Arsip Kategori: Uncategorized

Jurnal Skripsi PTK Arif Sunarya

UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN MENGAPRESIASI PUISI DENGAN METODE “STUDENT FACILITATOR AND EXPLAINING” SISWA KELAS VII SMP NEGERI 21 BANJARMASIN

 

ARIF SUNARYA

FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Jl. Brigjend. Hasan Basry,

Kampus Kayu Tangi Banjarmasin 70123

 

Abstract

 

Lack of liveliness appreciate poetry class VII B Junior High School 21 Banjarmasin caused students who do not pay attention to the teacher, feelings of shame, fear, and not unfamiliar students to speak in class. This has prompted researchers to conduct action research. The problem studied is how the activity of students in appreciating poetry using the Student Facilitator and Explaining and how improved learning outcomes in appreciating poetry using the Student Facilitator and explaining. The aim of this action research study revealed activity in appreciating poetry with Student Facilitator and Explaining methods along with improved learning outcomes expressed in appreciating poetry with Student Facilitator and Explaining methods. This study uses the cycle stages of planning, implementation, observation, and reflection. The analysis technique used is descriptive analysis with performance indicators, ie if the teacher using Student Facilitator and Explaining the appreciation of poetry into increased activity. The results of the first cycle, active students in appreciating poetry there were 17 students (45%), and 20 (55%); students are less activeness. While the learning outcomes of students, there are 18 students (48.64%), which achieve mastery. Results of the second cycle, active students in appreciating poetry there were 25 students (70.9%), and 10 (29.1%); students are less activeness. While the learning outcomes of students have reached mastery level there are 38 students (100%). Research conducted only till the second cycle, because the results achieved in the second cycle in compliance with the involvement of the student performance indicators increased by 60% the level of activity and student learning outcomes with the provision of 70% of students managed to obtain a good and very good value.

 

Kata kunci : apresiasi puisi, Student Facilitator and Explaining

 

Abstrak

Sunarya, Arif. 2013. Upaya Meningkatkan Keaktifan Mengapresiasi Puisi dengan Metode “Student Facilitator and Explaining” Siswa kelas VII SMP Negeri 21 Banjarmasin. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Pembimbing: (I) Dra. Zakiah Agus Kusasi, M.Pd., (II) Dra. Maria LAS, M.Pd.

 

Kata kunci : apresiasi puisi, Student Facilitator and Explaining

 

Kurangnya keaktifan mengapresiasi puisi siswa kelas VII B SMP Negeri 21 Banjarmasin disebabkan siswa yang tidak memperhatikan guru, perasaan malu, takut, dan tidak terbiasanya siswa berbicara di kelas. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tindakan kelas. Masalah yang diteliti adalah bagaimanakah keaktifan siswa dalam mengapresiasi puisi menggunakan metode Student Facilitator and Explaining dan bagaimanakah peningkatan hasil belajar dalam mengapresiasi puisi dengan menggunakan metode Student Facilitator and explaining.

Penelitian tindakan kelas ini bertujuan mengungkapkan keaktifan belajar dalam mengapresiasi puisi dengan metode Student Facilitator and Explaining beserta mengungkapkan peningkatan hasil belajar dalam mengapresiasi puisi dengan metode Student Facilitator and Explaining.

Penelitian ini menggunakan siklus dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis diskriptif dengan indikator kinerja, yaitu jika guru menggunakan metode Student Facilitator and Explaining dalam keaktifan mengapresiasi puisi menjadi meningkat.

Hasil siklus I, keaktifan siswa dalam mengapresiasi puisi ada 17 siswa (45%); dan 20 (55%); siswa yang kurang keaktifannya. Sedangkan hasil belajar siswa ada 18 siswa (48,64%); yang mencapai ketuntasan.

Hasil siklus II, keaktifan siswa dalam mengapresiasi puisi ada 25 siswa (70,9%); dan 10 (29,1%); siswa yang kurang keaktifannya. Sedangkan hasil belajar siswa sudah mencapai tingkat ketuntasan ada 38 siswa (100%).

Penelitian hanya dilakukan sampai siklus II, karena hasil yang dicapai pada siklus II telah memenuhi indikator kinerja dengan keaktifan siswa meningkat dengan tingkat keaktifan 60% dan hasil belajar siswa dengan ketetapan 70% siswa berhasil memperoleh nilai baik dan sangat baik.

 

PENDAHULUAN

Pengajaran bahasa Indonesia mempunyai ruang lingkup dan tujuan yang menumbuhkan kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan meng-gunakan bahasa yang baik dan benar. Pada hakikatnya pembelajaran bahasa Indo-nesia diarahkan untuk mempertajam kepekaan perasaan siswa. Guru dituntut mampu memotivasi siswa agar mereka dapat meningkatkan minat baca terhadap karya sastra. Karena dengan mempelajari sastra siswa diharapkan dapat menarik berbagai manfaat untuk kehidupannya. Oleh karena itu, seorang guru harus dapat mengarahkan siswa membaca karya sastra yang sesuai dengan minat dan kema-tangan jiwa mereka. Berbagai upaya dapat dilakukan, salah satunya dengan mem-berikan tugas untuk memberikan kegiatan mengapresiasi puisi.

Mengapresiasi puisi perlu ditanamkan kepada siswa di Sekolah Menengah Pertama sehingga mereka mempunyai kemampuan untuk mengapresisasi puisi dengan baik pada saat menuju sekolah lanjutan. Mengapresiasi sebuah puisi bukan hanya ditujukan untuk penghayatan dan pehamanan puisi, melainkan berpengaruh mempertajam kepekaan perasaan, penalaran, serta kepekaan anak terhadap masalah-masalah kemanusian. Kemampuan tersebut ditentukan oleh beberapa faktor penting dalam proses pembelajaran mengapresiasi puisi.

Selain menerapkan strategi yang tepat agar peranan guru dalam proses pem-belajaran terhadap siswa dapat lebih aktif di dalam proses belajar di kelas. Pem-belajaran yang aktif merupakan pembelajaran yang penuh semangat, hidup, giat, berkesinambungan, kuat dan efektif. Pembelajaran aktif melibatkan pembelajaran yang terjadi ketika siswa bersemangat, siap secara mental dan biasa memahami pengalaman yang dialami. Selain pembelajaran yang aktif maka diperlukan pem-belajaran yang efisieanan seorang guru dalam mengajar. Dalam hal itu, menurut Shacleford dan Henak (dalam Soekartawi, 1995:390) berpendapat bahwa secara pengajaran yang efisien akan terbentuk kalau pengajarnya juga bertindak efisien.

Dalam pembelajaran mengapresiasi puisi di Sekolah Menengah Pertama masih ditemukan berbagai kendala dan hambatan. Hal ini berkaitan dengan ketepatan penggunaan metode atau teknik dalam pembelajaran sastra dalam hal mengapresiasi puisi. Demikian pula dengan permasalahan yang timbul dalam proses pembelajaran mengapresiasi puisi dikelas VII B SMPN 21 Banjarmasin, selama ini keaktifan siswa dalam mengapresiasi masih kurang, siswa yang masih malu untuk berbicara dan takut. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Bapak Muhamad Yusuf, S.Pd selaku guru pengajar di SMPN 21 Banjarmasin yang kemudian diduga mempunyai permasalahan dari guru maupun murid.

Berdasarkan masalah di atas penulis melakukan penelitian tentang “Upaya Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Mengapresiasi Puisi dengan Metode “Student Facilitator and Explaining” Siswa Kelas VII SMPN 21 Banjarmasin”. Sehingga diharapkan melalui penelitian ini meningkatkan proses belajar mengajar dan hasil belajar dapat ditingkatkan.

Berdasarkan latar belakang di atas, mempelajari proses pembelajaran meng-apresiasikan puisi dengan menggunakan metode “Student Facilitator and Explaining” di kelas VII B SMPN 21 Banjarmasin perlu dilakukan penelitian ini. Rumusan masalah kemudian ditentukan berikut ini.

  1. Bagaimanakah keaktifan belajar dalam mengapresiasi puisi menggunakan metode Student Facilitator and Explaining?
  2. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar dalam mengapresiasi puisi dengan menggunakan metode Student Facilitator and Explaining?

Sesuai dengan permasalahan yang telah dipaparkan di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

  1. Mengungkapkan keaktifan belajar dalam mengapresiasi puisi dengan metode Student Facilitator and Explaining.
  2. Mengungkapkan peningkatan hasil belajar dalam mengapresiasi puisi dengan metode Student Facilitator and Explaining.

Samadhi (2009:47) menyatakan pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun dengan guru dalam proses pembelajaran.

Menurut Gulo (2004:73-74) “aktivitas siswa adalah keterlibatan langsung siswa dalam proses belajar mengajar secara emosional dan fisik”. Sedangkan menurut Imron (1995:107) “aktivitas siswa adalah keikutsertaan siswa dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung, secara aktif baik fisik, mental, maupun emosional dari siswa itu sendiri”.

Mulyono (2001:26) menyatakan “keaktifan adalah kegiatan atau aktifitas dan segala sesuatu yang dilakukan kegiatan-kegiatan yang terjadi baik secara fisik maupun non fisik”.

Senada dengan pendapat di atas, Sanjaya (2007:101-106) mengatakan aktifitas non fisik seperti mental, intelektual dan emosional. Keaktifan disini pene-kanannya adalah peserta didik, sebab dengan adanya keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran akan tercipta situasi belajar aktif.

Pengertiaan tentang puisi sampai sekarang ini sangat sulit untuk dibatasi. Blair dan Chandler berpendapat bahwa, puisi adalah peluapan spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, dia bercikal bakal dari emosi yang berpadu kembali dalam kedamaian (dalam Tarigan, 1997:5).

Selanjutnya menurut Effendi (dalam Sulkarnaini, 2002:3) apresiasi adalah kegiatan mengakrabi karya sastra dengan sungguh-sungguh. Di dalam proses me-ngakrabi terjadi proses pengenalan, pemahaman, penghayatan, penikmatan dan setelah itu penerapan.

SFE mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: informasi kempetensi, sajian materi, siswa mengembangkanya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi, serta refleksi (Suyatno, 2009:71).

Selanjutnya menurut Suprijono (2009:129) metode Student Facilitator and Explaining mempunyai arti metode yang menjadikan siswa dapat membuat peta konsep maupun bagan untuk meningkatkan kreatifitas siswa dan prestasi belajar siswa.

 

METODE

Penelitian ini, merupakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang merupakan terjemahan dari  classroom action research. Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru sekaligus sebagai peneliti di kelasnya atau bersama-sama dengan orang lain (teman sejawat) dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu (kualitas) proses pembelajaran di kelasnya melalui suatu tindakan tertentu dalam suatu siklus.

 

PEMBAHASAN

1.1 Keaktifan Belajar dalam Mengapresiasi Puisi Menggunakan Metode Student Facilitator and Explaining

Pada saat pertemuan pertama kelas VII B masih belum nampak keaktifannya. Akan tetapi tingkat keaktifan siswa mengalami peningkatan setiap siklusnya. Penelitian tindakan kelas ini telah berhasil meningkatkan keaktifan belajar siswa secara bertahap. Pada siklus pertama rata-rata keaktifan siswa adalah 45% siswa yang aktif. Hal ini dilihat pada aktivitas siswa pada saat persentase atau diskusi hanya 8 siswa (21,6%), selanjutnya aktivitas siswa dalam bertanya pada siklus pertama ini hanya 4 siswa (10,8%).

Selanjutnya pada siklus kedua mengalami peningkatan menjadi 70,9%, sehingga siswa yang pasif menjadi 29,1%. Hal ini juga dapat dilihat pada keaktifan siswa pada diskusi sebanyak 20 siswa (55%) siswa yang aktif dan aktivitas siswa dalam bertanya sebanyak 6 siswa (16,6%) yang dalam artian mengalami peningkatan keaktifan dari beberapa aspek.

Tabel 5.1 Rata-rata Keaktifan Siswa

No

Siklus

Rata-rata Keaktifan Siswa

1

I

45%

2

II

70,9%

 

Hal ini sesuai dengan Cooperative Learning yaitu PAIKEM, yang menyatakan bahwa tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran adalah lebih kepada kemandirian dan berpikir siswa. Elemen yang dimunculkan dalam kegiatan ini adalah kerja individu, kemampuan berbicara dan mendengarkan (Suprijono, 2009:89).

Sehingga pembelajaran aktif adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi antar siswa maupun dengan guru dalam proses pembelajaran (Samadhi, 2009:47).

Metode pembelajaran Student Facilitator and Explaining ini efektif untuk melatih siswa berbicara dan menyampaikan ide, gagasan atau pendapatnya sendiri karena metode ini didesain agar peserta didik belajar mempresentasikan ide atau pendapat pada rekan peserta didik lainnya.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Jono (1992:19-20) dan Yamin (2007:80-81) menyatakan keaktifan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan manakala:

1)        Pembelajaran yang dilakukan lebih berpusat pada peserta didik;

2)        Pendidik berperan sebagai pembimbing supaya terjadi pengalaman dalam belajar;

3)        Tujuan kegiatan pembelajaran tercapai kemampuan minimal peserta didik (kompetensi dasar);

4)        Pengelolaan kegiatan pembelajaran lebih menekankan pada kreatifitas peserta didik, meningkatkan kemampuan minimalnya, dan mencapai peserta didik yang kreatif serta mampu menguasai konsep-konsep; dan

5)        Melakukan pengukuran secara kontinyu dalam berbagai aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan.

 

1.2 Peningkatan Hasil Belajar dalam Mengapresiasi Puisi dengan Metode Student Facilitator and Explaining

Pemahaman siswa dalam mengapresiasi pusi juga mengalami peningkatan pada setiap siklusnya, sebagaimana yang tercantum dalam tabel 5.2.

Tabel 5.2 Peningkatan Pemahaman Siswa

 No

Siklus

Tingkat Ketuntasan

Nilai Rata-rata

 1

I

48,64%

61,65

 2

II

100%

81,4

 

Dalam memberdayakan peserta didik memang tidak hanya dengan meng-gunakan strategi ceramah saja, sebagaimana yang selama ini digunakan oleh para pendidik dalam proses pembelajaran.

          Student Facilitator and Explaining mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: informasi kompetensi, sajian materi, siswa mengembangkannya dan men-jelaskan lagi kesiswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi serta refleksi (Suyatno, 2009:71).

Dengan adanya metode Student Facilitator and Explaining dapat meningkatkan pemahaman siswa, berbeda dengan metode atau strategi pembelajaran yang diajarkan oleh guru selama ini. Metode ceramah dan penugasan yang digunakan guru oleh guru membuat siswa pasif dalam pem-belajaran, dan membuat siswa menjadi malu untuk berbicara.

Metode Student Facilitator and Explaining merupakan salah satu dari tipe pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis dan penghargaan kelompok (Trianto, 2007:52).

Hal pertama adalah menyiapkan silabus dan RPP dengan baik. Setelah itu mempersiapkan kisi-kisi soal pretest maupun tes akhir, serta lembar observasi keaktifan siswa, agar siswa benar-benar mempersiapkan diri sebelum pelajaran dimulai, maka dibuatlah lembar kerja siswa yang bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa.

Guru profesional adalah guru yang memiliki perencanaan matang sebelum pembelajaran dimulai. Seorang guru harus siap menjadi anggota komunitas belajar seumur hidup. Karena yang terpenting dalam meningkatkan kualitas pendidikan khususnya prestasi siswa adalah guru yang efektif. Dan guru yang efektif akan mengetahui cara membuka pintu hati dan mengajak siswa-siswa mereka untuk belajar.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

1.1  Simpulan

Dari paparan yang telah disampaikan dapat disimpulkan:

  1. Penerapan metode Student facilitator and Explaining dalam meningkatkan keaktifan dan pemahaman siswa dimulai dengan membuat RPP, instrumen soal, lembar kerja siswa, dan lembar observasi keaktifan siswa memberikan perhatian, motivasi, respons yang baik, penguatan dan hukuman.
  2. Peningkatan keaktifan dan pemahaman siswa ini ditandai dengan mening-katnya nilai rata-rata hasil belajar siswa dari 61,5 pada siklus I menjadi 81,4 pada siklus II. Sehingga ketuntasan hasil belajar siswa bertahap dari 48,6% menjadi 100% pada siklus II. Keaktifan siswa juga mengalami peningkatan dari 45% pada siklus I menjadi 70,9% pada siklus II.

