Orientasi Layanan Bimbingan dan Konseling

Orientasi Layanan Bimbingan dan Konseling

Sofyan. S. Willis (2004) mengemukakan landasan-landasan filosofis dari orientasi baru bimbingan dan konseling, yaitu:

1.Pedagogis
Ini berarti menciptakan kondisi sekolah yang kondusif bagi perkembangan peserta didik dengan memperhatikan perbedaan individual diantara peserta didik.

2. Potensial Ini berarti setiap peserta didik adalah individu yang memiliki potensi untuk dikembangkan, sedangkan kelemahannya secara berangsur-angsur akan diatasinya sendiri.

3. Humanistik-religius Ini berarti pendekatan terhadap peserta didik haruslah manusiawi dengan landasan ketuhanan. peserta didik sebagai manusia dianggap sanggup mengembangkan diri dan potensinya.

4. Profesional Ini berarti proses bimbingan dan konseling harus dilakukan secara profesional atas dasar filosofis, teoritis, yang berpengetahuan dan berketerampilan berbagi teknik bimbingan dan konseling.

Dari segi lain, Prayitno(1982) menyatakan bahwa layanan bimbingan dan konseling harus berpusat/berorientasi pada masalah yang dihadapi oleh klien. Dengan istilah lain disebutkan asas kekinian. Ini berarti bahwa layanan bimbingan dan konseling harus berorientasikan pada masalah-masalah yang dihadapi oleh klien pada saat ia berkonsultasi.Berdasarkan pendapat-pendapat di atas Soetjipto dan Kosasi dalam bukunya Profesi Keguruan (2007) menyimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling hendaknya menekankan pada orientasi individual, perkembangan dan masalah. Senada dengan hal ini, Prayitno dan Amti dalam bukunya Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling(2004) orientasi bimbingan dan konseling ada tiga yaitu orientasi perseorangan, perkembangan, dan permasalahan. Berikut diuraikan ketiga orientasi tersebut.

 

1. Orientasi Perseorangan

Dalam hal ini individu diutamakan dan kelompok dianggap sebagai lapangan yang dapat memberikan pengaruh tertentu terhadap individu. Dengan kata lain, kelompok dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan dan kebahagiaan individu, dan bukan sebaliknya. Pemusatan perhatian terhadap individu itu sama sekali tidak berarti mengabaikan kepentingan kelompok; dalam hal ini kepentingan kelompok diletakkan dalam kaitannya dengan hubungan timbal balik yang wajar antarindividu dan kelompoknya. (Prayitno dan Amti, 2004:234-235) sejumlah kaidah yang berkaitan dengan orientasi perorangan dalam bimbingan dan konseling dapat dicatat sebagai berikut:

a. Semua kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka pelayanan bimbingan dan konseling diarahkan bagi peningkatan perwujudan diri sendiri setiap individu yang menjadi sasaran layanan.

b. Pelayanan bimbingan dan konseling meliputi kegiatan berkenaan dengan individu untuk memahami kebutuhan-kebutuhan, motivasi-motivasinya, dan kemampuan-kemampuan potensialnya, yang semuanya unik, serta untuk membantu individu agar dapat menghargai kebutuhan, motivasi, dan potensinya itu kea rah pengembangannya yang optimal, dan pemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi diri dan lingkungan.

c. Setiap klien harus diterima sebagai individu dan harus ditangani secara individual(Rogers, dalam McDaniel, 1956).

d. Adalah menjadi tanggungjawab konselor untuk memahami minat, kemampuan, dan persaan klien serta untuk menyesuaikan program-program pelayanan dengan kebutuhan klien setepat mungkin. Tylor(1956) juga menyatakan bahwa kelas social keluarga dapat menimbulkan terjadinya perbedaan individu.

Perbedaan latar belakang kehidupan individu dapat mempengaruhinya dalam cara berpikir, cara berperasaan, dan cara menganalisis data. Dalam layanan dan bimbingan konseling ini harus menjadi perharian besar. Inilah yang dimaksud dengan orientasi individual.

