tahun 2000? Tentu jawabannya bukan menurut Valendika, tetapi Valendika sebagaimana tertuang dalam contoh (30).

Ciri kedua penulisan  kalimat dalam artikel  ilmiah adalah ketepatan panggunaan kata fungsi atau kata tugas. Setiap  kata tugas memiliki fungsi yang berbeda. Oleh sebab  itu, ketapatan pamakaian kata tugas dalam menulis artikel ilmiah perlu mendapat perhatian. Kata tugas pada contoh (31) berikut  digunakan secara tidak tepat, sedangkan kata tugas pada contoh (32) digunakan secara tepat.

(31)   Setiap perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian pada masyarakat.
Saluran irigasi merupakan hal yang sangat vital buat patani.

(32)  Setiap perguruan tinggi wajib melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.
Saluran irigasi merupakan hal yang sangat vital bagi petani.

Ciri ketiga penulisan  kalimat artikel ilmiah adalah kebernalaran isi. Isi kalimat dapat diterima nalar (akal) sehat. Sebuah kalimat dapat dikatakan memiliki kebernalaran isi apabila gagasan yang disampaikan dapat dinalarkan (dapat ditarima akal sehat) dan hubungan antargagasan dalam kalimat dapat diterima akal sahat (Supamo, dkk, 1998). Perhatikan  gagasan yang disampaikan pada contoh berikut .

(33) Berbagai temuan baru berhasil diungkap dalam penelitian ini.
(34) Penelitian ini berhasil mengungkap berbagai temuan baru

lsi kalimat (33) tidak bisa diterima akal. Siapa yang barhasil dalam kalimat itu? Menurut kalimat itu, yang berhasil adalah berbagai temuan baru itu tidak masuk akal. Berbagai temuan baru tentu tidak bisa berhasil. Yang mungkin barhasil adalah penelitian ini sebagaimana contoh (34). Perhatikan  hubungan antargagasan dalam kalimat berikut!

(35)  Kedudukan pengajaran berbicara tidak sama dengan pokok bahasan lain, yaitu seperti membaca, kosa kata, struktur, pragmatik, maupun apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.

(36)  Kedudukan pengajaran berbicara tidak sama dengan kedudukan pengajaran yang lain: membaca, kosa kata, struktur, pragmatik, dan apresiasi bahasa dan sastra Indonesia.

Contoh (36) telah mampu mengungkapkan penataran dengan  benar, berbeda dengan  contoh (35). Hubungan penidaksamaan pengajaran berbicara dan pokok bahasan lain tidak selaras. Penidaksamaan seharusnya dilakukan antara pengajaran dengan  pengajaran, bukan dengan yang lain.

Ciri ketiga kalimat artikel  ilmiah adalah tampilan esai formal. Cara itu menuntut pengungkapan gagasan dilakukan secara utuh dalam bentuk kalimat. Rincian gagasan atau potongan gagasan dalam kalimat diintegrasikan secara langsung dalam kalimat. Kalimat (37) berikut  bukan merupakan tampilan esai formal, sedangkan kalimaf (38) merupakan kalimat yang bertampilan esai formal yang dianjurkan digunakan dalam artikel  ilmiah.

(37)  Jenis dongeng berdasarkan isinya:
– fabel
– legenda
– mite
– sage

(38)  Dongeng berdasarkan isinya dapat dibedakan atas empat kategori, yakni fabel, logende, mite, dan sage

Objektif

Bahasa ilmiah barsifat objektif. Untuk itu, upaya yang dapat ditempuh adalah menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak pengembangan kalimat dan menggunakan kata dan struktur kalimat yang mampu menyampaikan gagasan secara objektif. Terwujudnya sifat objektif tidak cukup dengan  hanya menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak. Sifat objektif juga diwujudkan dalam panggunaan kata. Kata-kata yang menunjukkan sifat subjektif tidak digunakan. Hadirnya kata betapa dan kiranya pada contoh (39) berikut  menimbulkan sifat subjektif. Berbeda dengan  contoh (40) yang tidak mengandung unsur subjektif.