1.2 Saran

Penerapan metode Student Facilitator and Explaining ini perlu dikembang-kan pada konsep lain yang memiliki permasalahan yang sama. Pendidik harus memiliki manajemen waktu yang baik agar saat menerapkan metode Student Facilitator and Explaining, yaitu ketika siswa berdiskusi, melakukan persentasi dan tanya jawab, sehingga waktu yang disediakan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh siswa untuk belajar. Apapun yang disampaikan oleh siswa saat berpendapat haruslah menda-patkan penghargaan walau ada kekurangan, karena hal ini membantu siswa untuk memiliki rasa percaya diri saat bertanya maupun meningkat-kan pendapat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Arifin, Muhammad. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Gulo. 2004. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Grasindo.

 

Hamalik, Oemar. 2001. Proses Pembelajaran Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Hamalik, Oemar. 2003. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan

Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Http://smacepiring.wordpress.comp/2008/02/09/19/pendekatan-dan-Metodepem-belajaran/ didownload pada tanggal 10 Mei 2012 pukul 19:20.

 

Joni, Raka. 1992. Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah Melalui Strategi Pembelajaran Aktif (cara Belajar Siswa Aktif) dan Pembinaan Profesional Guru, Kepala Sekolah serta Pembina Lainnya. Jakarta: Rinehart and Wiston.

 

Kesuma, Tri Mastoyo Jati. 2007. Pengantar (Metode) Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Carosvatibooks.

 

Kunandar. 2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan  Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

 

Miles, MB dan AM Huberman. 1992. Qualitative Data Analysis: a Sourceb of New Methods. SAGE. Baverly Hills.

 

Mulyono, Anton. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Prasetya, Joko Tri. 2005. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia.

Samadhi. 2009. Pembelajaran Aktif (Active Learning). TIW. 1(1): 46-50.

 

Soekartawi. 1995. Meningkatkan Efektifitas Mengajar. Jakarta: Pustaka Jaya.

 

 

Sukamto. 2000. Penelitian Tindakan (Action Research). Yogyakarta: Universitas

Negeri Yogyakarta (UNY).

 

Saukah, Ali. Dkk. 2012. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Edisi Kelima. Malang: Universitas Negeri Malang.

 

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Sumardjono, Jakob dan Saini KM. 1991. Apresiasi Kesusastraa. Jakarta: Gramedia Pustaka Cipta.

 

Tarigan, Djago. 1997. Pendidikan Keterampilan Berbahasa di Sekolah. Jakarta:

Rineka Cipta.

 

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Indonesa.

 

Yamin, Martinis. 2007.  Kiat Membelajarkan Siswa. Jakarta: Gaung Persada Press

Jakarta.

 

SINTAKSIS

Gambar

SINTAKSIS

                Istilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani (Sun + tattein) yang berarti mengatur bersama-sama. Manaf (2009:3) menjelaskan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang membahas struktur internal kalimat. Struktur internal kalimat yang dibahas adalah frasa, klausa, dan kalimat. Jadi frasa adalah objek kajian sintaksis terkecil dan kalimat adalah objek kajian sintaksis terbesar.

1. Frasa

                Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 2003:222). Perhatikan contoh-contoh berikut.

  1. bayi sehat
  2. pisang goreng
  3. baru datang
  4. sedang membaca

                Satuan bahasa bayi sehat, pisang goreng, baru datang, dan sedang membaca adalah frasa karena satuan bahasa itu tidak membentuk hubungan subjek dan predikat. Widjono (2007:140) membedakan frasa berdasarkan kelas katanya yaitu frasa verbal, frasa adjektiva, frasa pronominal, frasa adverbia, frasa numeralia, frasa interogativa koordinatif, frasa demonstrativa koordinatif, dan frasa preposisional koordinatif. Berikut ini dijelaskan satu persatu jenis frasa.

1.1.      Frasa verbal

                Frasa verbal adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata kerja. Frasa verbal terdiri dari tiga macam seperti yang dijelaskan berikut ini.

a. Frasa verbal modifikatif (pewatas) yang dibedakan menjadi.

 – Pewatas belakang, seperti contoh berikut ini.

  1. Ia bekerja keras sepanjang hari.
  2. Orang itu bekerja cepat setiap hari.

 – Pewatas depan, seperti contoh berikut ini.

  1. Kami akan menyanyikan lagu kebangsaan.
  2. Mereka pasti menyukai makanan itu.

 b. Frasa verbal koordinatif yaitu dua verba yang disatukan dengan kata penghubung dan atau atau, seperti contoh berikut ini.

  1. Mereka mencuci dan menjemur pakaiannya.
  2. Kita  pergi atau menunggu ayah.

 c. Frasa verbal apositif yaitu sebagai keterangan yang ditambahkan atau diselipkan. Contohnya adalah sebagai berikut.

  1. Aie Pacah, tempat tinggal saya, akan menjadi pusat pemerintahan kota Padang.
  2. Usaha Pak Ali, berdagang kain, kini menjadi grosir.

1.2.      Frasa Adjektival

                Frasa adjektival adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata sifat atau keadaan sebagai inti (yang diterangkan) dengan menambahkan kata lain yang berfungsi menerangkan seperti agak, dapat, harus, kurang, lebih, paling, dan sangat. Frasa adjektival mempunyai tiga jenis seperti yang dijelaskan berikut ini.

 a. Frasa adjektival modifikatif (membatasi), contohnya adalah sebagai berikut.

  1. Tampan nian kekasih barumu.
  2. Hebat benar kelakuannya.

 b. Frasa adjektival koordinatif (menggabungkan), contohnya adalah sebagai berikut.

  1. Setelah pindah, dia aman tentram di rumah barunya.
  2. Dia menginginkan pria yang tegap kekar untuk menjadi suaminya.

 c. Frasa adjektival apositif seperti contoh berikut ini.

  1. Srikandi cantik, ayu rupawan, diperistri oleh Arjuna.
  2. Skripsi yang berkualitas, terpuji dan terbaik, diterbitkan oleh Universitas.

1.3. Frasa Nominal

                Frasa nominal adalah kelompok kata benda yang dibentuk dengan memperluas sebuah kata benda. Frasa nominal dibagi menjadi tiga jenis seperti yang dijelaskan berikut ini.

 a. Frasa nominal modifikatif (mewatasi), misalnya rumah mungil, hari minggu, bulan pertama. Contohnya seperti berikut ini.

  1. Pada hari minggu layanan pustaka tetap dibuka.
  2. Pada bulan pertama setelah menikah, mereka sudah mulai bertengkar.

 b. Frasa nominal koordinatif (tidak saling menerangkan), misalnya hak dan kewajiban, dunia akhirat, lahir bathin, serta adil dan makmur. Contohnya seperti berikut ini.

  1. Seorang PNS harus memahami hak dan kewajiban sebagai aparatur negara.
  2. Setiap orang menginginkan kebahagiaan dunia akhirat.

 c. Frasa nominal apositif, contohnya seperti berikut ini.

  1. Anton, mahasiswa teladan itu, kini menjadi dosen di Universitasnya.
  2. Burung Cendrawasih, burung langka dari Irian itu, sudah hampir punah.

1.4.      Frasa adverbial

Frasa adverbial adalah kelompok kata yang dibentuk dengan keterangan kata sifat. Frasa adverbial dibagi dua jenis yaitu.

 a. Frasa adverbial yang bersifat modifikatif (mewatasi), misalnya sangat pandai, kurang pandai, hampir baik, dan pandai sekali. Contoh dalam kalimat seperti berikut ini.

  1. Dia kurang pandai bergaul di lingkungan tempat tinggalnya.
  2. Kemampuan siswa saya dalam mengarang berada pada kategori hampir baik.

 b. Frasa adverbial yang bersifat koordinatif  (tidak saling menerangkan), contohnya seperti berikut ini.

  1. Jarak rumah ke kantornya lebih kurang dua kilometer.

1.5. Frasa Pronominal

                Frasa pronominal adalah frasa yang dibentuk dengan kata ganti. Frasa pronominal terdiri dari tiga jenis yaitu seperti berikut ini.

 a. Frasa pronominal modifikatif, contohnya seperti berikut.

  1. Kami semua dimarahi guru karena meribut.
  2. Mereka berdua minta izin karena mengikuti perlombaan.

 b. Frasa pronominal koordinatif, contohnya seperti berikut.

  1. Aku dan kau suka dancow.
  2. Saya dan dia sudah lama tidak bertegur sapa.

 b. Frasa pronominal apositif, contohnya seperti berikut.

  1. Kami, bangsa Indonesia, menyatakan perang terhadap korupsi.
  2. Mahasiswa, para pemuda, siap menjadi pasukan anti korupsi.

1.6. Frasa Numeralia

                Frasa numeralia adalah kelompok kata yang dibentuk dengan kata bilangan. Frasa numeralia terdiri dari dua jenis yaitu.

 a. Frasa numeralia modifikatif, contohnya seperti di bawah ini.

  1. Mereka memotong dua puluh ekor sapi kurban.
  2. Orang itu menyumbang pembangunan jalan dua juta rupiah.

 b. Frasa numeralia koordinatif, contohnya seperti di bawah ini.

  1. Lima atau enam orang bertopeng melintasi kegelapan pada gang itu.
  2. Entah tiga, entah empat kali dia sudah meminjam uang saya.

1.7. Frasa Introgativa koordinatif

                Frasa introgativa koordinatif adalah frasa yang berintikan pada kata tanya. Contohnya seperti berikut ini.

  1. Jawaban apa atau siapa merupakan ciri subjek kalimat.
  2. Jawaban mengapa atau bagaimana merupakan pertanda jawaban prediket.

1.8. Frasa Demonstrativa koordinatif

                Frasa demonstrativa koordinatif adalah frasa yang dibentuk dengan dua kata yang tidak saling menerangkan. Contohnya seperti berikut ini.

  1. Saya bekerja di sana atau di sini sama saja.
  2. Saya memakai baju ini atau itu tidak masalah.

1.9. Frasa Proposional Koordinatif

                Frasa proposional koordinatif dibentuk dari kata depan dan tidak saling menerangkan. Contohnya seperti berikut.

  1. Perjalanan kami dari dan ke Bandung memerlukan waktu enam jam.
  2. Koperasi dari, oleh dan untuk anggota.

2. Klausa

                Klausa adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung unsur predikatif (Keraf, 1984:138). Klausa berpotensi menjadi kalimat. (Manaf, 2009:13) menjelaskan bahwa yang membedakan klausa dan kalimat adalah intonasi final di akhir satuan bahasa itu. Kalimat diakhiri dengan intonasi final, sedangkan klausa tidak diakhiri intonasi final. Intonasi final itu dapat berupa intonasi berita, tanya, perintah, dan kagum.

Widjono (2007:143) membedakan klausa sebagai berikut.

2.1. Klausa kalimat majemuk setara

                Dalam kalimat majemuk setara (koordinatif), setiap klausa memiliki kedudukan yang sama. Kalimat majemuk koordinatif dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan. Contohnya sebagai berikut.

Rima membaca kompas, dan adiknya bermain catur.

                Klausa pertama Rima membaca kompas. Klausa kedua adiknya bermain catur. Keduanya tidak saling menerangkan.

2.2. Klausa kalimat majemuk bertingkat

                Kalimat majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa lainnya. Contohnya sebagai berikut.

Orang itu pindah ke Jakarta setelah suaminya bekerja di Bank Indonesia.

                Klausa orang itu pindah ke Jakarta sebagai klausa utama (lazim disebut induk kalimat) dan klausa kedua suaminya bekerja di Bank Indonesiamerupakan klausa sematan (lazim disebut anak kalimat).

2.3. Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat

                Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga klausa atau lebih. Contohnya seperti berikut ini.

  1. Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi.

Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa yaitu.

1)      Dia pindah ke Jakarta (klausa utama)

2)      Setelah ayahnya meninggal (klausa sematan)

3)      Ibunya kawin lagi (klausa sematan)

  1. Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal. (Kalimat majemuk bertingkat)
  2. Ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. (Kalimat majemuk setara)

3. Kalimat

                Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran (Widjono:146). Manaf (2009:11) lebih menjelaskan dengan membedakan kalimat menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam bahasa lisan, kalimat adalah satuan bahasa yang mempunyai ciri sebagai berikut: (1) satuan bahasa yang terbentuk atas gabungan kata dengan kata, gabungan kata dengan frasa, atau gabungan frasa dengan frasa, yang minimal berupa sebuah klausa bebas yang minimal mengandung satu subjek dan prediket, baik unsur fungsi itu eksplisit maupun implisit; (2) satuan bahasa itu didahului oleh suatu kesenyapan awal, diselingi atau tidak diselingi oleh kesenyapan antara dan diakhiri dengan kesenyapan akhir yang berupa intonasi final, yaitu intonasi berita, tanya, intonasi perintah, dan intonasi kagum. Dalam bahasa tulis, kalimat adalah satuan bahasa yang diawali oleh huruf kapital, diselingi atau tidak diselingi tanda koma (,), titik dua (:), atau titik koma (;), dan diakhiri dengan lambang intonasi final yaitu tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).

3.1. Ciri-ciri kalimat

Widjono (2007:147) menjelaskan ciri-ciri kalimat sebagai berikut.

  1. Dalam bahasa lisan diawali dengan kesenyapan dan diakhiri dengan kesenyapan. Dalam bahasa tulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.
  2. Sekurang-kurangnya terdiri dari atas subjek dan prediket.
  3. Predikat transitif disertai objek, prediket intransitif dapat disertai pelengkap.
  4. Mengandung pikiran yang utuh.
  5. Mengandung urutan logis, setiap kata atau kelompok kata yang mendukung fungsi (subjek, prediket, objek, dan keterangan) disusun dalam satuan menurut fungsinya.
  6. Mengandung satuan makna, ide, atau pesan yang jelas.
  7. Dalam paragraf yang terdiri dari dua kalimat atau lebih, kalimat-kalimat disusun dalam satuan makna pikiran yang saling berhubungan.

3.2. Fungsi sintaksis dalam kalimat

                Fungsi sintaksis pada hakikatnya adalah ”tempat” atau ”laci” yang dapat diisi oleh bentuk bahasa tertentu (Manaf, 2009:34). Wujud fungsi sintaksis adalah subjek (S), prediket (P), objek (O), pelengkap (Pel.), dan keterangan (ket). Tidak semua kalimat harus mengandung semua fungsi sintaksis itu. Unsur fungsi sintaksis yang harus ada dalam setiap kalimat adalah subjek dan prediket, sedangkan unsur lainnya, yaitu objek, pelengkap dan keterangan merupakan unsur penunjang dalam kalimat. Fungsi sintaksis akan dijelaskan berikut ini.

 a. Subjek

                Fungsi subjek merupakan pokok dalam sebuah kalimat. Pokok kalimat itu dibicarakan atau dijelaskan oleh fungsi sintaksis lain, yaitu prediket. Ciri-ciri subjek adalah sebagai berikut:

  1. jawaban apa atau siapa,
  2. dapat didahului oleh kata bahwa,
  3. berupa kata atau frasa benda (nomina)
  4. dapat diserta kata ini atau itu,
  5. dapat disertai pewatas yang,
  6. tidak didahului preposisi di, dalam, pada, kepada, bagi, untuk, dan lain-lain,
  7. tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat diingkarkan dengan kata bukan.

Hubungan subjek dan prediket dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.

  1. Adik bermain.

S         P

  1. Ibu memasak.

S        P

 b. Predikat

                Predikat merupakan unsur yang membicarakan atau menjelaskan pokok kalimat atau subjek. Hubungan predikat dan pokok kalimat dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.

  1. Adik bermain.

S        P

Adik adalah pokok kalimat

bermain adalah yang menjelaskan pokok kalimat.

  1. Ibu memasak.

S        P

Ibu adalah pokok kalimat

memasak adalah yang menjelaskan pokok kalimat.

Prediket mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. bagian kalimat yang menjelaskan pokok kalimat,
  2. dalam kalimat susun biasa, prediket berada langsung di belakang subjek,
  3. prediket umumnya diisi oleh verba atau frasa verba,
  4. dalam kalimat susun biasa (S-P) prediket berintonasi lebih rendah,
  5. prediket merupakan unsur kalimat yang mendapatkan partikel –lah,
  6. prediket dapat merupakan jawaban dari pertanyaan apa yang dilakukan (pokok kalimat) atau bagaimana (pokok kalimat).

 c. Objek

                Fungsi objek adalah unsur kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba transitif pengisi predikat dalam kalimat aktif. Objek dapat dikenali dengan melihat verba transitif pengisi predikat yang mendahuluinya seperti yang terlihat pada contoh di bawah ini.