2. Orientasi Perkembangan

Salah satu fungsi bimbingan dan konseling adalah fungsi tersebut adalah pemeliharaan dan pengembangan. Orientasi perkembangan dalam bimbingan dan konseling lebih menekankan lagi pentingnya peranan perkembangan yang terjadi dan yang hendaknya diterjadikan pada diri individu. Peranan bimbingan dan konseling adalah memberikan kemudahan-kemudahan bagi gerak individu menjalani alur perkembangannya. Pelayanan bimbingan dan konseling berlangsung dan dipusatkan untuk menunjang kemampuan inheren individu bergerak menuju kematangan dalam perkembangannya. Ivey dan Rigazio(dalam Mayers, 1992) menekankan bahwa orientasi perkembangan justru merupakan ciri khas yang menjadi inti gerakan bimbingan. Perkembangan merupakan konsep inti dan terpadukan, serta menjadi tujuan dari segenap layanan bimbingan dan konseling. Selanjutnya ditegaskan bahwa, praktek bimbingan dan konseling tidak lain adalah memberikan kemudahan yang berlangsung perkembangan yang berkelanjutan. Permasalahan yang dihadapi oleh individu harus diartikan sebagai terhalangnya perkembangan, dan hal itu semua mendorong konselor dan klien bekerjasama untuk menghilangkan penghalang itu serta mempengaruhi lajunya perkembangan klien.

Secara khusus, Thompson&Rudolph(1983) melihat perkembangan individu dari sudut perkembangan kognisi. Dalam perkembangannya, anak-anak berkemungkinan mengalami hambatan perkembangan kognisi dalam empat bentuk:

a) Hambatan egosentrisme, yaitu ketidakmampuan melihat kemungkinan laindi luar apa yang dipahaminya,

b) Hambatan konsentrasi, yaitu ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian pada lebih dari satu aspek tentang sesuatu hal,

c) Hambatan reversibilitas, yaitu ketidakmampuan menelusuri alur yang terbalik dari alur yang dipahami semula,

d) Hambatan transformasi, ketidakmampuan meletakkan sesuatu pada susunan urutan yang ditetapkan.

Thompson & Rudolph menekankan bahwa tugas bimbingan dan konseling adalah menangani hambatan-hambatan perkembangan itu.

3. Orientasi Permasalahan

Dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi bimbingan dan konseling yang telah dibicarakan, orientasi masalah secara langsung bersangkut-paut dengan fungsi pencegahan dan fungsi pengentasan. Fungsi pencegahan menghendaki agar individu dapat terhindar dari masalah-masalah yang mungkin membebani dirinya, sedangkan fungsi pengentasan menginginkan agar individu yang sudah terlanjur mengalami maslaah dapat terentaskan masalahnya. Melalui fungsi pencegahan, layanan dan bimbingan konseling dimaksudkan mencegah timbulnya masalah pada diri siswa sehingga mereka terhindar dari bernagai permasalahan yang dapat menghambat perkembangannya. Fungsi ini dapat diwujudkan oleh guru pembimbing atau konselor dengan merumuskan program bimbungan yang sistematis sehingga hal-hal yang dapat menghambat perkembangan siswa kesulitan belajar, kekurangan informasi, masalah sosial, dan sebagainya dapat dihindari. Roos L. Mooney (dalam Prayitno, 1987) mengidentifikasi 330 masalah yang digolongkan ke dalam sebelas kelompok masalah, yaitu kelompok masalah yang berkenaan dengan :

a. perkembangan jasmani dan kesehatan (PJK)

b. keuangan, keadaan lingkungan, dan pekerjaan (KLP)

c. kegiatan sosial dan reaksi (KSR)

d. hubungan muda-mudi, pacaran, dan perkawinan (HPP)

e. hubungan social kejiwaan (HSK)

f. keadaan pribadi kejiwaan (KPK)

g. moral dan agama (MDA)

h. keadaan rumah dan keluarga (KRK)

i. masa depan pendidikan dan pekerjaan (MPP)

j. penyesuaian terhadap tugas-tugas sekolah (PTS)

k. kurikulum sekolah dan prosedur pengajaran (KPP)

Frekuensi dialaminya masalah-masalah tersebut juga bervariasi. Satu jenis masalah barangkali lebih banyak dialami, sedangakan jenis masalah lain lebih jarana muncul. Frekuensi munculnya masalah-masalah itu diwarnai oleh berbagai kondisi lingkungan.

2.2. Aktualisasi Orientasi Layanan dan Bimbingan Konseling di Sekolah

Dalam proses pendidikan, khususnya di sekolah, Mortensen dan Schmuller (1976) mengemukakan adanya bidang-bidang tugas atau pelayanan yang saling terkait. Bidang-bidang tersebut hendaknya secara lengkap ada apabila diinginkan agar pendidikan di sekolah dapat berjalan dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi secara optimal kebutuhan peserta didik dalam proses perkembangannya. Bidang-bidang tersebut adalah sebagai berikut :

(1) Bidang kurikulum dan pengajaran meliputi semua bentuk pengembangan kurikulum dan pelaksanaan pengajaran, yaitu penyampaian dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kemampuan berkomunikasi peserta didik.