(39)  Contoh-Contoh itu telah memberikan bukti betapa besarnya peranan orang tua dalam pembentukan kepribadian anak.
Dari paparan tersebut kiranya dapat disimpulkan sebagai berikut.

(40)  Contoh-Contoh itu telah memberikan bukti besarnya peranan oraug tua dalam pembemtukan kepribadian anak.

Dari paparan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.  Kata-kata yang menunjukkan sikap ekstrim dapat memberi kesan subjektif dan emosional. Kata-kata seperti harus, wajib, tidak mungkin tidak, pasti, dan selalu perlu  dihindari. Penulisan  kalimat (41) berikut  perlu dihindari karena  barsifat subjektif/emosional. Penulisan  kalimat yang tidak subjektif tampak pada contoh (42).

(41) Abstrak artikel harus ditulis dalam sebuah paragraf.
Penelitian pasti diawali adanya masalah.

(42) Abstrak artikel ditulis dalam sebuah paragraf.
Penelitian diawali adanya masalah.

 

Ringkas dan Padat
Selain ringkas dalam bahasa tulis ilmiah direalisasikan dengan  tidak adanya unsur-unsur bahasa yang tidak diperlukan (mubazir). Itu berarti menuntut kehematan dalam panggunaan bahasa ilmiah. Semantara itu, ciri padat merujuk pada kandungan gagasan yang diungkapkan dengan  unsur-unsur bahasa itu. Karena  itu, jika gagasan yang terungkap, sudah mamadai dengan  unsur bahasa yang terbatas tanpa pamborosan, ciri kepadatan sudah terpanuhi. Dengan demikian, ciri ringkas dan padat tidak dapat dipisahkan. Contoh (43) berikut  termasuk bahasa ilmiah yang ringkas/padat, sedangkan contoh (44) adalah bahasa yang tidak ringkas. Hadirnya kata sebagaimana tersebut pada paparan dan kata dan dasar pegangan hidup dan kehidupan pada kalimat (38) tidak memberi tambahan makna yang berarti. Dengan  demikian,  hadirnya kata-kata tersebut mubazir.

(43)  Nilai etis di atas menjadi pedoman bagi setiap  warga negara Indonesia.

(44)  Nilai etis sebagaimana tersebut pada paparan di atas menjadi pedoman dan dasar pegangan hidup dan kehidupan bagi setiap warg/a negara Indonesia.

Keringkasan dan kepadatan panggunaan bahasa tulis ilmiah tidak hanya ditandai dengan  tidak adanya kata-kata yang berlebihan, tetapi juga ditandai dengan  tidak adanya kalimat atau paragraf yang berlebihan dalam artikel  ilmiah. Contoh (45) dan (46) berikut  dapat memperjelas  keringkasan dan kepadatan bahasa tulis ilmiah. Hadirnya kalimat yang dicetak miring pada contoh (45) tidak memberi tambahan makna yang berarti. Dengan  demikian, kalimat itu perlu  dibuang sebagaimana contoh (46).

(45)  Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terungkap bahwa proyek itu telah dilaksanakan sesuai dengan  aturan yang berlaku. Jadi, tidak ada pelaksanaan proyek yang menyalahi aturan. Artinya, pelaksanaan proyek itu sudah benar. Isu negatif yang selama ini berkembang tidak benar.

(46)  Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terungkap bahwa proyek itu telah dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Isu nagatif yang selama ini berkembang tidak benar.