  1. Dosen menerangkan materi.

S              P               O

menerangkan adalah verba transitif.

  1. Ibu menyuapi adik.

S         P          O

Menyuapi adalah verba transitif.

Objek mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. berupa nomina atau frasa nominal seperti contoh berikut,
  2. Ayah membaca koran.

S           P           O

Koran adalah nomina.

  1. Adik memakai tas baru.

S          P            O

Tas baru adalah frasa nominal

  1. berada langsung di belakang predikat (yang diisi oleh verba transitif) seperti contoh berikut,
  2. Ibu memarahi kakak.

S         P           O

  1. Guru membacakan pengumuman.

S             P                    O

  1. dapat diganti enklitik –nya, ku atau –mu, seperti contoh berikut,
  2. Kepala sekolah mengundang wali murid.

S                     P                 O

  1. Kepala sekolah mengundangnya.

S                      P          O

  1. objek dapat menggantikan kedudukan subjek ketika kalimat aktif transitif dipasifkan, seperti contoh berikut,
  2. Ani membaca buku.

S        P           O

  1. Buku dibaca Ani.

S        P     Pel.

 d. Pelengkap

                Pelengkap adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi, mengkhususkan objek, dan melengkapi struktur kalimat. Pelengkap (pel.) bentuknya mirip dengan objek karena sama-sama diisi oleh nomina atau frasa nominal dan keduanya berpotensi untuk berada langsung di belakang predikat. Kemiripan antara objek dan pelengkap dapat dilihat pada contoh berikut.

  1. Bu Minah berdagang sayur di pasar pagi.

S              P            pel.         ket.

  1. Bu Minah menjual sayur di pasar pagi.

S              P         O           ket.

Pelengkap mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. pelengkap kehadirannya dituntut oleh predikat aktif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks ber dan predikat pasif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks di- atau ter-, seperti contoh berikut.
  2.  
  3. Bu Minah berjualan sayur di pasar pagi.

S             P           Pel.        Ket.

  1.  
  2. Buku dibaca Ani.

S       P      Pel.

  1. pelengkap merupakan fungsi kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba dwitransitif pengisi predikat seperti contoh berikut.
  2.  
  3. Ayah membelikan adik mainan.

S            P            O        Pel.

membelikan adalah verba dwitransitif.

  1. pelengkap merupakan unsur kalimat yang kehadirannya mengikuti predikat yang diisi oleh verba adalah, ialah, merupakan, dan menjadi, seperti contoh berikut.
  2.  
  3. Budi menjadi siswa teladan.

S        P               Pel.

  1.  
  2. Kemerdekaan adalah hak semua bangsa.

S               P                 Pel.

  1. dalam kalimat, jika tidak ada objek, pelengkap terletak langsung di belakang predikat, tetapi kalau predikat diikuti oleh objek, pelengkap berada di belakang objek, seperti pada contoh berikut.
  2.  
  3. Pak Ali berdagang buku bekas.

S            P               Pel.

  1.  
  2. Ibu membelikan Rani jilbab.

S           P            O     Pel.

  1. pelengkap tidak dapat diganti dengan pronomina –nya, seperti contoh berikut.
  2.  
  3. Ibu memanggil adik.

S          P           O

Ibu memanggilnya.

S          P         O

  1.  
  2. Pak Samad berdagang rempah.

S               P            Pel.

Pak Samad berdagangnya (?)

  1. satuan bahasa pengisi pelengkap dalam kalimat aktif tidak mampu menduduki fungsi subjek apabila kalimat aktif itu dijadikan kalimat pasif seperti contoh berikut.
  2.  
  3. Pancasila merupakan dasar negara.

S               P                Pel.

  1.  
  2. Dasar negara dirupakan pancasila (?)

3.2.5.      Keterangan

Keterangan adalah unsur kalimat yang memberikan keterangan kepada seluruh kalimat. Sebagian besar unsur keterangan merupakan unsur tambahan dalam kalimat. Keterangan sebagai unsur tambahan dalam kalimat dapat dilihat pada contoh berikut.

100.Ibu membeli kue di pasar.

S        P        O   Ket. tempat

101.Ayah menonton TV tadi pagi.

S          P         O  Ket. waktu

Keterangan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

102.umumnya merupakan keterangan tambahan atau unsur yang tidak wajib dalam kalimat, seperti contoh berikut.

  1. Saya membeli buku.

S         P          O

103.Saya membeli buku di Gramedia.

S          P          O   Ket. tempat

104.keterangan dapat berpindah tempat tanpa merusak struktur dan makna kalimat, seperti contoh berikut.

  1. Dia membuka bungkusan itu dengan hati-hati.

S         P                O                  Ket. cara

105.Dengan hati-hati dia membuka bungkusan itu.

Ket. cara        S         P                O

106.keterangan diisi oleh adverbia, adjektiva, frasa adverbial, frasa adjektival, dan klausa terikat, seperti contoh berikut.

  1. Ali datang kemarin.

S     P      Ket. waktu

107.Ibu berangkat kemarin sore.

S        P          Ket. waktu

Manaf (2009:51) membedakan keterangan berdasarkan maknanya seperti dijelaskan berikut.

108.Keterangan tempat

Keterangan tempat adalah keterangan yang mengandung makna tempat. Keterangan tempat dimarkahi oleh preposisi di, ke, dari (di) dalam, seperti contoh berikut.

109.Ayah pulang dari kantor.

S        P     Ket, tempat

110.Irfan bermain bola di lapangan.

S         P         O   Ket. tempat

111.Keterangan waktu

Keterangan waktu adalah keterangan yang mengandung makna waktu. Keterangan waktu dimarkahi oleh preposisi pada, dalam, se-, sepanjang, selama, sebelum, sesudah. Selain itu ada keterangan waktu yang tidak diawali oleh preposisi, misalnya sekarang, besok, kemarin, nanti. Keterangan waktu dalam kalimat seperti contoh berikut.

112.Dia akan datang pada hari ini.

S           P          Ket. waktu

113.Dia menderita sepanjang hidupnya.

S          P           Ket. waktu

114.Keterangan alat

Keterangan alat adalah keterangan yang mengandung makna alat. Keterangan alat dimarkahi oleh preposisi dengan dan tanpa. Keterangan alat dalam kalimat seperti contoh berikut.

115.Ibu menghaluskan bumbu dengan blender.

S           P                 O         Ket. alat

116.Kue itu dibuat tanpa cetakan.

S         P       Ket. alat

117.Keterangan cara

Keterangan cara adalah keterangan yang berdasarkan relasi antarunsurnya, bermakna cara dalam melakukan kegiatan tertentu. Keterangan cara dimarkahi oleh preposisi dengan, secara, dengan cara, dengan jalan, tanpa. Pemakaian keterangan cara dalam kalimat seperti contoh berikut.

118.Dia memasuki rumah kosong itu dengan hati-hati.

S         P                   O                    Ket. cara

119.Habib mengendarai sepedanya dengan pelan-pelan.

S              P                 O              Ket. cara

120.Keterangan tujuan

Keterangan tujuan adalah keterangan yang dalam hubungan antar unsurnya mengandung makna tujuan. Keterangan tujuan dimarkahi oleh preposisi agar, supaya, untuk, bagi, demi. Pemakaian keterangan tujuan dalam kalimat seperti contoh berikut.

121.Arif giat belajar agar naik kelas.

S          P            Ket. tujuan

122.Adonan itu diaduk supaya cepat kembang.

S               P            Ket. tujuan

123.Keterangan penyerta

Keterangan penyerta adalah keterangan yang berdasarkan relasi antarunsurnya yang membentuk makna penyerta. Keterangan penyerta dimarkahi oleh preposisi dengan, bersama, beserta seperti yang terdapat dibawah ini.

124.Mahasiswa pergi studi banding bersama dosen.

S           P               Pel        Ket. Penyerta

125.Orang itu pindah bersama anak isterinya.

S           P             Ket. penyerta

126.Keterangan perbandingan

Keterangan perbandingan adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna perbandingan. Keterangan perbandingan dimarkahi oleh preposisi seperti, bagaikan, laksana, seperti contoh berikut ini.

127.Dia gelisah seperti cacing kepanasan.

S       P          Ket. Perbandingan

128.Suara orang itu keras bagaikan halilintar.

S             P    Ket. Perbandingan

129.Keterangan sebab

Keterangan sebab adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna sebab. Keterangan sebab dimarkahi oleh konjungtorsebab dan karena, seperti contoh berikut.

130.Sebagian besar rumah rusak karena gempa.

S                    P       Ket. sebab

131.Rakyat semakin menderita karena harga beras semakin naik.

S                  P                               Ket. sebab

132.Keterangan akibat

Keterangan akibat adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna akibat. Keterangan akibat dimarkahi oleh konjungtorsehingga dan akibatnya, seperti contoh berikut ini.

133.Dia sering berbohong sehingga temannya tidak percaya kepadanya.

S               P                                    Ket. Akibat

134.Hutan lindung ditebang akibatnya sering terjadi tanah longsor.

S                 P                         Ket. Akibat

10.  Keterangan syarat

Keterangan syarat adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna syarat. Keterangan syarat dimarkahi oleh konjungtorjika dan apabila, seperti contoh berikut ini.

135.Saya akan datang jika dia mengundang saya.

S            P                     Ket. Syarat

136.Jika para pemimpin Indonesia jujur, rakyat akan sejahtera.

Ket. Syarat                         S              P

11.  Keterangan pengandaian

Keterangan pengandaian adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna pengandaian. Keterangan pengandaian dimarkahi oleh konjungtor andaikata, seandainya dan andaikan, seperti contoh berikut ini.

137.Andaikan bulan bisa ngomong, dia tidak akan bohong.

Ket. Pengandaian             S               P

138.Seandainya saya orang kaya, saya akan membantu orang miskin.

Ket. pengandaian           S                P                    O

12.  Keterangan atributif

Keterangan atributif adalah keterangan yang relasi antarunsurnya membentuk makna penjelasan dari suatu nomina. Keterangan atibutif dimarkahi oleh konjungtor yang, seperti contoh berikut ini.

139.Mahasiswa yang indeks prestasinya paling tinggi mendapat

Ket. Atributif (S)                                P

beasiswa.

O

140.Guru yang berbaju hijau itu adalah wali kelas saya.

Ket. Atributif (S)            P                O

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.

Manaf, Ngusman Abdul, 2009. Sintaksis: Teori dan Terapannya dalam Bahasa Indonesia. Padang: Sukabina Press.

Widjono HS. 2007. Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo.

SINTAKSIS DALAM TATARAN LINGUISTIK

SINTAKSIS

  1. A.    Pengertian Sintaksis

Sintaksis adalah tatabahasa yang membahas hubungan antara kata dalam tuturan. Tata bahasa terdiri atas morfologi dan sintaksis. Morfologi itu menyangkut struktur gramatikal di dalam kata, dan sintaksis itu berurusan dengan tata bahasa diantara kata-kata di dalam tuturan.

Pada dasarnya sintaksis itu berurusan dengan hubungan antar kata di dalam kalimat. Sebenarnya, hal itu tidak seluruhnya benar, tetapi sebagai patokan umum dapat diterima. Hubungan antara kalimat termasuk “analisis wacana”, dan hubungan antara tatabahasa (termasuk sintaksis) kalimat dengan wadahnya di dalam wacana perlu diperhatikan. Jadi, sintaksis dianggap menyangkut hubungan gramatikal antar kata di dalam kalimat.

 

  1. B.     Struktur Sintaksis

Secara umum struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan. Menurut Verhar (1978) fungsi-fungsi sintaksis itu yang terdiri dari unsur-unsur S, P, O, dan K itu merupakan “kotak-kotak kosong” atau “tempat0tempat kosong” yang tidak mempunyai arti apa-apa karenan kekosongannya. Tempat-tempat kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu.

Contoh kalimat:          Nenek melirik kakek tadi pagi.

Tempat kosong yang bernama subjek disi oleh kata nenek yang berkategori nomina, tempat kosong yang bernama predikat diisi oleh kata melirik  yang berkategori verba, tempat kosong yang bernama objek diisi oleh kata  kakek yang berkategori nomina, dan tempat kosong yang bernama keterangan diisi oleh frasa tadi pagi yang berkategori nomina.

 

  1. C.    Kata sebagai Satuan Sintaksis

Dalam tataran morfologi kata merupakan satuan terbesar (satuan terkecilnya adalah morfem), tetapi dalam tataran sintaksis kata merupakan satuan terkecil yang secara hierarkial menjadi komponen pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frase. Kata sebagai satuan sintaksis, yaitu dalam hubungannya dengan unsure-unsur pembentuk satuan sintaksis yang lebih besar, yaitu frasa, klausa, dan kalimat. Sebagai satuan terkecill dalam sintaksis, kata berperanan sebagai pengisi fungsi sintaksis, sebagai penanda kategori sintaksis, dan sebagai perangkai dalam penyatuan satuan-satuan atau bagian-bagian dari satuan sintaksis.

Dalam pembicaraan kata sebagai pengisi satuan sintaksis, pertama-pertama harus kita bedakan dulu  adanya dua macam kata, yaitu yang disebut kata penuh (fullword) dan kata tugas (functionword). Kata penuh adalah kata yang secara leksikal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk mengalami proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat bersendiri sebagai sebuah satuan tuturan.

Sedangkan yang disebut kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas tertutup, dan di dalam pertuturan dia tidak dapat bersendiri.

 

  1. D.    Frasa

Frasa lazim didefinisikan seagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabunngan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.

  1. Jenis-jenis Frasa

Dalam pembicaraan tentang frasa biasanya dibedakan adanya frasa eksosentrik, frasa endosentrik (disebut juga frasa subordiatif atau frasa modifikatif), dan frasa apositif.

  1. Frasa eksosentrik

Frasa eksosentrik adalah frasa yang komponen-komponennya tidak mempunyai perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misalnya, frasa di pasar, yang terdiri dari komponen di, dan komponen pasar. Secara keseluruhan atau secara utuh frasa ini dapat mengisi fungsi  keterangan.

Frasa eksosentris biasanya dibedakan atas frasa eksosentris yang direktif dan frasa eksosentris yang nondirektif. Frasa eksosentris yang direktif komponen pertamnya berupa preposisi, seperti di, ke, dan  dari, dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata yang biasanya berkategori nomina. Frasa eksosentrik yang nondirektif komponen pertamanya berupa artikulus, seperti  si, dan sang atau kata lain seperti  yang, para¸dan kaum. Sedangkan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, ajektifa, atau verba.

 

 

  1. Frasa koordinatif

Frasa koordinatif adalah frasa yang komponen pembentuknya terdiri dari dua komponen atau lebih yang sama dan sederajat, dan secara potensial dapat dihubungkan oleh konjungsi koordinatif, baik yang tunggal seperti dan, atau, tetapi, maupun konjungsi terbagi seperti baik…., baik….., mungkin…., mungkin,  dan baik…., maupun.

  1. c.       Frasa apositif

Frasa apositif adalah frasa koordinatif yang kedua komponennya saling merujuk sesamanya dan oleh karena itu, urutan komponennya dapat dipertukarkan. Umpamanya, frasa apositif Pak Ahmad, guru saya.

  1. d.      Perluasan frasa

Maksudnya, frasa itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian yang akan ditampilkan. Ummpanya, frasa di kamar tidur dapat diperluas dengan diberi komponen baru. Misalnya, berupa kata saya, ayah, atau belakang sehingga menjadi di kamar tidur saya, di kamar tidur ayah, di kamar tidur belakang.

  1. E.     Klausa

Klausa adalah sebuah konstruksi yang di dalamnya terdapat beberapa kata yang mengandung unsur predikatif (Keraf, 1984:138). Klausa berpotensi menjadi kalimat. (Manaf, 2009:13) menjelaskan bahwa yang membedakan klausa dan kalimat adalah intonasi final di akhir satuan bahasa itu. Kalimat diakhiri dengan intonasi final, sedangkan klausa tidak diakhiri intonasi final. Intonasi final itu dapat berupa intonasi berita, tanya, perintah, dan kagum. Widjono (2007:143) membedakan klausa sebagai berikut.