(2) Bidang administrasi atau kepemimpinan, yaitu bidang yang meliputi berbagai fungsi berkenaan dengan tanggung jawab dan pengambilan kebijaksanaann, serta bentuk-bentuk kegiatan pengelolaan dan administrasi sekolah, seperti perencanaan, pembiayaan, pengadaan, dan pengembangan staf, prasarana dan sarana fisik, dan pengawasan.

(3) Bidang kesiswaan, yaitu bidang yang meliputi berbagai fungsi dan kegiatan yang mengacu kepada pelayanan kesiswaan secara individual agar masing-masing peserta didik itu dapat berkembang sesuai dengan bakat, potensi, dan minat-minatnya, serta tahap-tahap perkembangannya. Bidang ini dikenal sebagai bidang pelayanan bimbingan dan konseling

Kendatipun ketiga bidang tersebut tampaknya terpisah anatra satu dengan yang lain, namun semuanya memiliki arah yang sama, yaitu memberikan kemudahan bagi pencapaian perkembangan yang optimal peserta didik. Antara bidang yang satu dengan yang lain terdapat hubungan yang saling isi mengisi.

Rumusan lain mengenai ruang lingkup bimbingan dikemukakan oleh Depdikbud RI, melalui Badan Pengembangan Pendidikan, dalam “Pola Dasar dan Pengembangan Program Bimbingan dan Penyuluhan Melalui Proyek-proyek Perintis Sekolah Pembangunan” (1974) adalah sebagai berikut:

1) Bimbingan melayani semua peserta didik, Dengan perkataan lain ia tidak hanya melayani peserta didik yang mempunyai masalah saja.

2) Bimbingan membantu peserta didik membuat perencanaan dan mengambil keputusan-keputusan. Bahkan tugas bimbingan buat menyiapkan nasehat dan rencana semacam barang jadi bagi peserta didiknya/kliennya. Konseling bukan pekerjaan memberikan nasehat-nasehat.

3) Bimbingan membantu guru dan staf sekolah yang lain, akan tetapi ia tidak melakukan,apalagi ia mnegambil alih tugas-tugas pekerjaan guru dan staf sekolah itu, mislanya mengajar menggantikan tempat guru yang berhalangan, mengawasi ulangan, mengabsen peserta didik, mendisiplinkan dan semacamnya. Demikian pun konselor tidak melakukan sendiri pekerjaan karena penempatan tenaga.

4) Bimbingan tidak melakukan pekerjaan bantuan yang menuntut keahlian di luar keahlian yang dimilikinya, tidak mengangani masalah-masalah gangguan kepribadian yang semestinya menjadi garapan ahli psikologi klinik, ahli psikologi terapi, ahli pekerjaan sosial tau ahli penyakit jiwa.

5) Bimbingan menjalankan tugasnya dalam ruang lingkup waktu kegiatan kurikuler yang resmi baik baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.

6) Otoritas dan tanggung jawab bimbingan adalah sejauh itu menyangkut bidang layanan (pelayanan) bantuan profesional perorangan di sekolah sebagaimana disepakati bersama dnegan peserta didik yang mendapat layanan.
(Ahmadi dan Rohani, 1991)

2. Jenis-Jenis Layanan

Aktualisasi/penerapan dari orientasi layanan bimbingan dan konseling juga dapat dilihat pada berbagai jenis layanan yang layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didik sebagaimana berikut ini.

1. Layanan Orientasi

Layanan orientasi, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memahami lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasukinya, dalam rangka mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu.Layanan orientasi ini ditujukan kepada siswa baru dan untuk pihak-pihak lain (terutama orang tua/wali siswa) guna memberi pemahaman dan penyesuaian diri terutama penyesuaian diri siswa terhadap lingkungan (sekolah) yang baru dimasukinya. (Hallen. 2005 : 776-77)
Materi Umum Layanan Orientasi. Materi yang dapat diangkat melalui layanan orientasi ada berbagai cara, yaitu meliputi hal berikut:

1. Orientasi umum sekolah yang baru dimasuki.

2. Orientasi kelas baru dan cawu baru.

3. Orientasi kelas terakhir dsan cawu terakhir, EBTA/EBTANAS, ijazah.
(Prayitno. 2001: 83)Materi layanan orientasi menyangkut:

a. Pengenalan lingkungan dan fasilitas sekolah.