Konsisten
Unsur bahasa dan ejaan dalam bahasa tulis ilmiah digunakan secara konsisten. Sekali sebuah unsur bahasa, tanda baca, tanda-tanda lain, dan istilah digunakan sesuai dengan  kaidah, itu semua selanjutnya digunakan secara konsisten. Sebagai contoh, kata tugas untuk digunakan untuk mengantarkan tujuan dan kata tugas bagi mengantarkan objek (Suparno, 1998). Selain itu, apabila pada bagian awal uraian telah terdapat singkatan SMP (Sekolah Menengah Pertama), pada uraian selanjutnya digunakan singkatan SMP tersebut. Contoh (48) tidak konsisten dengan  kaidah yang berlaku. Sementara itu, contoh yang konsisten adalah contoh (47) (28 Okt 2009: Yhandra Perdana, yandhajperdana.wordpress.com)

 

(47)  Untuk mengatasi penumpang yang melimpah menjelang dan usai lebaran, pengusaha angkutan dihimbau mengoperasikan, semua kendaraan ekstra.
Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim Bosnia. Bagi mereka yang penting adalah peneabutan embargo persenjataan.

(48)  Untuk penumpang yang melimpah menjelang dan usai lebaran, telah disiapkan kendaraan yang eukup. Pengusaha angkutan dihimbau mengoperasikan semua kendaraan ekstra.
Perlucutan senjata di wilayah Bosnia itu tidak penting bagi muslim Bosnia. Untuk mereka yang penting adalah peneabutan embargo persenjataan.

 

Menggunakan Ejaan yang Benar

Bahasa Indonesia saat ini telah memiliki kaidah penulisan  (ejaan) yang telah dibakukan, yaitu Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempumakan yang biasa dikenal dengan  EYD.

Kaidah ejaan tersebut tertuang dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan, edisi yang disempurnakan, (Surat Kaputusan Mandikbud, Nomor0543a/U/ 87, tanggal 9 September, 1987). Aturan itulah yang berlaku dalam penulisan  hal-hal yang bersifat formal, termasuk di dalamnya adalah penulisan  artikel  ilmiah. Pada bagian ini hanya dipaparkan sejumlah prinsip yang perlu mendapat perhatian dalam menulis artikel  ilmiah. Prinsip-prinsip umum pemakaian ejaan tersebut dikemukakan sebagai berikut  (Basuki dan Hasan, 1996).

l)    Setiap kata, baik kata dasar maupun kata jadian, ditulis terpisah dengan kata lainnya, kecuali kata yang tidak dapat berdiri sendiri.(diberi garis bawah)

Contoh: kursi, belajar, praanggan, suprastruktural

2)  Jarak antarkata dalam paparan hanya satu ketukan. Tidak perlu menambah jarak antarkata dalam rangka meratakan margin kanan. Margin kanan sebuah artikel tidak harus lurus.

Contoh salah: Pelatihan ini sangat     menyenangkan.

3)  Setiap kata ditulis rapat, tidak ada jarak antarhuruf dalam sebuah kata.

Contoh salah: P E M B A H A S A N

P E N U T U P

4)  Gabungan kata yang mungkin menimbulkan salah penafsiran, dapat diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian antarunsurnya.

Contoh: proses belajar-mengajar, buku sejarah-baru

5)   Kata jadian berimbuhan gabung depan dan belakang ditulis serangkai.

Contoh: dinonaktifkan, menomorduakan

6)   Tanda tanya (?), titik (,), titik koma (,), titik dua (:), tanda seru (!) ditulis rapat dengan huruf akhir dari kata yang mendahului.

Contoh:  Abstraknya kabur.

Apa hasilnya?.

Perhatikan Contoh berikut!

7)   Setelah tanda tanya (?), titik (.), titik koma (;), titik dua (:), tanda seru (!) harus ada jarak (tempat kosong) satu ketukan.

Contoh: Masalahnya tidakjelas. Simpulannya juga tidak jelas .

Apa masalahnya, apa metodenya, dan apa temuannya?

8)) Tanda petik ganda (“…”), petik tunggal (‘…’), kurung () diketik rapat dengan kata, frasa, kalimat yang diapit.

Contoh: Ijazahnya masih “diseko1ahkan”

Penelitian DIP (Dafiar Isian Proyek) sekarang tidak ada.