  1. Klausa kalimat majemuk setara

Dalam kalimat majemuk setara (koordinatif), setiap klausa memiliki kedudukan yang sama. Kalimat majemuk koordinatif dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan.

Contohnya sebagai berikut:

Rima membaca kompas, dan adiknya bermain catur.

Klausa pertama Rima membaca kompas. Klausa kedua adiknya bermain catur. Keduanya tidak saling menerangkan.

  1. Klausa kalimat majemuk bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa lainnya. Contohnya sebagai berikut. Orang itu pindah ke Jakarta setelah suaminya bekerja di Bank Indonesia. Klausa orang itu pindah ke Jakarta sebagai klausa utama (lazim disebut induk kalimat) dan klausa kedua suaminya bekerja di Bank Indonesiamerupakan klausa sematan (lazim disebut anak kalimat).

  1. Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat

Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga klausa atau lebih. Contohnya seperti berikut ini. Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa yaitu. 1) Dia pindah ke Jakarta (klausa utama) 2) Setelah ayahnya meninggal (klausa sematan) 3) Ibunya kawin lagi (klausa sematan) Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal. (Kalimat majemuk bertingkat) Ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. (Kalimat majemuk setara)

  1. F.     Kalimat

Kalimat adalah satuan bahasa terkecil yang merupakan kesatuan pikiran (Widjono:146). Manaf (2009:11) lebih menjelaskan dengan membedakan kalimat menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis. Dalam bahasa lisan, kalimat adalah satuan bahasa yang mempunyai ciri sebagai berikut:

  1. Satuan bahasa yang terbentuk atas gabungan kata dengan kata, gabungan kata dengan frasa, atau gabungan frasa dengan frasa, yang minimal berupa sebuah klausa bebas yang minimal mengandung satu subjek dan prediket, baik unsur fungsi itu eksplisit maupun implisit;
  2. Satuan bahasa itu didahului oleh suatu kesenyapan awal, diselingi atau tidak diselingi oleh kesenyapan antara dan diakhiri dengan kesenyapan akhir yang berupa intonasi final, yaitu intonasi berita, tanya, intonasi perintah, dan intonasi kagum.
    Dalam bahasa tulis, kalimat adalah satuan bahasa yang diawali oleh huruf kapital, diselingi atau tidak diselingi tanda koma (,), titik dua (:), atau titik koma (;), dan diakhiri dengan lambang intonasi final yaitu tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!).

Ciri-ciri kalimat Widjono (2007:147) menjelaskan ciri-ciri kalimat sebagai berikut. Dalam bahasa lisan diawali dengan kesenyapan dan diakhiri dengan kesenyapan. Dalam bahasa tulis diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru, Sekurang-kurangnya terdiri dari atas subjek dan prediket. Predikat transitif disertai objek, prediket intransitif dapat disertai pelengkap. Mengandung pikiran yang utuh. Mengandung urutan logis, setiap kata atau kelompok kata yang mendukung fungsi (subjek, prediket, objek, dan keterangan) disusun dalam satuan menurut fungsinya. Mengandung satuan makna, ide, atau pesan yang jelas.

Dalam paragraf yang terdiri dari dua kalimat atau lebih, kalimat-kalimat disusun dalam satuan makna pikiran yang saling berhubungan. 3.2. Fungsi sintaksis dalam kalimat Fungsi sintaksis pada hakikatnya adalah ”tempat” atau ”laci” yang dapat diisi oleh bentuk bahasa tertentu (Manaf, 2009:34). Wujud fungsi sintaksis adalah subjek (S), prediket (P), objek (O), pelengkap (Pel.), dan keterangan (ket). Tidak semua kalimat harus mengandung semua fungsi sintaksis itu. Unsur fungsi sintaksis yang harus ada dalam setiap kalimat adalah subjek dan prediket, sedangkan unsur lainnya, yaitu objek, pelengkap dan keterangan merupakan unsur penunjang dalam kalimat. Fungsi sintaksis akan dijelaskan berikut ini.

  1. Subjek

Fungsi subjek merupakan pokok dalam sebuah kalimat. Pokok kalimat itu dibicarakan atau dijelaskan oleh fungsi sintaksis lain, yaitu prediket. Ciri-ciri subjek adalah sebagai berikut: jawaban apa atau siapa, dapat didahului oleh kata bahwa, berupa kata atau frasa benda (nomina) dapat diserta kata ini atau itu, dapat disertai pewatas yang, tidak didahului preposisi di, dalam, pada, kepada, bagi, untuk, dan lain-lain, tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, tetapi dapat diingkarkan dengan kata bukan.
Hubungan subjek dan prediket dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.
Adik bermain (S) Ibu memasak. S

  1. Predikat

Predikat merupakan unsur yang membicarakan atau menjelaskan pokok kalimat atau subjek. Hubungan predikat dan pokok kalimat dapat dilihat pada contoh-contoh di bawah ini.
Adik bermain. (S) Adik adalah pokok kalimat bermain adalah yang menjelaskan pokok kalimat.
Ibu memasak. S P Ibu

  1. Objek

Fungsi objek adalah unsur kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba transitif pengisi predikat dalam kalimat aktif. Objek dapat dikenali dengan melihat verba transitif pengisi predikat yang mendahuluinya seperti yang terlihat pada contoh di bawah ini.
Dosen menerangkan materi. S P O
menerangkan adalah verba transitif.
Ibu menyuapi adik. S P O
Menyuapi adalah verba transitif. Objek mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: berupa nomina atau frasa nominal seperti contoh berikut,
Ayah membaca koran. S P O      Koran adalah nomina.
Adik memakai tas baru. S P O Tas baru adalah frasa nominal berada langsung di belakang predikat (yang diisi oleh verba transitif) seperti contoh berikut,
Ibu memarahi kakak. S P O
Guru membacakan pengumuman. S P O
dapat diganti enklitik –nya, ku atau –mu, seperti contoh berikut,
Kepala sekolah mengundang wali murid. S P O
Kepala sekolah mengundangnya. S P O
objek dapat menggantikan kedudukan subjek ketika kalimat aktif transitif dipasifkan, seperti contoh berikut,
Ani membaca buku. S P O Buku dibaca Ani. S P Pel.

  1. Pelengkap

Pelengkap adalah unsur kalimat yang berfungsi melengkapi informasi, mengkhususkan objek, dan melengkapi struktur kalimat. Pelengkap (pel.) bentuknya mirip dengan objek karena sama-sama diisi oleh nomina atau frasa nominal dan keduanya berpotensi untuk berada langsung di belakang predikat. Kemiripan antara objek dan pelengkap dapat dilihat pada contoh berikut.
Bu Minah berdagang sayur di pasar pagi. S P pel. ket.
Bu Minah menjual sayur di pasar pagi. S P O ket. Pelengkap
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: pelengkap kehadirannya dituntut oleh predikat aktif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks ber dan predikat pasif yang diisi oleh verba yang dilekati oleh prefiks di- atau ter-, seperti contoh berikut.
Bu Minah berjualan sayur di pasar pagi. S P Pel. Ket. Buku dibaca Ani. S P Pel.
pelengkap merupakan fungsi kalimat yang kehadirannya dituntut oleh verba dwitransitif pengisi predikat seperti contoh berikut.
Ayah membelikan adik mainan. S P O Pel.
membelikan adalah verba dwitransitif. pelengkap merupakan unsur kalimat yang kehadirannya mengikuti predikat yang diisi oleh verba adalah, ialah, merupakan, dan menjadi, seperti contoh berikut.
Budi menjadi siswa teladan. S P Pel.
Kemerdekaan adalah hak semua bangsa. S P Pel.
dalam kalimat, jika tidak ada objek, pelengkap terletak langsung di belakang predikat, tetapi kalau predikat diikuti oleh objek, pelengkap berada di belakang objek, seperti pada contoh berikut.
Pak Ali berdagang buku bekas. S P Pel.
Ibu membelikan Rani jilbab. S P O Pel.
pelengkap tidak dapat diganti dengan pronomina –nya, seperti contoh berikut.
Ibu memanggil adik. S P O
Ibu memanggilnya. S P O
Pak Samad berdagang rempah. S P Pel.
Pak Samad berdagangnya (?)
satuan bahasa pengisi pelengkap dalam kalimat aktif tidak mampu menduduki fungsi subjek apabila kalimat aktif itu dijadikan kalimat pasif seperti contoh berikut. Pancasila merupakan dasar negara. S P Pel. Dasar negara dirupakan pancasila (?)

  1. Keterangan

Keterangan adalah unsur kalimat yang memberikan keterangan kepada seluruh kalimat. Sebagian besar unsur keterangan merupakan unsur tambahan dalam kalimat. Keterangan sebagai unsur tambahan dalam kalimat dapat dilihat pada contoh berikut.
Ibu membeli kue di pasar. S P O Ket. tempat
Ayah menonton TV tadi pagi. S P O Ket. waktu
Keterangan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: umumnya merupakan keterangan tambahan atau unsur yang tidak wajib dalam kalimat, seperti contoh berikut.
Saya membeli buku. S P O
Saya membeli buku di Gramedia. S P O Ket. tempat
keterangan dapat berpindah tempat tanpa merusak struktur dan makna kalimat, seperti contoh berikut.
Dia membuka bungkusan itu dengan hati-hati. S P O Ket. cara
Dengan hati-hati dia membuka bungkusan itu. Ket. cara S P O keterangan diisi oleh adverbia, adjektiva, frasa adverbial, frasa adjektival, dan klausa terikat, seperti contoh berikut.
Ali datang kemarin. S P Ket. waktu
Ibu berangkat kemarin sore. S P Ket. waktu

1)      Jenis-jenis kalimat

  1. Kalimat Inti dan kalimat Non-Inti

Kalimat inti biasa juga disebut kalimat dasar adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti yang lengkap bersifat deklaratif, aktif, atau netral, dan afirmatif. Kalimat inti dapat diubah menjadi kalimat non-inti dengan berbagai proses transformasi.

  1. Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk

Perbedaan Kalimat tunggal dan kalimat majemuk berdasarkan banyaknya klausa yang ada di dalam kalimat itu, kalau klausanya hanya satu maka disebut kalimat tunggal, kalau klausa dalam sebuah kalimat lebih dari satu maka disebut kalimat majemuk

  1. Kalimat Mayor dan Kalimat Minor

Pembedaan kalimat mayor dan kalimat minor dilakukan berdasarkan lengkap dan tidaknya klausa yang menjadi konstituen dasar kalimat itu kalau klausanya lengkap sekurang-kurangnya memiliki unsur subjek dan predikat maka kalimat itu disebut kalimat mayor. Kalau klausanya tidak lengkap entah terdiri dari subjek, predikat, objek, atau keterangan saja maka kalimat tersebut disebut kalimat minor

  1.  Kalimat Verbal dan Kalimat Non-Verbal

Kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkategori verbal sedangkan kalimat non verbal adalah kalimat y6ang predikatnya bukan kata atau frase verbal, bisa nominal, ajektifal, adverbial, atau juga numeralia.

  1. Kalimat Bebas dan Kalimat Terikat

Kalimat bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap atau dapat memulai sebuah paragraph atau wacana tanpa bantuan kalimat atau konteks lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap atau menjadi pembuka paragraph atau wacana tanpa bantuan konteks.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Keraf, Gorys. 1984. Tata Bahasa Indonesia. Flores: Nusa Indah.
Manaf, Ngusman Abdul, 2009. Sintaksis: Teori dan Terapannya dalam Bahasa Indonesia.

Padang: Sukabina Press.
Widjono HS. 2007. Bahasa Indonesia: Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan

Tinggi. Jakarta: Grasindo.

 

Puisi Romantis

BALADA ASMARA

Terlintas sebuah kisah klasik

Menuai wujud hangat merengkup batin

Jika ku tatap wajahmu nan indah

Bagai bunga yang terkena embun pagi

Hatiku berdetak menusuk inti hati kerinduanku

Balada asmaraku kian mendekat

Pelupuk mataku seakan hanya ada bayang senyum manismu

Kau bagaiakan perangai anggun mendamaikan jiwa dan kalbuku

Dan balada cintaku ini ku titipkan lewat angin malam kepadamu

Serta mimpi-mimpi indah yang kau rajut

Banjarmasin, 26 Januari 2011

KASUS SAIR SULTAN MAHMUD DI LINGGA

KARYA SASTRA SEJARAH DAN FUNGSINYA

 KASUS SAIR SULTAN MAHMUD DI LINGGA

 1.      Karya Sastra Sejarah

Hubungan sastra dengan sejarah sudah lama menjadi bahan perbincangan, terutama di kalangan akademik. Perhatian itu datang baik dari kalangan sastra maupun dari kalangan sejarah.

Didalam kesusastraaan Indonesia lama ada sejumlah naskah yang oleh Winstedt (1969:155) dikategorikan ke dalam “Malay Histories”; misalnya Hikayat Rja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, dan Silsilah Melayucdan Bugis. Bahwa istilah Malay Histories sebenarnya menyesatkan, sudah lama dirasakan oleh para ahli. Walaupun karya-karya tersebut menampilkan tokoh-tokoh yang namanya dikenal di dalam sejarah serta peristiwa-peristiwa dari sejarah, atau berlatar suatu masa di dalam sejarah, persyratan kesejarahan seperti rincian tanggal, urutan kronologi, dan kebenaran factual tidak diperhatian. Bnaykanya sisipan mitos, dongeng, legenda, dan sebagainya menyebabkan para ahli sejarah menghadapi kesulitan di dalam arti yang modern. Oleh sebab itu, karya-karya tersebut dinilai rendah sebagai sumber sejarah formal.

Sesungguhnya karya-karya tersebut memang tidak sepenuhnya dimakudkan sebagai rekaman sejarah untuk dijadikan acuan penyusunan sejarah yang kristis. Karya-karya tersebut lebih tepat disebut karya sastra sejarah ( Liaw, 1993:203) atau karya sastra yang bertema sejarah.

2.      Sair Sultan Mahmud di Lingga ( SSML)

Di dalam bukunya Sejarah Kesustraan Melayu Klasik oleh Liaw 1993:227) karya sastra ini digolongkan syair sejarah. Adapun Winstedt (1969) sama sekali tidak menyebut karya ini di dalam bukunya, A History of Classical Malay Literature. Menurut Team (1972:242), naskah SSML  ini naskah tunggal yang tersimpan di  Museum Pusat (sekarang di Bagia Pernaskahan Perpustakaan Nasional, Jakarta) sebgai ML 746.

Panjang syair SSML ini 1109 bait. Tidak ada kolofon atau cap kertas yang dapat menggunakan identitas pengarang dan tahun penulisanya. Menurut Hamidy, syair ini digubah pada tahun 1311 H atau 1893 M oleh Raja Hitam berdasarkan naskah Syair Perjalanan Sultan Mahmud Lingga Riau yang kini tidak lagi terbaca (Hamidy dkk., 1981:28).

3.      Sultan Mahmud Mujaffar Syah di Dalam Sejarah

Sultan Mahmud Mujaffar Syah yang lebih dikenal sebagai Sultan Mahmud (Matheson, 1986; lihat juga syair SSML) adalah tokoh di dalam sejarah yang memerintah kesultanan Lingga pada tahun 1853-1857 M (Matheson, 1986:15). Akan tetapi, informasi sangat sedikit terdapat di dalam buku-buku sejarah di dalam arti yang modern.

Menurut sumber sejarah Riau tersebut, pada tahun 1836 Belanda memaksa Sultan Mahmud yang besar pengaruhnya sampai ke Johor, Pahang, dan Trengganu, untuk memerangi orang-orang yang dianggap menggangu keamanan pelayaran kapal-kapal Belanda dan Inggris. Namun Sultan Mahmud tidak menuruti kehendak mereka. Keinginan Sultan Mahmud untuk mengusai kembali daerah kesultanan Melayu Riau di Semenanjung Malaka (daerah protektorat Inggris) bertentangan dengan kepentingan Belanda. Oleh sebab itu, ketika Sultan Mahmud berada di singapura, Belanda mencabut semua haknya dan memecatnya sebagai sultan. Pamanya yang bernama Tengku Sulaiman kemudian diangkat oleh Belanda sebagai penggantianya Sultan Mahmud terus berusaha merebut kembali kekuasaannya itu melalui propaganda, tetapi tetap tidak berhasil.