b. Peraturan dan hak-hak serta kewajiban siswa.

c. Organisasi dan wadah-wadah yang dapat membantu an meningkatkan hubungan sosial siswa.

d. Kurikulum dengan seluruh aspek-aspeknya.

e. Peranan kegiatan bimbingan karier.

f. Peranan pelayanan bimbingan dan konseling dalam membantu segala jenis masalah dan kesulitan siswa.(Sukardi. 2008: 60-61)

 

2. Layanan Informasi

Layanan informasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan, informasi jabatan) yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik (klien). Oleh karena itu sasaran dari layanan informasi ini bukan saja peserta didik, tetapi juga orang tua/ wali sebagai orang yang mempunyai pengaruh besar terhadap peserta didik agar mereka dapat menerima informasi yang amat berguna bagi perkembangan anak-anak mereka.

(Prayitno. 2001: 83)Materi layanan informasi menyangkut:

a. Tugas-tugas perkembangan masa remaja akhir, yaitu tentang kemampuan dan perkembangan pribadi.

b. Usaha yang dapat dilakukan dalam mengenal bakat, minat serta bentuk-bentuk penyaluran dan pengembangannya.

c. Tata tertib sekolah, cara bertingkah laku, tata karma, dan sopan santun.

d. Nilai-nilai sosial, adapt-istiadat, dan upaya yang berlaku dan berkembang dimasyarakat.

e. Mata pelajaran dan pembidangannya, seperti program inti, program khusus dan program tambahan.

f. System penjurusan, kenaikan kelas, dan syarat-syarat mengikuti ujian akhir.

g. Fasilitas penunjang/ sumber belajar.

h. Cara mempersiapkan diri dan belajar disekolah.

i. Syarat-syarat memasuki suatu jabatan, kondisi jabatan/ karier serta prospeknya.

j. Langkah-langkah yang perlu ditempuh guna menentukan jabatan / karier.

k. Memasuki perguruan tinggi yang sejalan dengan cita-cita karier.

l. Pelaksanaan pelayanan bantuan untuk masalah pribadi, sosial, belajar, dan karier.(Sukardi. 2008: 61)

 

3. Layanan Penempatan dan Penyaluran

Layanan penempatan dan pennyaluran, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan/penyaluran didalam kelas, kelompok belajar, jurusan / program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ ekstra kurikuler) sesuai dengan potensi, bakat dan minat, serta kondisi pribadinya. (Prayitno. 2001: 84).Berbagai hal yang menyebabkan potensi, bakat, dan minat yang tidak tersalurkan secara tepat akan mengakibatkan siswa yang bersangkutan tidak dapat berkembang secara optimal. Melalui layanan penempatan dan penyaluran ini memebrikan kemungkinan kepada siswa berada pada posisi dan pilihan yang tepat, yaitu berkenaan dengan penjurusan, kelompok belajar, pilihan pekerjaan / karier, kegiatan ekstra kulikuler, program latihan dan pendidian yang lebih tinggi sesuai dengan kondisi fisik dan psikisnya. Jadi fungsi utama yang didukung oleh layanan penempatan dan penyaluran ini adalah fungsi pencegahan, pemeliharaan dan advokasi. (Hallen. 2005 : 78)Materi kegiatan layanan penempatan dan penyaluran meliputi:

a. Penempatan kelas siswa, program studi/ jurusan dan pilihan ekstra kulikuler yang dapat menunjang penegembangan sikap, kebiasaan, kemampuan, bakat dan minat.

b. Penempatan dan penyaluran siswa dalam kelompok sebaya, kelompok belajar, dan organisasi kesiswaan serta kegiatan sosial sekolah.

c. Membantu dalam kegiatan program khusus sesuai dengan kebutuhan siswa, baik pengajaran, perbaikan maupun pengayaan dan seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur PMDK/UMPTN

d. Menempatkan dan menyalurkan siswa pada kelompok yang membahas pilihan khusus program studi sesuai dengan rencana karier, kelompok latihan keterampilan dan kegiatan ekstrakulikuler atau magang yang diadakan sekolah atau lembaga kerja/industry (Sukardi. 2008: 62)

 