9)  Tanda hubung (-), tanda pisahi (—), garis miring (/) diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan yang mengikutinya.

Contoh:  Kalimat artikel tidak boleh  diulang-ulang.

Penulisan artikel —saya yakin mudah seka1i— harus dibiasakan.

Subjudul pendahuluan/pengantar tidak perlu ditulis.

Catatan: dalam penulisan biasa, tanda pisah ditulis dengan tanda hubung dua (–).

10)   Tanda perhitungan: sama dengan (=), tambah (+), kurang (—), kali (x), bagi (:),  Iebih keeil (<), dan lebih besar (>) ditulis dengan jarak satu ketukan (spasi) dengan huruf yang mendahului dan yang mengikutinya.

Contoh:  2 + 2 = 4

P < Q

11)   Tepi kanan teks artikel tidak harus rata. Oleh karena itu, kata pada akhir baris tidak harus dipotong. Jika terpaksa harus dipotong, tanda hubungnya ditulis setelah huruf akhir, tanpa disisipi spasi, bukan diletakkan di bawahnya. Tidak boleh menambahkan spasi antarkata dalam satu baris yang bertujuan meratakan tepi kanan.

12)   Huruf kapital dipakai pada huruf pértama nama bangsa, suku, dan bahasa; tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.

Contoh: bangsa Indonesia (bukan Bangsa Indonesia)

hari Minggu (bukan Hari Minggu)

Bandingkan dengan contoh berikut!

Hari Kartini (bukan hari Kartini) .

Hari Ibu (bukan hari Ibu)

13)    Huruf kapital dipakai pada huruf pertama nama khas dalam geografi.

Contoh: Danau Sentanu, Afrika Selatan, Jalan Surabaya. .

14)    Huruf mixing (jika menggunakan mesin ketik diganti garis bawah) digunakan (1) untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, kata, atau frasa; dan (2) untuk menuliskan istilah ilmiah atau ungkapan asing/daerah.

15)   Kata hubung antarkalimat diikuti koma.

Contoh:   Oleh  sebab itu, ..,.

Dengan demikian, …,

Untuk itu,,…

(Lebih rinci lihat kata-kata hubung pada lampiran 2)

16)   Koma dipakai memisahkan kalimat setara yang didehului tetapi, melainkan, namun, padahal, sedangkan, yaitu, dan sedangkan.

Contoh:   Penelitian ini sederhana, tetapi sangat rumit pengambilan datanya.

Instrumen penelitian ini ada dua, yaitu angket dan tes.

Uji coba instrumen dilakukan di Kediri, sedangkan pengambilan data di Malang.

l7)    Koma dipakai memisahkan anak kalimat dan induk kalimat, jika anak kalimat mendahului induk kalimat.

Contoh: Karena gagal mengambil data, penelitian ini dibatalkan.

Hal itu dapat terjadi karena kalimat (47) dan (48) tidak memiliki pokok atau subjek. Jawaban terhadap pertanyaan di atas dapat dicari jika kalimat tersebut diubah menjadi kalimat (49) dan (50).

(49) Penelitian ini dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa.
(50) Uraian di atas menunjukkan pentingnya pendidikan orang dewasa.

Kalimat (49) (50) merupakan kalimat yang bernalar. Jawaban terhadap partanyaan apa yang KESALAHAN UMUM PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA DALAM ARTIKEL ILMIAH
Kesalahan pemakaian bahasa Indonesia dalam artikel ilmiah pada umumnya berkaitan dengan (1) kesalahan penalaran, (2) kerancuan, (3) pemborosan, (4) ketidaklengkapan kalimat, (5) kesalahan kalimat pasif, (6) kesalahan ejaan, dan (7) kesalahan pengembangan paragraf. Butir (6) dan (7) tidak dibahas di sini karena telah jelas pada paparan sebelumnya.