Menurut Winstedt (1969:165), Tuhfat Al-Nafis yang diawali penulisannya pada tahun 1865, mengemukakan sejarah Singapura, Malaka, serta hubungan sejarah Johor dengan Bugis, negeri-=negeri Melayu lainnya, serta Belanda sampai tahun 1860-an dan menyatakan waktu terjadinya dengan hamper pasti. Namun, harus diingat bahwa ckarya sastra ini disusun oleh Raja Haji Ahmad serta putranya, Raja Ali Haji; terasa bahwa pengarang sebagai orang keturunan Bugis, mengagungkan orang Bugis dan di sana-sini memperkecil peran orang Melayu.

  1. Pengarang SSML

Untuk menulis sebuah karya sastra pada masa lalu, diperlukan kearifan, bakat, waktu-mengigat semua ditulis dengan tangan-, dan biaya yang tidak sedikit-karena pekerjaan lain sebagai pencaharian nafkah harus disisihkan demi terlaksannya penulisan karya tersebut. Tidak mengherankan bahwa kebanyakan pengrang mempunyai seorang patron yang sekaligus menjadi pemesan mempunyai karyanya itu.

Seperti telah disebutkan di atas, hanya satu sumber yang memberikan informasi tentang SSML, yaitu buku Pengarang Melayu dalam Kerajaan Riau dan Abdullah bin Abdukadir Munsyi dalam karya sastra Melayu (Hamidy dkk.,m 1981). Menurut sumber tersebut, Raja Hitam-yang di dalam buku Perjalanan Sultan Lingga disebut Khalid Hitamj bin Raja Hasan al-Haji Riau-mengubah syair Perjalanan Sultan Mahmud Lingga Riau yang pernh dicetak di pulau Penyengat pada tahun 1331 H atau 1893 M, tetapi sekarang tidak lagi dapat ditemukan. Naskah ini menjadi naskah induk SSML. Adapun Raja Hitam, menurut sumber tersebut, adalah Bentara Kiri Kerajaan Riau yang setelah Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah dipecat oleh Belanda pada tahun 1911 M, oleh pihak Melayu dikirimkan ke Jepang untuk mencari dukungan bagi usaha mereka melepaskan diri dari kekuasaan Belanda. Raja Hitam meninggal di Jepang pada tahun 1913 M.

  1. Fungsi SSML

Karya sastra sejarah seperti SSML memang tidak dapat menjadi sumber sejarah di dalam arti yang sebenarnya, tetapi dapat merupakan sumber bandingan untuk penulisan sejarah.

Menurut cacatan sejarah, Sultan Mahmu berkuasa di Lingga selama 22 tahun, yaitu tahun 1835-1857. Adapun Raja Hitam mengubah SSML pada tahun 1893; jadi, 36 tahun setelah Sultan Mahmud meninggal. Kemungkinan pertama, Sultan Mahmud memeng Sultan yang memerintah dengan baik, dan itu dikenal orang, bahkan sampai 36 tahun kemudian, sehingga patutlah namanya diabadikan di dalam syair yang 1190 bait panjangnya itu. Bahwa naskah itu tidak disalin-salin lagi sehingga akhirnya menjadi sebuah code unicus (Team, 1972:242), besar kemungkinan karena suasana dan situasi pada waktu itu tidak favourable mengingat perpindahan kekuasaan yang terjadi dari pihak Melayu kepada pihak Barat.

 

KAJIAN STRUKTURAL SASTRA (PUISI, DRAMA, DAN CERPEN)

MAKALAH

“KAJIAN SASTRA”

Dosen Pembimbing: Dra. Maria L.A.S., M.Pd

 

Tentang:

Apresiasi dan Kajian Puisi, Cerpen dan Drama

Angkatan 66

 

 

 

Kelompok 4

 

  1. 1.      Yaumil Nuur Fajar             A1B109211
  2. 2.      Yunita Ambarwati              A1B109212
  3. 3.      Alfiati                                    A1B109218
  4. 4.      Rabiatul Hamiah                 A1B109230
  5. 5.      M. Fachrijal Ilmi                  A1B109232
  6. 6.      Arif Sunarya                        A1B109235
  7. 7.      Yayan Rusadi                      A1B109241
  8. 8.      Aditya Destira                      A1B110701

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARMASIN

2011

 

 

  1. A.  PUISI

DOA

Karya: Taufik Ismail

Tuhan kami

Telah nista kami dalam dosa bersama

Bertahun membangun kultus ini

Dalam pikiran yang ganda

Dan menutupi hati nurani

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

Tuhan kami

Telah terlalu mudah kami

Menggunakan asmaMu

Bertahun di negeri ini

Semoga

Kau rela menerima kembali

Kami dalam barisanMu

Ampunilah kami

Ampunilah

Amin

 

APRESIASI

Tema                        : meminta ampun Tuhan

Amanat                    : mintalah ampun kepada Tuhan atas dosa yang pernah kita lakukan dan tidak mengulanginya lagi.

Diksi                         :  Nista: perbuatan yang sangat keji dan berdosa besar

Kultus: penggunaan kata kultus dalam puisi ini menggambarkan sesuatu yang tidak baik, yang dibangun sekelompok orang.

- Gaya Bahasa           : a. Repetisi:    (1) Ampunilah, Ampunilah

(2) Tuhan kami, Tuhan Kami

Bertahun membangun kultus ini

Dalam fikiran yang ganda

Telah nista kami dalam dosa bersama

b. Sinekdoke pars pro toto

karena penggunaan Mu digunakan untuk penyebutan keesaan yang dipegang oleh tuhan

Menggunakan asmaMu

Kami dalam barisanMu

Rima                         : bebas / tidak beraturan

Pencitraan               : pencitraan penglihatan. Kutipan “Dan menutupi hati nurani”

Suasana                    : puisi ini menggambarkan suasana yang khusyuk dan tenang dalam berdoa kepada tuhan.

Korespondensi        : judul dengan lirik tema dengan amanat

 

  1. B.  CERPEN

 

TUNGGU AKU DI POJOK JALAN ITU

Karya: Iwan Simatupang

 

SINOPSIS

Ketika suami-isteri sedang berjalan berdua, sang suami pergi untuk membeli rokok. Sang isteri menunggunya di pojok jalan. Hari demi hari, sampai sepuluh tahun kemudian, ia kembali ke kota itu. Ternyata sang isteri masih menunggu di pojok jalan itu.

Mereka saling tegur sapa seperti orang yang baru mengenal. Kemudian datang laki-laki lain, isterinya pun segera menghampiri lelaki itu dan berbincang-bincang akrab dengan lelaki itu.

Sang suami cemburu melihat kejadian itu. Tapi dia lihat-lihat isterinya selalu ramah dengan semua laki-laki yang menghampirinya. Ternyata dia baru tahu kalau isterinya sekarang sama saja dengan wanita-wanita lainnya yang pernah ditegurnya di kaki-kai lima. Isterinya sekarang menjadi tuna susila.

APRESIASI

  1. a.      Unsur Intrinsik

-          Isi       

  1. a.      Tema        : Penyesalan yang sia-sia
  2. b.      Amanat    : Pikirkanlah dengan baik sebelum melakukan sesuatu, jangan sampai menyesal dikemudian hari.

-          Bentuk

a)      Alur                                  : alur maju dengan sedikit flash back

b)     Tokoh dan Penokohan   :

  1. 1.      Suami                         :

tidak bertanggung jawab

Kutipan: “Sejak itu, isterinya tidak pernah melihatnya lagi.”

 

  1. 2.      Isteri               :

tidak setia

Kutipan: “Ia cepat berpaling kepada laki-laki lain yang datang menghampirinya.”

cabul

Kutipannya: “Minyak wanginya, pupurnya, cat bibirnya, cat kukunya, gaun dari sutera hijau. Semua dari harga murah dengan hanya tugas, merangsang birahi jalang pada laki-laki.”

  1. 3.      Janda gemuk :

genit

Kutipan: “Ia mengedipkan mata kirinya.”

berbadan gemuk dan berupa jelek

Kutipan: “Hatinya mengutuk perempuan yang gemuk jelek yang tampaknya ingin mengobral kebaikan hati itu.”

c)      Sudut Pandang                : orang ke tiga sebagai pencerita

d)     Latar/setting                    :

  • Waktu                        :

Sore    kutipannya “Selamat Sore,” sapa isterinya.

Malam kutipannya angin malam sangat dingin. Leher bajunya ditegakkan.

Pagi     kutipannya Esok paginya, dengan kereta api pertama…. 

  • Tempat           :

di sebuah kota

kutipannya “Sepuluh tahun kemudian, dia kembali ke kota itu.”

di pojok jalan

kutipannya “Lama ia tegak termangu di bawah lentera pojok jalan itu.”

di persimpangan jalan

kutipannya “Persimpangan jalan yang dihadapi itu sangat membingungkan.”

di ujung kaki lima

kutipannya “Mereka sampai di ujung kaki lima.”

e)      Suasana/ nada                 :

Adegan I Sedih: karena ditinggalkan oleh suaminya yang tidak kunjung kembali.

Adegan II Tegang: saat sang suami bertemu kembali dengan isterinya tapi ternyata isterinya sudah menjadi pelacur.

Adegan III Kekecewaan: ketika suami telah mengetahui bahwa isterinya sekarang telah menjadi pelacur.

f)       Gaya Bahasa                   :

Muka manis                                                           : majas hiperbola

Menyiram kesejukan maaf                                    : majas personifikasi

Hatinya mengutuk                                                            : majas personifikasi

Lurus, dangkal, netral, seperti netralnya keindahan barang-barang dibalik kaca pajangan.                                                               : majas perbandingan

Rasa khas menusuk masuk ke dalam dirinya        : personifikasi

Tajam-tajam memandang dalam mata isterinya    : hiperbola

Menerobos ke lubuk jiwa masing-masing : personifikasi

Bintang-bintang dilangit, yang berkedip              : personifikasi

Gong dalam hati sanubari mereka berbunyi          : hiperbola

Seperti disambar petir di siang bolong                  : perumpamaan

 

  1. b.      Unsur Ekstrinsik

Dalam cerpen ini unsur ekstrinsik yang paling dominan adalah nilai sosial. Karena menceritakan tentang kehidupan seorang suami yang meninggalkan isterinya dan akibat kejadian itu isterinya menjadi seorang pelacur.

PENGKAJIAN

-          Tema                          : suami yang meninggalkan isterinya

Kutipan “ Ia pergi. Sejak itu, isterinya tak pernah melihatnya lagi”

-          Amanat                      : jangan membuat isteri menunggu terlalu lama.

Kutipan “ Aku masih saja… menunggu”

“ Danau biru bening yang ditinggalkannya sepuluh tahun yang lalu…”

“Sinar dari penderitaan selama sepuluh tahun”

 

-          Sudut Pandang          : ia (biasa)

Kutipan “ Ia memburu isterinya”

“ Ia hampiri isterinya”

-          Tokoh Utama             : ia (suami)

Kutipan “ Ia pergi. Sejak itu, isterinya tak pernah melihatnya lagi”

 

-          Suasana/nada                        : dominan sedih

Kutipan “Sinar dari penderitaan…”

Dalam cerpen ini terdapat keterkaitan antara tema, amanat, tokoh, dan sudut pandang, dimana ada seorang suami yang pergi meninggalkan isterinya terlalu lama, sehingga membuat isterinya merasa terpukul.

 

  1. C.  DRAMA

RT NOL RW NOL

Karya: Iwan Simatupang

SINOPSIS

Disebuah kota besar hiruk – pikuk kendaraan yang melintas di atas jembatan yang tidak begitu besar, hidup beberapa orang di bawahnya.  Seorang kakek tinggal di bawah kolong jembatan itu dia adalah mantan klasi kapal, ada pula Si pincang dengan kondisi fisiknya yang kurang telah mencari kerja kemana – mana dan tidak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan, dengan di temani  Ani dan Ina kakak – beradik yang bekerja sebagai  PSK ( Pekerja Seks Komersial ) mereka meratapi kejamnya kota besar.

Yang kemudian membawa sebuah permasalahan pelik diantara mereka, Pincang telah putus asa dengan kehidupan yang Ia alami, karena tidak pernah satu pun ia berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan yang dapat menunjang kebutuhan hidupnya.

Datanglah seorang laki – laki bernama Bopeng, Ia adalah mantan penghuni kolong jembatan tempat tinggal kakek, pincang, Ani dan Ina. Ia telah bekerja di sebuah kapal  sebagai Klasi Kapal, tapi Ia membawa seorang wanita bersamanya yang bernama Ati. Ati adalah sosok wanita yang mencari Suaminya yang entah kemana telah menghilang dan kemudian Ia tersesat dan kehabisan uang untuk pulang ke kampungnya.

Karena iri hati Pincang pun selalu memojokkan Bopeng, karena pada awal bertemu dengan Ati, Bopeng berjanji untuk mengantarkannya pulang ke kampung tetapi karena adanya panggilan kerja sebagai klasi kapal Bopeng mengurungkan niat tersebut.

Setelah pertengkaran argumen antara Si Pincang dan Bopeng, akhirnya kakek pun menengahi pertengkaran mereka, selang beberapa waktu Ani dan Ina pun datang setelah bekerja dengan membawa kabar bahwa mereka akan dinikahi oleh Pria yang menjadi langganan mereka. Akhirnya mereka meninggalkan kolong jembatan yang menjadi tempat mereka tinggal. Disusul oleh bopeng dan Si pincang yang akan berjuang mengantarkan Ati kembali ke kampung halamannya dan berjanji mencari pekerjaan kembali dan menikahi Ati. Akhir cerita Tinggal lah Kakek sendiri di bawah jembatan itu yang mereka semua memberi nama tempat tinggal mereka RT NOL RW NOL.

APRESIASI

  1. 1.      Tema        : Tema dari naskah drama Rt 0/ Rw 0 ini adalah realita sosial perjuangan hidup. Terlihat dari dialog-dialog yang yang idealis dan lebih menonjolkan sikap pantang menyerah.
  1. 2.      Amanat    : Amanat dalam naskah RT NOL RW NOL ini yaitu sebagai manusia harus selalu berusaha dan berjuang dalam menjalani hidup tanpa ada keputusasaan dalam hidup.
  1. 3.      Alur          : Adapun alur yang terdapat pada drama RT NOL RW NOL adalah alur maju atau alur lurus. Dimana penulis naskah drama menceritakan dari awal mula adegan sampai pada akhir adegan.
  1. 4.      Latar        : Latar yang terdapat pada drama ini terdapat latar tempat dan latar waktu. Latar tempat yang terdapat pada drama ini berlatar dibawah jembatan besar. Penulis naskah ini dengan jelas menuliskan latar yang terdapat dalam drama ini.

 

  1. 5.      Sudut pandang: orang pertama dan orang ketiga.

 

  1. 6.      Suasana    :

 

-          Tegang

Kutipan: “Kalau maksudmu, bahwa gara-gara ucapanku yang barusan kita terpaksa berkelahi. Ayo berkelahi!”

-          Bahagia

Kutipan: “Aku berharap, suatu hari dapat melihat kau lewat, naik becak suamimu, kau dan anakmu sehat dan montok-montok. Selamat jalan, Nak.”

  1. 7.      Tokoh dan Penokohan :
    1. 1.      Kakek             :

Bijaksana

Kutipannya : “Jangan bingungkan dirimu lebih lama lagi dalam kerangka-kerangka kata-kata mu yang meawang itu.”

Penyabar

Kutipannya: “kelenggangan disebabkan perpisahan, terkadang lebih parah dari kematian sendiri. Mengapa pula kita, manusia-manusia gelandangan, berbuat seolah tak mengerti itu?”

  1. 2.      Pincang          : Pemarah

Kutipannya: “Apa aku harus menutup mulutku terus? Mengapa setiap ucapanku kau anggap sebagai cari fasal saja?”

  1. 3.      Ani                  :

Keras kepala

Kutipannya: “Semuanya itu akan kami nikmati mala mini. Cara apapun akan kami jalani, asal kami dapat menemukannya malam ini. Ya, mala mini juga!”

Pantang menyerah

Kutipannya: “Terus, pantang mundur! Kita bukan dari garam, kan?”

  1. 4.      Bopeng           : Rendah Hati

Kutipannya: “Sabar. Rokok sungguhpun ada. Malah sebungkus utuh.”

  1. 5.      Ina                  : Penyabar

Kutipannya: “Sudahlah Kak. Hujan atau tak hujan, kita tetap keluar.”