4. Layanan Bimbingan Belajar (Pembelajaran)

Layanan pembelajaran adalah layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) mengembangkan diri dengan sikap kebiasaan belajar yang baik, materi belajar dan kecepatan kesulitan belajar, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya. (Hallen. 2005 : 79)
Layanan pembelajaran dimaksudkan untuk memungkinkan siswa memahami dan mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, keterampilan dan materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta tuntukan kemampuan yang berguna dalam kehidupan dan perkembangan dirinya.
Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh layanan pembelajaran ialah fungsi pemeliharaan dan pengembangan.(Prayitno. 2001: 85-86) Materi kegiatan layanan bimbingan belajar meliputi:

a. Mengembangkan pemahaman tentang diri, terutama pemahaman sikap, sifat, kebiasaan, bakat, minat, kekuatan-kekuatan dan penyalurannya, kelemahan-kelemahan dan penanggulangannya, dan usaha-usaha pencapaian cita-cita/ perencanaan masa depan.

b. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bertingkah laku dalam hubungan sosial dengan teman sebaya, guru, dan masyarakat luas.

c. Mengembangkan sikap dan kebiasaan dalam disiplin belajar dan berlatih secara efektif dan efisien.

d. Teknik penguasaan materi pembelajaran, baik ilmu pengetahuan teknologi, dan kesenian.

e. Membantu memantapkan pilihan karier yang hendak dikembangkan melalui orientasi dan informasi karier, orientasi dan informasi dunia kerja dan perguruan tinggi yang sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan.
f. Orientasi belajar diperguruan tinggi dan

g. Orientasi hidup berkeluarga.(Sukardi. 2008: 63)

 

5. Layanan Konseling Perseorangan

Layanan konseling perorangan yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) mendapat layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dideritanya.(Hallen. 2005 : 80)
Layanan konseling perorangan memungkinkan siswa mendapatkan layanan langsung secara tatap muka dengan guru pembimbing atau guru kelas di SD dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahannya. Fungsi utama bimbingan yang didukungn oleh layanan konseling perorangan ialah fungsi pengentasan. (Prayitno2001: 86)Pelaksanaan usaha pengentasan masalah siswa, dapat mengikuti langkah-langkah berikut:

a. Pengenalan dan pemahaman permasalahn.

b. Analisis yang tepat

c. Aplikasi dan pemecahan permasalahan

d. Evaluasi, baik evaluasi awal, proses, ataupun evaluasi akir.

e. Tindak lanjut.

Melihat teknik penyelenggaraan konseling perseorangan terdapat macam-macam teknik konseling perseorangan yang sangat ditentukan oleh permasalahan yang dialami siswa. Teknik konseling perseorangan yang sederhana melalui proses/tahap-tahap sebagai berikut:

1. Tahap pembukaan

2. Tahap penjelasan

3. Tahap pengubahan tingkah laku

4. Tahap penilaian / tindak lanjut.

Materi layanan konseling perorangan meliputi:

1. Pemahaman sikap, kebiasaan, kekuatan diri dan keemahan, bakat, dan minat serta penyalurannya.

2. Pengentasan kelemahan diri dan pengembangan kekuatan diri.

3. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi, menerima dan

menyampaikan pendapat, bertingkah laku sosial, baik di rumah, sekolah dan masyarakat.

4. Menegembangkan sikap kebiasaan belajar yang baik, disiplin dan berlatih dan pengenalan belajar sesuai dengan kemampuan, kebiasan, dan potensi diri.

5. Pemantapan pilihan jurusan dan perguruan tinggi

6. Pengembangan dan pemantapan kecenderungan karier dan pendidikan lanjutan yang sesuai dengan rencana karier.(Sukardi. 2008: 63-64)

6. Layanan Bimbingan Kelompok

Layanan bimbingan kelompok, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu (terutama dari guru pembimbing) dan / atau membahas secara bersama-sama pokok bahasan (topik) tertentu yang berguna untuk menunjang pemahaman dan kehidupannya sehari-hari dan / atau untuk perkembangan pribadinya baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, dan untuk pertimbangan dalam pengambilan keputsan dan/atau tindakan tertentu. (Prayitno. 2001: 86) Dapat pula diartikan sebagai layanan yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu melalui dinamika kelompok. (www.re-searchengines.com)
Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan peserta didik memperoleh berbagai bahan dari nara sumber (terutama dari guru pembimbing atau guru kelas) yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun sebagai siswa, anggota keluarga dan masyarakat. Bahan yang dimaksudkan itu juga dapat dipergunakan sebagai acuan untuk mengambil keputusan. Lebih jauh dengan layanan bimbingan kelompok para peserta didik dapat diajak untuk bersama-sama mengemukakan pendapat tentang sesuatu dan membicarakan topik-topik penting, menegmbangkan nilai-nilai tentang hal tersebut, dan mengembangkan langkah-langkah bersama untuk menangani permasalahan yang dibahas didalam kelompok. Dengan demikian, selain dapat membuahkan saling hubungan yang baik diantara anggota kelompok, kemampuan berkomunikasi antar individu, pemahaman berbagai situasi dan kondisi lingkungan, juga dapat mengembangkan sikap dan tindakan nyata untuk mencapai hal-hal yang diinginkan sebagaimana terungkap di dalam kelompok. Fungsi utama bimbingan yang didukung oleh layanan bimbingan kelompok ini adalah fungsi pemahaman dan pengembangan.(Hallen. 2005 : 81)Materi layanan bimbingan kelompok, meliputi:

1. Pengenalan sikap dan kebiasaan, bakat dan minat dan cita-cita serta penyalurannya.

2. Pengenalan kelemahan diri dan penanggulangannya, kekuatan diri dan pengembangannya.

3. Pengembangan kemampuan berkomunikasi, menerima/ menyampaikan pendapat, bertingkah laku dan hubungan sosial, baik di rumah, sekolah, maupun di masyarakat, teman sebaya disekolah dan luar sekolah dan kondisi/ peraturan sekolah.

4. Pengembangan sikap dan kebiasan belajar yang baik di sekolah dan dirumah sesuai dengan kemampuan pribadi siswa.

5. Pengembangan teknik-teknik penguasan ilmu penngetahuan, teknologi dan kesenian sesuai dengan kondisi fisik, sosial dan budaya.

6. Orientasi dan informasi karier, dunia kerja, dan upaya memperoleh penghasilan.

7. Orientasi dan informasi perguruan tinggi sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan.

8. Pengambilan keputusan dan perencanaan masa depan.
Manfaat dan pentingnya bimbingan kelompok perlu mendapat penekanan yang sungguh-sungguh. Melalui bimbingan kelompok para siswa, yaitu:

a. Diberi kesempatan yang luas untuk berpendapat dan membicarakan berbagai hal yang terjadi disekitarnya.

b. Memiliki pemahaman yang objektif, tepat, dan cukup luas tentang berbagai hal yang mereka bicarakan itu.

c. Menimbulkan sikap yang positif terhadap keadaan diri dan lingkungan mereka yang bersangkut-paut dengan hal-hal yang mereka bicarakan dalam kelompok. “sikap ppositif” disini dimaksudkan: menolak hal-hal yang salah/buruk/negative/ dan menyokong hal-hal yang benar/baik/positif. Sikap positif ini lebih jauh diharapkan dapat merangsang para siswa.

d. Menyusun program-program kegiatan untuk mewujudkan “penolakan terhadap yang buruk dan sokongan terhadap yang baik” itu. Lebih jauh lagi, program-program kehiatan itu diharapakan dpaat mendorong siswa.

e. Melaksanakan kegiatan-kegiatan nyata dan langsung untuk membuahkan hasil sebagaimana mereka programkan semula.
(Sukardi. 2008: 65-67)

7. Layanan Konseling Kelompok

Layanan konseling kelompok, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialami.

8. Aplikasi Instrumental Bimbingan dan Konseling

Aplikasi instrumental dan bimbingan konseling yaitu kegiatan pendukung bimbingan dan konseling untuk mengumpulkan data dan keterangan peserta didik, keterangan tentang lingkungan peserta didik, dan lingkungan yang lebih luas. Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan berbagai instrument, baik tes maupun nontes.

Hasil pengumpulan data itu dipakai dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling sebagaimana disebut terdahulu. Fungsi utama bimbingan yang diemban oleh kegiatan penunjang aplikasi instrumental ialah fungsi pemahaman.

Data dan keterangan yang perlu dikumpulkan melalui aplikasi instrumental bimbingan dan konseling pada umumnya meliputi:

  1. Instrument tes

–          Tes intelegensi

–          Tes bakat

–          Tes kepribadian

–          Tes hasil belajar

–          Tes diagnostik

  1. Insrumen nontes

–          Catatan anekdor

–          Angket/kursioner

–          Daftar cek

–          Sosiometri

–          Inventori

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sukardi, Dewa Ketut dan Nila Kusmawati. 2008. Proses Bimbingan dan

Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Blog Marlina Face. Diunduh tanggal 21 Februari 2011.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s