 

Keslahan Penalaran
Kesalahan penalaran yang biasa terjadi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kesalahan penalaran intrakalimat dan kesalahan penalaran antarkalimat. Kesalahan penalaran intrakalimat tampak dan tidak adanya hubungan logis antarelemen/antarbagian kalimat sebagaimana contoh berikut.

(47) Dengan penelitian ini dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa.
(48) Berdasarkan uraian di atas menunjukkan pentingnya pendidikan orang dewasa.

Hubungan pokok dan penjelas atau subjek dan predikat pada kalimat (47) dan (48) tidak jelas sehingga kedua kalimat itu dapat dikategorikan kalimat yang tidak bernalar. Pada kalimat (47) tidak jelas apa yang dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa. Jawabannya tentu bukan dengan panelitian ini. Demikian juga pada kalimat (48), apa yang menunjukkan pentingnya pendidikan orang dewasa. Jawabannya tentu bukan berdasarkan uraian di atas.

dapat meningkatkan kreativitas mahasiswa adalah penelitian ini. Jawaban terhadap pertanda apa yang menunjukkan pentingnya pendidikan orang dewasa adalah uraian di atas.

Kasalahan penalaran antarkalimat tampak pada tidak logisnya hubungan kalimat satu dengan  kalimat yang lain dalam membentuk teks. Ka|imat-kalimat dalam paragraf berikut  tidak memiliki hubungan logis. Hadirnya penanda hubungan oleh sebab  itu menyebabkan hubungan kalimat pertama dan kedua tidak bisa diterima nalar. Kedua kalimat ini tidak mamilliki hubungan sebab-akibat sehingga tidak perlu  diberi pananda hubungan sebab-akibat. Dengan  demikian, pemakaian pananda hubungan antarkalimat sebagaimana tertara dalam lampiran 2perlu mendapat perhatian khusus.

Problema utama pengelolaan jumal ilmiah adalah kelangkaan naskah dan kelangkaan dana. Oleh sebab itu, naskah perlu dikelola secara profesional. Pengelolaan yang profesional akan menjadikan sebuah jurnal menjadi berwibawa.

Kerancuan
Kerancuan  terjadi karena  penerapan dua kaidah atau labih. Kerancuan dapat dipilah atas kerancuan bentukan kata dan kerancuan kalimat. Kerancuan  bentukan kata tarjadi apabila dua kaidah bentukan diterapkan dalam sebuah bentukan kata sebagaimana comtoh berikut.

(51)  memperlebarkan               dari melebarkan dan memperlebar
mempertinggikan              dari mempertinggi dan meninggikan
dan lain sebagainya           dari dan lain·lain serta dan sebagainya.

Kerancuan  kalimat terjadi apabila dua kaidah atau lebih digunakan secara bersamaan dalam sebuah kalimat. Kerancuan  itu muncul pada saat penulis kebingungan terhadap kaidah yang dipakai dalam sebuah kalimat. Perhatikan  kalimat berikut!

(52) Dalam penelitian ini membahas efektivitas penggunaan pupuk tablet.
(53) Bagi peneliti memerlukan kecermatan memilih sampel.

Kedua kalimat di atas tergolong kalimat rancu. Kedua kalimat tersebut masing-masing dapat dikembalikan pada dua struktur yang benar sebagaimana contoh (54) dan (55).

(54)  Dalam penelitian ini dibahas efektivitas penggunaan pupuk tablet.
Penelitian ini membahas efektivitas penggunaam pupuk tablet.

(55)  Bagi peneliti diperlukan kecermatan memilih sampel.
Peneliti  memerlukan kecermatan memilih sampel.

Kerancuan  kalimat juga sering terjadi pada redaksi perujukan. Penulis sering bingung terhadap redaksi rujukan yang berpola menurut   seperti contoh berikut.

(56)  Menurut Ridho (1999) menyatakan bahwa menulis karya ilmiah tidak sulit.