  1. 6.      Ati                   : Pemalu

Kutipannya: “Malu Kek. Kami berangkat dari sana dengan pesta dan doa. Segala pakaian dan perhiasan emasku didalamnya, telah dia bawa kabur.”

Hal ini dapat terlihat dari paparan penulis dari naskah tersebut.

….KAKEK
Rupa-rupanya, mau hujan lebat.

PINCANG (Tertawa)
Itu kereta-gandengan lewat, kek!

KAKEK
Apa?

PINCANG
Itu, truk yang pakai gandengan, lewat.

KAKEK (Menggeleng-Gelengkan Kepalanya, Sambil Mengaduk Isi Kaleng Mentega Di Atas Tungku)
Gandengan lagi! Nanti roboh jembatan ini. Bukankah dilarang gandengan lewat di sini.

ANI
Lalu?

KAKEK
Hendaknya, peraturan itu diturutlah. ….

 

              …. HUJAN TELAH REDA. KEMBALI JELAS DERU-DERU LALU LINTAS DI ATAS JEMBATAN. MASUK BOPENG DAN ATI.

BOPENG
Belum tidur kalian?

PINCANG
Hm, lambat juga kau pulang kali ini.

KAKEK
Ada puntung?

BOPENG (Tertawa)
Sabar. Rokok sungguhanpun ada. Malah sebungkus utuh. Juga aku bawa nasi rames empat bungkus.

KAKEK
Na… nasi rames? Kau kan tak merampok hari ini?

BOPENG (Tertawa)
Syukur, belum sejauh itu aku perlu merendahkan diriku, Kek.

 

Hingga pada akhir adegan terlihat jelas bahwa alur cerita adalah alur lurus.


KEDENGARAN SESEKALI DERU LALU LINTAS DI ATAS JEMBATAN. BUNYI-BUNYI MALAM DARI JANGKRIK, KODOK, DLL, DI BAWAH JEMBATAN.

ATI (Setelah Lama Hening)
Mengapa Abang ini harus pulang pergi mengantarkan aku?

KAKEK (Curiga)
Apa maksudmu?

ATI
Eh, apa salahnya dia tinggal sambil istirahat sebentar di kampungku. Siapa tahu, di sana ada kerja yang cocok untuknya.

KAKEK (Setelah Menyenggol Pincang Keras-Keras Dengan Sikunya Di Samping)
Akur! Aku setuju banget, dia tinggal dulu sekedar istirahat di sana, asal saja orang tuamu setuju di sana, sudah tentu.

Kutipan ALUR

KOLONG SUATU JEMBATAN UKURAN SEDANG, DI SUATU KOTA BESAR. PEMANDANGAN BIASA DARI SUATU PEMUKIMAN KAUM GELANDANGAN. LEWAT SENJA. TIKAR-TIKAR ROBEK. PAPAN-PAPAN. PERABOT-PERABOT BEKAS RUSAK. KALENG-KALENG MENTEGA DAN SUSU KOSONG. LAMPU-LAMPU TOMPLOK.
DUA TUNGKU, BERAPI. DI ATASNYA KALENG MENTEGA, DENGAN ISI BERASAP. SI PINCANG MENUNGGUI JONGKOK TUNGKU YANG SATU, YANG SATU LAGI DITUNGGUI OLEH KAKEK. ANI DAN INA, DALAM KAIN TERLILIT TIDAK RAPIH, DAN KUTANG BERWARNA, ASYIK DANDAN DENGAN MASING-MASING DI TANGANNYA SEBUAH CERMIN RETAK. SEKALI-KALI KEDENGARAN SUARA GEMURUH DI ATAS JEMBATAN, TANDA KENDARAAN BERAT LEWAT. SUARA GEMURUH LAGI.

kutipan TEMA

INA
Abang selama ini telah banyak bercerita padaku tentang masa depan, tentang cita-cita dan bahagia. Tapi, aku sedikitpun tak ada melihat, bahwa Abang sungguh-sungguh ingin menebus kata-kata itu dengan perbuatan. Terus terang saja, Bang, aku memang selalu mengagumi ucapan-ucapan Abang. Sungguh dalam-dalam maknanya! Dan kata-kata, dengan mana Abang mengatakannya sungguh lain dari yang lain. Bermalam-malam aku, tergolek di samping Abang (Suara Batuk-Batuk Kakek), melanturkan angan-anganku menerawang entah kemana: Ah, sekiranya betullah semua yang diucapkan laki-laki pujaanku ini, aku pastilah jadi wanita yang paling bahagia di dunia ini.

Tapi, dengan hati yang pedih aku dari hari kehari melihat, dan mengalami, bahwa semua ucapan Abang itu bakal tetap tinggal cuma kata-kata saja. Aku melihat pada diri Abang semacam kejanggalan laku dan sikap untuk berbuat, untuk bertindak. Abang gamang berbuat sesuatu. Abang adalah manusia khayal dan kata-kata semata, dan asing sekali di bumi dari otot-otot, debu, deru dan keringat berkucuran. Semula masih ada harapanku diam-diam, bahwa Abang pada suatu hari akan mengungkapkan diri Abang sebagai seorang pengarang. Tapi, alangkah kecewanya aku melihat, betapa Abang telah menghambur-hamburkan kerangka karangan-karangan Abang itu dalam percakapan-percakapan kecil tentang kisah-kisah kecil yang menjemukan di kolong jembatan ini. Ya, kolong jembatan ini telah membunuh dan mengubur tokoh pengarang pada diri Abang itu. Dan aku, gelandangan biasa saja, yang diburu oleh sekian kekurangan dan kenangan buruk di masa yang lampau, aku tak mampu lagi mencernakan kata-kata Abang itu sebagaimana mestinya. Walhasil, bagiku Abang adalah seorang aneh, tak lebih dan tak kurang dari seorang parasit…

Dan bila aku tadi menerima lamaran bang becak itu, maka itu berarti, bahwa belum tentu aku mencintainya; itu berarti, bahwa pada hakekatnya aku masih tetap pengagum kata-katamu yang dalam-dalam maknanya itu. Tapi juga, Bang, bahwa aku lebih gandrung akan kepastian, kenyataan dan kejelasan. Bukannya aku tak sadar, apa dan bagaimana nasib seorang isteri dari seorang bang becak. Mungkin aku bukan isterinya satu-satunya. Mungkin aku akan berhari-hari tak melihat dia, tak menerima uang belanja. Mungkin tak lama lagi aku bakal jadi perawat dia yang sudah teruk dan tak kuat lagi menarik becaknya, batuk-batuk darah. Tapi, itu semuanya rela kuterima, Bang, demi – dapatnya aku memiliki sebuah kartu penduduk! (Menangis) Kartu penduduk, yang bagiku berarti: berakhirnya segala yang tak pasti. Berakhirnya rasa takut dan dikejar-kejar seolah setiap saat polisi datang untuk merazia kita, membawa kita dengan truk-truk terbuka keneraka-neraka terbuka yang di koran-koran disebut sebagai “taman-taman latihan kerja untuk kaum tuna karya”. Gambar kita di atas truk terbuka itu dimuat besar-besar di koran. Tapi, kemudian koran-koran bungkem saja mengenai penghinaan-penghinaan yang kita terima di sana. Kemudian kita dengan sendirinya berusaha dapat lari dari sana, untuk kemudian terdampar lagi di tempat-tempat seperti ini. Tidak, Bang! Mulai sekarang, aku mengharapkan tidurku bisa nyenyak, tak lagi sebentar-sebentar terkejut bangun, basah kuyup oleh keringat dingin.

Kemudian dialog dari si Pincang 

PINCANG
Ya, aku telah bertekad ingin memulai segala-galanya dengan benar-benar suci bersih. Aku besok mengantarnya kesana dengan tidak sedikitpun anggapan sebagai calon menantu seperti yang kalian gambarkan tadi. Apa alasanku untuk menganggap begitu saja, bahwa orang tuanya secara otomatis bakal menerima aku sebagai menantunya? Kemungkinan, bahkan hak penuh mereka untuk menolak aku, tetaplah ada dan ada baiknya sejak semula ikut diperhitungkan. Ya, aku ingin kesana, tapi dengan patokan bermula: aku benar-benar ingin kerja. Kembali kerja! Kembali merasakan keutuhan dan kedaulatan tubuhku di dalam teriknya matahari, dengan kesadaran bahwa butir-butir keringatku yang mengucur itu adalah taruhanku untuk sesuap nasi yang halal. Soal menantu, kawin, cinta… ah, hendaknya aku diperkenankan kiranya tidak dulu mempunyai urusan apa-apa dengan itu semuanya. Kerangka-kerangka yang disebut Ina tadi, ingin kukubur… setidaknya untuk sementara dulu. Aku ingin mengembalikan seluruh kedirianku kembali kekesegarannya semula, yang dulu… entah telah berapa puluh tahun yang lalu, telah hilang… oleh salahku sendiri. Aku harap, Ina, maupun orang tuanya, sudi memandang diriku dalam kerangka persoalan seperti ini, dan tidak menganggap aku di sana sebagai lebih dari itu. Aku datang sebagai pelamar kerja, pelamar keadaan dan kemungkinan hidup yang baik kembali. (Suaranya Turun, Nafasnya Satu-Satu) Sudah tentu, sudah tentu… kalian berhak menolak lamaranku…

 

Dan dialog dari Kakek

KAKEK

Ah, kau tak tahu apa arti kolong jembatan ini dalam hidupku. Sebagian dari hidupku, kuhabiskan di sini. Memang, dia milik siapa saja yang datang kemari karena rupa-rupanya memang tak dapat berbuat lain lagi. Ia milik manusia-manusia yang terpojok dalam hidupnya. Yang kenangannya berjungkiran, dan tak tahu akan berbuat apa dengan harapan-harapan dan cita-citanya. Yang meleset menangkap irama dari kurun yang sedang berlaku. (KEMBALI MENGUAP) Pada diriku, semuanya yang kusebut tadi itu terdapat saling tindih menindih, berlapis-lapis, dan sebagai selaput luarnya yang makin keras: usiaku yang semakin tua! Semakin tua kita, semakin lamban kita, semakin keluar kita dari rel… dan akhirnya: dari tuna karya, kita jadi tuna hidup. Selanjutnya, tinggallah lagi kita jadi beban bagi kuli-kuli kotapraja yang membawa mayat kita ke RSUP. Apabila kita mujur sedikit, maka pada saat terakhir mayat dan tulang-tulang kita masih dapat berjasa bagi ilmu urai kedokteran, menjadi pahlawan-pahlawan tak dikenal bagi kemanusiaan. (MENGUAP) Ah, selamat malam…

 

AMANAT

Bisa dilihat dari dialog berikut.

PINCANG

Ya, aku telah bertekad ingin memulai segala-galanya dengan benar-benar suci bersih. Aku besok mengantarnya kesana dengan tidak sedikitpun anggapan sebagai calon menantu seperti yang kalian gambarkan tadi. Apa alasanku untuk menganggap begitu saja, bahwa orang tuanya secara otomatis bakal menerima aku sebagai menantunya? Kemungkinan, bahkan hak penuh mereka untuk menolak aku, tetaplah ada dan ada baiknya sejak semula ikut diperhitungkan. Ya, aku ingin kesana, tapi dengan patokan bermula: aku benar-benar ingin kerja. Kembali kerja! Kembali merasakan keutuhan dan kedaulatan tubuhku di dalam teriknya matahari, dengan kesadaran bahwa butir-butir keringatku yang mengucur itu adalah taruhanku untuk sesuap nasi yang halal. Soal menantu, kawin, cinta… ah, hendaknya aku diperkenankan kiranya tidak dulu mempunyai urusan apa-apa dengan itu semuanya. Kerangka-kerangka yang disebut Ina tadi, ingin kukubur… setidaknya untuk sementara dulu. Aku ingin mengembalikan seluruh kedirianku kembali kekesegarannya semula, yang dulu… entah telah berapa puluh tahun yang lalu, telah hilang… oleh salahku sendiri. Aku harap, Ina, maupun orang tuanya, sudi memandang diriku dalam kerangka persoalan seperti ini, dan tidak menganggap aku di sana sebagai lebih dari itu. Aku datang sebagai pelamar kerja, pelamar keadaan dan kemungkinan hidup yang baik kembali. (Suaranya Turun, Nafasnya Satu-Satu) Sudah tentu, sudah tentu… kalian berhak menolak lamaranku…

Korespodensi/ keterkaitan antara “tema, amanat dan tokoh”

Disini sudah sangat jelas dijelaskan sebelumnya pada pembagian unsur intrinsik, bahwa tema yang diangkat yaitu Kehidupan dan adat istiadat penari ronggeng, diambilnya tema ini tentunya berdasarkan kejadian yang dialami oleh tokoh-tokoh yang ada pada novel, terutama tokoh utama yang harus menjalani kehidupannya dan melaksanakan syarat-syarat untuk menjadi seorang ronggeng yang sah berdasarkan budaya sebelumnya. Kemudian disini diambilnya amanat Jalani lah kehidupan dengan sebaik-baiknya, walaupun harus mengambil resiko yang tinggi. Juga merupakan kaitan dari tema dan yang dialami oleh tokoh utama, dimana disaat kita sudah mengambil keputusan, maka jalani lah keputusan yang sudah diambil itu dengan melakukan sebaik-baiknya tanpa mengenal seberapa besar resiko yang akan kita peroleh. Karena keputusan yang kita ambil pasti merupakan keputusan yang terbaik dari pilihan-pilihan yang ada.

Korespondensi          : Dapat kita pahami dan maknai sendiri, puisi ‘sorga’ ini tentunya saling memiliki keserasian antara judul, tema, isi dan amanat. Disini dapat kita buktikan dengan beberapa lirik yang menyangkut judul beserta dengan amanatnya.
Judul : sorga.
Lirik yang mendukung sebuah judul :
Aku minta pula supaya sampai di sorga
Yang kata Masyumi + Muhammadiyah bersungai susu
Dan bertabur bidadari beribu

                                      Tema : Keindahan sorga
Amanat yang berkaitan dengan judul, tema beserta liriknya :
Sorga pasti kita peroleh, selama kita terus melakukan kebaikan dan selalu mengingat Sang Kuasa.

Pembacaan Heruistik dan hermeneutik

Pembacaan Heuristik Terhadap Puisi

“ADAKAH SUARA CEMARA” Taufiq Ismail

Adakah suara cemara

Mendesing menderu padamu

Adakah melintas sepintas

Gemersik dedaunan lepas

 

Deretan bukit-bukit biru

Menyeru lagu itu

Gugusan mega

Ialah hiasan kencena

 

Adakah suara cemara

Mendesing menderu padamu

Adakah lautan ladang jagung

Mengombakkan suara itu

Pembacaan heuristic terhadap puisi diatas:

Bait kesatu

Adakah suara (pohon) cemara (yang) mendesing (dan) menderu padamu. Adakah melintas sepintas (suara) gemersik dedaunan (yang) lepas.

Bait kedua

Deretan bukit-bukit (yang) biru menyeru lagu itu (seperti) gugusan mega (yang merupakan) hiasan kencana.

Bait ketiga

Adakah suara (pohon) cemara (yang) mendesing (dan) menderu padamu. Adakah lautan lading jagung (yang seperti) mengombakkan suara itu.

Pembacaan Hermeneutik Terhadap puisi “Adakah Suara Cemara” Taufiq Ismail

Bait kesatu

Di dalam puisi ini pengarang bertanya kepada seseorang, adakah suara pohon cemara yang mendesing dan menderu padamu yang seakan-akan pohon cemara itu berbicara karena ditiup angin. Masih adakah dedaunan pohon cemara yang berjatuhan (adakah melintas sepintas gemersik dedaunan lepas)

Bait kedua

Hutan-hutan yang masih ada, masih banyak pohon, dan masih membentuk bukit (Deretan bukit-bukit biru) selalu mendesing dan menderu karena ditiup angin (Menyeru lagu itu) seperti gugusan mega yang merupakan hiasan kencana.

Bait ketiga

Melalui syair puisi pengarang bertanya kepada seseorang, adakah suara pohon cemara yang mendesing dan menderu padamu, yang seakan-akan berbicara karena ditiup angin. Adakah kebun jagung mendesing dan menderu seperti pohon cemara kala ditiup angin (lautan lading jagung mengombakkan suara itu).

Pemaknaan Terhadap Puisi “Adakah Suara Cemara” Taufiq Ismail

Bait kesatu

“Suara cemara” adalah metafora dari suara hutan yang mendesing dan menderu, yang seakan-akan ia berbicara karena ditiup angin.