Kalimat (56) dapat dikembalikan pada dua struktur yang benar seperti berikut.

(57)   Menurut Ridho (1999), menulis karya ilmiah tidak sulit.
Ridho (1999) menyatakan bahwa menulis karya i1miah tidak sulit.

Pemborosan
Pemborosan timbul apabila ada unsur yang tidak berguna dalam penggunaan bahasa. Pengujiannya dapat dilakukan dengan teknik penghilangan. Apabila sebuah unsur dihilangkan dan gagasan yang diungkap tidak terganggu, unsur tersebut dapat dikategorikan unsur yang mubazir. Pemborosan dapat terjadi pada kata atau kata-kata dan kalimat, bahkan mungkin paragraf. Pemborosan kata-kata (dicetak miring) terlihat pada contoh berikut .

(58)  Data yang digunakan untuk menjawab semua permasalaham yang ada dalam penelitian ini dapat dipilah menjadi dua, yaitu data utama dan data penunjang.

(59)  Data penelitian ini dapat dipilah menjadi dua, yaitu data utama dan data penunjang.

Pemborosan kalimat dapat terjadi apabila suatu kalimat tidak memiliki fungsi mengungkap gagasan. Gagasan kalimat itu sudah terwadahi dalam kalimat sebelum atau sesudahnya. Perhatikan  contoh berikut!

(60) Hasil penelitian ini dapat dipilah menjadi lima kelompok. Kelima kelompok tersebur adalah sebagai berikut.

Kalimat yang dicetak miring di atas adalah kalimat yang tidak memiliki fungsi pengungkap gagasan. Tanpa ada kalimat itu, pembaca sudah bisa memahami teks. Penyebutan judul buku atau identitas penulis buku dalam rangka perujukan juga merupakan bentuk pemborosan. contoh (62) lebih hemat daripada Contoh (61), meskipun makna keduanya sama.

(61)  Dianika (1998) dalam bukunya yang berjudul Tes Prestasi Balajar menyatakan bahwa tes memiliki kedudukan yang sangat strategis.
Rahmi (1997), seorang pakar ekonomi Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia tidak akan bisa bangkit dalam waktu singkat.

 

(62)  Dianika (1998) menyatakan bahwa tes memiliki kedudukan yang sangat strategis.
Rahmi (1997) menyatakan bahwa Indonesia tidak akan bisa bangkit dalam waktu singkat.

Ketidaklengkapan Kalimat
Sebuah kalimat dikatakan lengkap apabila setidak-tidaknya memiliki pokok dan penjelas atau subjek dan predikat. Perhatikan kalimat (63) yang tidak memiliki pokok kalimat (63) Dalam penelitian ini menemukan hasil baru yang sangat spektakuler. Kemungkinan kalimat menjadi tidak lengkap terjadi karena penulis tidak mampu mengendalikan gagasan yang kompleks. Perhatikan kalimat kompleks berikut yang tidak memiliki kelengkapan kalimat.

(64)  Bunga api pada busi yang dipergunakan untuk memulai pembakaran campuran bahan bakar dan udara di dalam silinder mesin, yang akhimya untuk membangkitkan tenaga mekanik.

Kesalahan Kalimat Pasif
Kesalahan pembentukan kalimat pasif yang sering dilakukan para penulis adalah kesalahan pembentukan kalimat pasif yang berasal dari kalimat aktif intransitif. Kalimat aktif intransitif tidak bisa diubah menjadi kalimat pasif dengan tetap mempertahankan maknanya.
(65) Berbagai kesalahan manajer/ berhasil diungkap/ melalui penelitian ini.
Pertanyaan yang mudah diajukan adalah siapa yang berhasil. Benarkah yang berhasil adalah berbagai kesalahan manajer? Kalimat di atas berasal dari kalimat berikut.

(66) Penelitian ini/ berhasil mengungkap/ berbagai kesalahan manajer.

3 thoughts on “BAHASA DALAM KARYA ILMIAH”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s