“Gemersik dedaunan lepas” merupakan metafora yang menggambarkan sebuah pertanyaan, masih adakah dedaunan dari pohon cemara yang berjatuhan dan menimbulkan bunyi gemersik ketika bersentuhan dengan yang lainnya

Bait kedua

“bukit-bukit biru” merupakan kumpulan pepohonan yang membentuk bukit-bukit atau sebuah hutan yang masih ada dan terdapat banyak pohon yang mendesing ketika tertiup angin, laksana gugusan mega yang merupakan hiasan kencana.

Bait ketiga

Adakah suara cemara yang mendesing dan menderu padamu. “Suara cemara” adalah gambaran untuk sebuah hutan dan pertanyaan ditujukan untuk seseorang yang telah sengaja membuka lahan atau  menebang hutan untuk keperluan pertanian. “lautan ladang jagung” adalah gambaran luasnya lahan hutan yang dibuka untuk tanaman jagung. “mengombakkan suara itu” merupakan bandingan antara pohon cemara dan ladang jagung, apakah sama fungsi sebuah hutan dan padang jagung.

Artikel Ilmiah

MAKNA DAN FUNGSI MAJAS PLEONASME DALAM NOVEL LELAKI TERINDAH

ABSTRAK

Kata kunci: Makna dan Fungsi majas pleonasme dalam novel lelaki teridah.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis majas pleonasme yang digunakan oleh pengarang sebagai ungkapan ekspresinya dalam novel “Lelaki Terindah” karya Andrei Aksana.

Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis hal-hal yang berkenaan dengan:

  1. Makna majas pleonasme yang digunakan pengarang dalam novel tersebut, dan
  2. Fungsi majas pleonasme tersebut berdasarkan pemahaman penulis.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriftif, yang meliputi pengumpulan data, klasifikasi data, dan analisis data dalam novel “Lelaki Terindah.”

Data-data yang diperlukan diolah dengan cara mendeskripsikan penggunaan majas pleonasme yang digunakan pengarang.

Berdasrkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pengarang dalam menuliskan novel “Lelaki Terindah” menggunakan majas pleonasme dari jumlah 219 halaman yang disajikan terdapat 46 buah majas pleonasme, dengan tujuan untuk memperkuat gagasan atau ide cerita, sehingga tampilan cerita lebih hidup dan menakjubkan bagi penikmat sastra.

Makna penggunaan majas pleonasme untuk mempertegas gagasan atau ide cerita yang ditampilkan, sehingga cerita lebih menarik bagi pembacanya.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Karya sastra diciptakan untuk dinikmati oleh manusia. Bahkan sastra telah menjadi bagian dari pengalaman hidup manusia yang dimanfaatkan sepenuhnya bagi penikmat karya sastra tersebut. Kita tahu bahwa karya satara merupakan hasil ekspresi pengalaman batin pencitanya, sehingga ada saja orang yang menjadikan karya sastra sebagai alat ubtuk mendidik dan mengajar, mengingat dalam karya sastra berisi sarat dengan nilai-nilai dan moral.

Dalam sebuah karangan yang berbentuk karya sastra, penggunaan bahasa memiliki fungsi ganda. Bahasa yang digunakan bukan hanya sekadar penyampaian ide-ide pengarang, melainkan juga sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan pengarang. Seorang pengarang membeberkan cerita tidak hanya memberi tahu pembaca atau penikmat tentang apa yang dialami oleh tokoh cerita. Untuk itulah, maka pengarang akan selalu memilih kata-kata sedemikian rupa sehingga mewakili gagasan sekaligus persoalaan-persoalan dan perasaan yang terkandung didalamnya. Untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu itu, pengarang menempuh cara berbeda dengan apa yang biasa kita temukan dalam bahasa sehari-hari, pengarang akan menggunakan kata-kata dan menyusunnya menjadi kalimat yang bergaya.

Cara-cara yang ditempuh untuk hal tersebut antara lain dengan menggunakan perumpamaan, menghidupkan benda-benda mati, melukiskan sesuatu dengan lukisan yang tidak sewajarnya dan dengan perulangan. Oleh karena itu, dalam karya sastra sering dijumpai pemakaian kalimat-kalimat khusus yang dikenal dengan sebutan majas dengan aneka jenisnya.

Seperti halnya puisi, novel juga mengandung sejumlah majas yang sengaja di gunakan pengarang. Dengan pemilihan kata tertentu sehingga menimbulkan efek tertentu pula. Oleh karena itu, persoalan majas menyangkut banyak hal sesuai dengan dampak tertentu yang ingin dimunculkan pengarang dalam karyanya tersebut.

Sebagai pembangun unsur karya sastra, majas merupakan persoalan yang cukup penting untuk dibahas.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Majas Pleonasme

Sebuah unsur yang membangun kesan estetik dalam sebuah karya sastra ialah majas atau gaya bahasa. Kedudukan majas dalam karya sastra dapat menciptakan dan menimbulkan sesuatu yang apa adanya menjadi luar biasa dan yang sederhana menjadi mempesona. Ibarat seorang perempuan yang cantik kalau didandani, maka semakin menarik dan semakin mempesona penampilannya. Seperti dandanan itulah keberadaan majas pada setiap karya sastra yang berkualitas.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990 : 235) “Majas adalah cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan baik lisan maupun tulisan.”

Falah (1996 : 34) mengatakan “gaya bahas atau majas adalah cara seorang pengarang dalam melukiskan suatu hal dengan menggunakan bahasa sebagai alat untuk melahirkan perasan dan pikiran sehingga dapat menimbulkan efek estetis.”

Tarigan, (1985:113) mengatakan majas adalah cara mengungkapkan gagasan atau pikiran melalui bahasa yang indah atau dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan membandingkan dengan suatu benda dengan benda yang lain.

Majas pleonasme adalah majas yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan (alfiansyah, 2009)

Pengertian pleonasme merupakan satu majas dalam bahasa Indonesia. Pleonasme adalah majas yang menambahkan keterangan pada keterangan yang sudah jelasatau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. Pleonasme termasuk dalam kategori majas penegasan.

Makna Majas Pleonasme

Pada umumnya makna kata dibedakan atas makna yang bersifat denotatif dan konotatif. Kata yang tidak mengandung makna atau perasaan tambahan disebut kata denotatif, atau maknanya disebut makna denotatif. Sedangkan makna kata yang mengandung arti tambahan, perasaan tertentu, atau nilai rasa tertentu di samping makna dasar yang umum, dinamakan makna konotatif atau konotasi.

Fungsi Majas Pleonasme

Seperti telah dikemukakan diatas, bahwa gaya bahasa merupakan bagian unsur terpenting dari bahasa sastra yang pada dasarnya tidak sama dengan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Gaya bahasa pada umumnya memiliki fungsi untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui bahasa yang retoris, indah dan memiliki seni, baik secara tersirat maupun tersurat untuk menimbulkan efek estetis.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi majas atau gaya bahasa adalah mempertegas idea tau gagasan pikiran, perasaan pengalaman secara halus, dramatis, tajam, mengharu biru dan menggigit guna meyakinkan pembaca mengenai apa yang ingin disampaikan pengarang, sesuai dengan pemahaman dan penafsiran pembaca dan penikmat sastra yang variatif serta memperkuat tema yang mengacu pada berbagai persoalan kompleks yang disorot pengarang dalam karyanya.

Pleonasme juga di samping menambah keindahan suatu cipta sastra, juga berperan dalam rangka menambah ranah suku kata yang disajikan dengan padanan kata, sehingga arti dan makna yang tersembunyi dari sebuah cipta sastra semakin mempesona pembaca. Dengan demikian majas pleonasme walaupun diartikan dengan penggunaan kata yang mubazir, namun menambah keindahan suatu cipta sastra.

Fungsi majas pleonasme adalah dapat memperkuat karakter tokoh, memperkuat alur cerita yang disajikan, memperkuat tema dari cerita, serta memperkuat gagasan atau ide dari cerita.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tujuan  Penelitian

Sebuah karya ilmiah harus memiliki tujuan agar proses penelitiannya dapat terarah dengan baik. Dalam penelitian ini tujuan yang ingin dicapai terbagi atas dua bagian, yakni tujuan umum dan khusus.

 

Tujuan Umum:

Secara unum penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis majas pleonasme yang digunakan oleh pengarang sebagai ungkapan ekspresinya dalam novel “Lelaki Terindah” karya Andrei Aksana.

 

Tujuan Khusus:

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis hal-hal yang berkenaan dengan makna majas pleonasme yang digunakan dalam novel “lelaki Terindah” dan fungsi majas pleonasme berdasarkan pemahaman penulis.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan wawasan aspek literatur bagi mahasiswa atau pelajar. Dalam studi sastra diperlukan bahan-bahan yang menyangkut telaah literatur sastra agar dapat dijadikan pedoman untuk telaah selanjutnya terhadap karya tersebut, sedangkan terhadap pengajaran sastra disekolah, penelitian ini dimanfaatkan sebagai masukan untuk bahan pengajaran sastra yang masih sangat terbatas, terutama yang berhubungan dengan aspek yang bersifat apresiatif.

 

 

 

 

 

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Analisis Pleonasme Novel Lelaki Terindah Karya Andrei Aksana

Pleonasme adalah majas berupa pemakaian kata yang mubazir atau berlebihan yang sebenarnya tidak perlu. Berikut akan disajikan sedikit majas pleonasme yang terdapat dalam  novel Lelaki Terindah.

Tubuhnya cadas menantang badai. Tubuhnya baja tak tembus peluru. Sekuat itu, sekokoh itu (hal. 13). Majas pleonasmenya adalah menantang badai, tak tembus peluru. Maknanya: Menceritakan tentang sosok seorang pemuda yang gagah dan tampan dan penuh pendirian, merupakan sosok yang dikagumi oleh semua orang  dan membuat iri bagi pemuda lain yang melihatnya. Fungsinya: memberikan kiasan tentang seorang pemuda yang penuh kesempurnaan, baik fisik maupun materi.

            Tulang-tulangnya begitu tegas, sekeras otot-otot yang menyembul di lengan dadanya (hal. 15). Majas pleonasmenya adalah tegas dan keras. Maknanya: menggambarkan otot tubuuh yang keluar dengan bentuk badan yang indah berotot. Fungsinya: untuk memberikan gambaran tentang keperkasaan.

            Kepedihan yang menyeruak karena luka teramat dalam, dan duka yang telah sekian lama terpendam (hal. 16). Majas pleonasmenya adalah luka, duka. Maknanya: menggambarkan kepedihan yang dialami oleh seorang pemuda, kepedihan yang teramat dalam. Fungsinya: memperkaya perbendaharaan kata mengenai keadaan kepedihan yang dalam dari seorang pemuda.

            Aku tercengang, seperti ditampar hujan topan. Meniupku terseret mundur menjauhinya (hal. 17). Majas pleonasmenya adalah topan, meniup. Maknanya: menggambarkan pemaksaan hati yang membuat seseorang pemuda terpaut dan tidak bisa lepas lagi. Fungsinya: memperkaya atau mengembangkan ide dan gagasan cerita.

Tetaplah duduk di situ. Jangan pernah menyebrangi jarak diantara kita. . . .(hal. 21). Majas pleonasmenya adalah menyebrangi, jarak. Maknanya: jangan duduk terlalu jauh. Fungsinya: mengembangkan pikiran dan perasaan melalui bahasa retoris, indah dan bersemi secara tersirat maupun tersurat untuk melukiskan perhatian yang dalam terhadap seseorang.

Kita hanyalah kanak-kanak yang dilarang bermain di luar rumah supaya tidak kotor dan cedera di dalam lebih aman meski hanya makan nasi dan teri (hal. 28). Maknanya: menggambarkan sosok yang jarang pergi keluar rumah. Fungsinya: memperkaya atau mengembangkan ide dan gagasan dalam cerita.

Telapak tangan itu begitu halus, lembut, licin, mengingatkan Rafky pada guci porselin di ruang tengah rumahnya (hal. 33). Maknanya:menggambarkan kehalusan dan kelembutan serta keindahan kulit seorang laki-laki yang bernama Valent. Fungsinya: untuk memperkuat idea tau gagasan  terhadap alur cerita yang disajikan.

Terbuat dari apakah hatinya? Rafky mengira-ngira. Besi yang lumer oleh bara? Bukankah sudah berkali-kali aku tidak mengubrisnya….(hal. 34). Maknanya: menggambarkan dari keadaan Valent yang lemah, namun ada kekuatan yang sulit diterka. Fungsinya: memperkaya atau mengembangkan ide dan gagasan atau tema  cerita.

Aku bersembunyi di dalam gelap dirimu. . . . Aku terperangkap tapi tak pernah tersesat. . . .(hal. 38). Maknanya: melukiskan hati yang sudah terikat dengan seseorang. Penulis menggunakan majas ini untuk melukiskan betapa seseorang yang jatuh cinta akan sangat sulit menghilangkannya. Fungsinya: untuk menguatkan gagasan atau ide dalam cerita yang disajikan, sehingga membuat keindahan bahasa yang ditampilkan.

Ketika engkau berganti kita. Ketika dua menjadi satu. Tak ada lagi berapa dan siapa diantara. Hanya ada kita (hal. 48). Maknanya melukiskan pertautan antara dua insan yang saling jatuh cinta, sehingga tidak ada lagi dinding pemisah setelah mereka menginap bersama-sama di hotel pada saat liburan. Pengarang menggunakan kata ini untuk mempertajam maknanya. Fungsinya: untuk memperkaya atau mengembangkan gagasan cerita.

Aku ingin menggandeng tanganmu, disaat aku ragu. Aku ingin lari ke dalam dekapanmu, disaat aku takut… aku ingin membaca peristiwa, diantara helai rambutmu yang memutih…. Aku ingin memahami hidup, disetiap kerut wajahmu (hal. 56). Maknanya: menggambarkan keinginan tokoh yang bernama Valent yang selalu ingin bersama pemuda tampan bernama Rafky. Fungsinya: untuk memperkuat ide dan gagasannya.

Hanya engkaulah yang terindah. Diantara semua lelaki yang indah . . . . (hal. 71). Maknanya: menggambarkan keindahan, kesempurnaan yang tiada tara dari seorang lelaki yang dikagumi dibandingkan dengan lelaki lain yang ada. Pengarang menggunakan majas ini untuk melukiskan alur cerita untuk menggambarkan begitu sempurnanya lelaki yang bernama Rafky. Fungsinya: agar cerita lebih menarik.

Pasung aku dalam pikiranmu, melihat dengan matamu, berkata dengan mulutmu (hal. 80). Maknanya: memberikan jiwa dan raganya kepada orang yang dicintai, hingga membuat tak berdaya dengan dirinya sendiri. Fungsinya: memperkaya atau menyampaikan ide serta gagasan atau tema cerita agar cerita lebih menarik.

Dan malam yang padam, menyulut gairah dihati yang remuk redam (hal. 82). Maknanya: suasana malam yang sangat menyedihkan dan seakan-akan membuat tidak berdaya lagi. Fungsinya: membuat pembaca terbius akan untaian kata yang diberikan.

Dalam malam yang terbakar gelap (hal. 124). Maknanya: menggambarkan suasana malam yang sangat gelap dan sunyi. Fungsinya: menambah dan menegaskan suasana malam yang sangat gelap.

Akhirnya mereka makan berhadapan tanpa berbicara sepatah katapun (hal. 150). Maknanya: menggambarkan tak ada komunikasi. Fungsinya: memperkaya ide dan gagasan.

Pembahasan

Novel Lelaki Terindah Karya Andrei Aksana berjumlah 219 lembar. Berdasarkan hasil analisis tentang kandungan majas pleonasme ditemukan sebanyak 46 buah.

Pengarang menggunakan majas pleonasme untuk mempertegas gagasan atau ide dalam cerita agar tampilan lebih menarik pembaca. Penggunaan majas ini menimbulkan keindahan tersendiri bagi para peminat novel, sehingga pembaca selalu ingin melahap semua kata-kata yang disajikan pengarang.

Pengarang penuh imajinasi dalam menuangkan kata-kata, sehingga setiap kosakata yang ditampilkan mengandung makna yang dalam dan hiburan yang memuaskan, khususnya bagi petualang pembaca novel.

Makna majas yang disajikan pengarang untuk menampilkan sosok keperkasaan seorang pemuda tokoh utama cerita yang bernama Rafky, sehingga kesan pembaca sangat jelas tergambar bagaimana sosok Rafky dalam tokoh cerita novel Lelaki Terindah.

Jadi penggunaan majas pleonasme oleh pengarang novel Lelaki Terindah menimbulkan keindahan gaya bahasa yang ditampilkan dengan tujuan untuk menarik minat baca para pembaca novel, yang mengakibatkan pembacanya seolah-olah ikut terbawa kedalam alur cerita atau sebagai pelaku cerita. Dengan demikian, liku-liku cerita yang ditampilkan selalu dengan jelas dihayati. Karena seolah menjadi peran utama dalam tokoh cerita tersebut.

 

 

 

 

Simpulan

Pengarang dalam menuliskan novel “Lelaki Terindah” menggunakan majas pleonasme dari sejumlah 219 lembar yang disajikan, terdapat 46 buah majas pleonasme, dengan tujuan untuk memperkuat gagasan atau ide cerita, sehingga tampilan cerita bernuansa hidup dan menakjubkan bagi penikmatnya.

Berdasarkan penggunaan majas pleonasme dalam novel Lelaki Terindah karya Andrei Aksana dapat diketahui bahwa majas yang digunakan berfungsi untuk memperkaya ide, mengembangkan gagasan dan pikiran serta perasaan melalui bahasa retoris yang indah dan bersemi baik tersirat maupun tersurat, memperkaya imajinasi dalam pikiran dan perasaan terhadap disiplin diri untuk mencapai tujuan, memperkuat ide tau gagasan terhadap alur cerita yang disampaikan, membuat pembaca terbius akan untaian kata yang diberikan dan memperkuat alur yang digambarkan.

Makna majas pleonasme dalam novel Lelaki Terindah karya Andrei Aksana, untuk mempertegas gagasan atau ide dalam cerita dan untuk menciptakan alur cerita yang menarik, sehingga pembaca merasa puas dengan karya sastra yang ditampilkan pengarang.

Saran

Penelitian ini terfokus pada majas pleonasme yang memperkuat cerita dalam novel “Lelaki Terindah” karya Andrei Aksana. Dengan demikian, masih banyak lagi aspek-aspek yang terdapat dalam novel tersebut dan sebagai bahan untuk diteliti, terutama tentang gaya bahasanya.

Peneliti juga menyarankan agar yang lain dapat meneliti aspek-aspek sastra yang lain dalam novel “Lelaki Terindah” ini, karena cerita didesain oleh pengarang penuh dengan gaya bahasa yang menarikuntuk diketahui lebih dalam lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Aksana, A. 2007. Lelaki Terindah. Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi.

Alfiansyah, 2009. Definisi, Pengertian dan Contoh Majas Pleonasme.                                 http://id.wikipedia.org/wiki/Majas diakses tanggal 15 April 2010.

Depdiknas, 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, PN Balai pustaka.

Djajasudarma, Fatimah. 1993. Metode Linguistik. Bandung: Eresco

Kridalaksana, 1994. Mengembangkan Minat dan Kebiasaan Membaca

 

Kajian Semiotik terhadap Puisi ”Cintaku Jauh di Pulau” Chairil Anwar

Nama  : ARIF SUNARYA

NIM  : A1B109235

Kajian Semiotik terhadap Puisi

”Cintaku Jauh di Pulau” Chairil Anwar

Pengertian Kajian Semiotik

Dari segi istilah, semiotik berasal dari kata Yunani kuno “semeion” yang berarti tanda atau “sign” dalam bahasa Inggris. Semiotik merupakan ilmu yang mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan komuniasi dan ekspresi. Sehubungan dengan sastra, semiotik secara khusus mengkaji karya sastra (termasuk puisi) yang dipandang memiliki system tersendiri yang harus dikaitkan dengan masalah seperti ekspresi, bahasa, situasi, symbol, dan gaya.

Semiotik menjadi satu istilah untuk kajian sastra yang bertolak dari pandangan bahwa semua yang terdapat dalam karya sastra (termasuk puisi) merupakan lambing-lambang atau kode-kode yang mempunyai arti atau makna tertentu. Arti atau makna itu berkaitan dengan sistem yang dianut. Pengetahuan tentang kehidupan masyarakat tidak dapat diabaikan dalam kajian semiotik.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kajian semiotik merupakan kajian terhadap tanda-tanda secara sistematis yang terdapat dalam karya sastra termasuk puisi­). Ada dua hal yang berhubungan dengan tanda, yakni yang menandai/penanda yang ditandai/penanda. Hubungan antara tanda dengan acuannya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu;

  1. Ikon

Ada kemiripannya antara acuannya dengan tanda. Tanda tersebut memamng mirip dengan acuannya atau merupakan gambar/arti langsung dari petanda. Misalnya, foto merupakan gambaran langsung dari yang difoto. Ikon masih dapat dibedakan atas dua macam, yakni ikon tipologis, kemiripan yang tampak disini adalah kemiripan rasional. Jadi, di dalam tanda tampak juga hubungan antara unsure-unsur yang diacu, contohnya susunan kata dalam kalimat, dan ikon metaforis, ikon jenis ini tidak ada kemiripan antara tanda dengan acuannya, yang mirip bukanlah tanda dengan acuan melainkan antara dua acuan dengan tanda yang sama, kata kancil misalnya, mempunyai acuan ‘binatang kancil’ dan sekaligus ‘kecerdikan’.

  1. Indeks

Istilah indeks berarti bahwa antara tanda dan acuanya ada kedekatan ekstensial. Penanda merupakan akibat dari petanda (hubungan sebab akibat). Misalnya, mendung merupakan tanda bahwa hari akan hujan; asap menandakan adanya api. Dalam karya sastra, gambaran suasana muram biasanya merupakan indeks bahwa tokoh sedang bersusah hati.

  1. Simbol

Penanda tidak merupakn sebab atu akibat dan tidak merupakan gambaran langsung dari petanda, tetapi hubungan antara tanda dan acuannya yang telah terbentuk secara konvensional. Jadi sudah ada persetujuan antara pemakai tanda dengan acuannya. Misalnya, bahasa merupakan simbol yang paling lengkap, terbentuk secara konvensional, hubungan kata dengan artinya dan sebagainya. Ada tiga macam simbol yang dikenal, yakni (1) simbol pribadi, misalnya seseorang menangis bila mendengar sebuah lagu gembira karena lagu itu telah menjadi lambing pribadi ketika orang yang dicintainya meninggal dunia, (2) simbol pemufakatan, misalnya burung Garuda/Pancasila, bintang = ketuhanan, padi dan kapas = keadilan social, dan (3) symbol universal, misalnya bunga adalah lambing cinta, laut adalah lambing kehidupan yang dinamis (djojosuroto, 2005; 68-72).

Ruang Lingkup Kajian Semiotik

Untuk melakukan kajian semiotik terhadap puisi, dapat dilakukan dengan pemaknaan sebagai berikut:

  1. Puisi dikaji ke dalam unsur-unsurnya dengan memperhatikan saling hubungan antar unsur-unsurnya dengan keseluruhan.
  2. Tiap unsur puisi dan keseluruhannya diberi makna sesuai dengan konvensi puisi.
  3. Setelah puisi dikaji ke dalam unsur-unsurnya dan dilakukan pemaknaan, puisi dikembalikan kepada makna totalitasnya dengan kerangka semiotik.
  4. Untuk pemaknaan diperlukan pembacaan secara semiotik, yaitu pembacaan heuristik dan pambacaan hermeneutik.

(Riffaterre, 1978: 506; Pradopo, 2003:95).

Pembacaan heuristik adalah pembacaan karya sastra (puisi) berdasarkan struktur kebahasaannya atau secara semiotik adalah berdasarkan konvensi system semiotik tingkat pertama. Pembacaannya hermeneutik adalah pembacaan karya sastra (puisi) berdasarkan konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan ulang sesudah pembacaan heuristik dengan tafsiran berdasarkan konvensi sastra (Pradopo, 2003:96).

Pembacaan Heuristik terhadap Puisi

“Cintaku Jauh di Pulau” Chairil Anwar

 

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

 

(Chairil Anwar, 1946)

            Dalam pembacaan heuristik puisi dibaca berdasarkan struktur kebahasaannya. Untuk memperjelas arti pada puisi, bila perlu dapat diberi sisipan kata atau sinonim kata yang ada pada puisi tersebut dengan cara kata-kata yang disisipkan ditaruh dalam tanda kurung. Begitu pula dengan struktur kalimatnya, disesuaikan dengan kalimat baku, dan bila perlu susunannya dapat dibalik untuk memperjelas arti. Pembacaan heuristik terhadap puisi “Cintaku jauh di Pulau” karya Chairil Anwar dapat dilakukan secara berikut:

Bait Kesatu

Cintaku ( telah) jauh di pulau, gadis manis (itu), sekarang iseng sendiri (-an).

Bait Kedua

Perahu (yang) melancar, bulan (yang) memancar. Di leher (telah) kukalungkan ole-oleh buat si pacar. Angin (telah) membantu, laut (menjadi) terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya (ke tempat gadis manis).

Bait Ketiga

Di air yang tenang, di angin (yang) mendayu, di perasaan penghabisan segala (sesuatu)  melaju. Ajal bertakhta, sambil berkata: “Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Bait Keempat

Amboi! Jalan sudah bertahun (-tahun) ku tempuh! Perahu yang bersama (berlayar) ‘kan (menjadi) merapuh! Mengapa Ajal (telah) memanggil dulu. Sebelum sempat (aku) berpeluk dengan cintaku?!

Bait Kelima

Manisku (yang) jauh di pulau, kalau ‘ku (nanti) mati, dia (akan) mati iseng sendiri.
Pembacaan Hermeneutik terhadap Puisi

“Cintaku Jauh di Pulau” Chairil Anwar

            Dalam pembacaan hermeneutik puisi dibaca berdasarkan konvensi sastranya. Pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan ulang sesudah pembacaan heuristik dengan memberikan tafsiran berdasarkan konvensi sastra. Konvensi sastra itu, di antaranya yaitu konvensi ketaklangsungan ucapan (ekspresi) puisi. Ketaklangsungan ekpresi puisi dapat disebabkan oleh penggantian arti, penyimpanan arti, dan penciptaan arti (Riffaterre, 1978: 1-2; Pradopo, 2003:97).

Penggantian arti dapat disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimi. Penyimpangan arti dapat disebabkan oleh ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Penciptaan arti dapat disebabkan oleh pemanfaatan bentuk visual seperti enjambemen, persajakan, homologues (persejajaran bentuk maupun baris, dan tipografi) (Pradopo, 2003:97).

Pembacaan hermeneutik terhadap puisi “Cintaku Jauh di Pulau” karya Chairil Anwar, terutama dilakukan terhadap bahasa kiasan, secara khusus metafora. Pembacaannya (tafsirannya) dapat dilakukan sebagai berikut:

Bait kesatu

Seorang kekasih yang berada di suatu tempat yang jauh (cintaku jauh di pulau). Seoarang gadis manis yang menghabiskan waktunya sendirian tanpa kehadiran sang kekasih (gadis manis iseng sendiri).

Bait kedua

Sang kekasih yang menempuh perjalanan jauh dengan perahu inigin menjumpai kekasihnya (gadis manis). Ketika cuaca pada saat itu bagus dan malam bulan yang bersinar. Namun sang kekasih gundah karena terasa tak sampai pada kekasihnya (gadis manis).

Bait ketiga

            Perasaan kekasih yang bersedih tak kunjung bertemu sang kekasih (gadis manis). Walaupun air tenang, angin mendayu,  ajal telah memanggil (ajal betahta sambil berkata: “Tunjukkan perahu kepangkuanku saja”)

Bait keempat

Sang kekasih putus asa (amboi). Bertahun-tahun berlayar, parahu yang membawanya akan rusak (perahu bersama kan merapuh). Kematian yang menghadang mangakhiri hidupnya tanpa bertemu sang kekasih (gadis manis).

Bait kelima

            Kekhawatiran sang kekasih jika dia meninggal, kekasih (gadis manis) akan mati dalm penantian yang sia-sia (dia mati iseng sendiri).

Pemaknaan terhadap Puisi “Cintaku Jauh di Pulau” Chairil Anwar

Berdasarkan hasil pembacaan heuristik dan hermeneutik, dapat diketahui bagaimana makna puisi “Cintaku jauh di Pulau” karya Chairil Anwar, terutama pada bahasa kiasan, secara khusu metafora. Pemaknaannya dapat dilakukan sebagai berikut:

 Bait kesatu

“Cintaku jauh di pulau” adalah metafora yang mengiaskan bahwa seorang kekasih yang menanti kekasihnya yang berada di tempat yang jauh. Seorang kekasih yang mengadu nasib dan meninggalkan kekasihnya hingga kelak bisa bersama-sama dengan sang kekasih. “Gadis manis, sekarang iseng sendiri” adalah seorang gadis yang menghabiskan waktunya sendirian tanpa kehadiran sang kekasih yang pergi jauh merantau demi sang kekasih.

Bait kedua

“Perahu melancar, bulan memancar” ialah sebuah perahu yang dilayarkan untuk mendatangi sang kekasih. Sang kekasih pergi jauh menggunakan perahu untuk menemui sang kekasih yang berada di tempat yang jauh. “dileher ku kalungkan ole-ole buat si pacar” yang berari sang kekasih berhasil dalam perantauannya dan diiringi dengan cuaca yang bagus dengan bulan yang bersinar terang ”bulan memancar”. “angin membantu, laut terang” yang mengkiaskan bahwa angin yang membantu dan laut yang terang, namun sang kekasih terasa gudah karena khawatir tak akan sampai pada sang kekasih.

Bait ketiga

            “Di air yang tenang, di angin mendayu” yang menggambarkan bahwa sang kekasih semakin sedih karena walaupun keadaan air yang tenang dan angin yang membantu dia merasa sedih karena khawatir tak akan bertemu dengan sang kekasih kerana pada perasaannya ajal telah memanggil “Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Bait keempat

“Perahu yang bersama ‘kan merapuh” yang menggambarkan bahwa perahu yang di tumpanginya akan rusak karena telah bertahun-tahun telah berlayar demi menjumpai kekasihnya. “Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku” yang mengkiaskan sang kekasih yang semakin putus asa karena ajal telah memanggilnya terlebih dahulu sebelum dia sempat bertemu dengan sang kekasih.

Bait kelima

“Manisku jauh di pulau” yang menggambarkan kekhawatiran sang kekasih kepada kekasihnya karena pada saat dia meninggal kekasihnya pun akan ikut meninggal dengan penantian yang sia-sia dengan menunggu sang kekasih yang telah tiada, hal ini diperkuat dengan pengkiasan ” kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.”

Setelah kita menganalisis makna tiap bait, kita pun harus sampai pada makna lambang yang diemban oleh puisi tersebut. Kekasih tokoh aku adalah kiasan dari cita-cita si aku yang sukar dicapai. Untuk meraihnya si aku harus mengarungi lautan yang melambangkan perjuangan. Sayang, usahanya tidak berhasil karena kematian telah menjemputnya sebelum ia meraih cita-citanya.

Dalam puisi tersebut terasa perasaan-perasaan si aku : senang, gelisah, kecewa, dan putus asa. Kecuali itu ada unsur metafisis yang menyebabkan pembaca berkontemplasi. Dalam puisi di atas, unsur metafisis tersebut berupa ketragisan hidup manusia, yaitu meskipun segala usaha telah dilakukan disertai sarana yang cukup, bahkan segalanya berjalan lancar, namun manusia seringkali tak dapat mencapai apa yang diidam-idamkannya karena maut telah menghadang lebih dahulu. Dengan demikian, cita-cita yang hebat dan menggairahkan akan sia-sia belaka.

CHAIRIL ANWAR

Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun) atau dikenal sebagai “Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku [2]) adalah penyair terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 dan puisi modern Indonesia.

Masa kecil
Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Indragiri Riau, berasal dari nagari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan dari pihak ibunya, Saleha yang berasal dari nagari Situjuh, Limapuluh Kota dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.

Chairil masuk sekolah Holland Indische school (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah menengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya yang ditemukan.

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca pengarang internasional ternama, seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Masa Dewasa
Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian.Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Akhir Hidup
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut. Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena penyakit TBC,Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.

Beberapa Puisi Chairil Anwar :

DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

 

SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

 

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.