PENELITIAN PROSES MORFOFONEMIK DALAM SURAT KABAR HARIAN METRO BANJAR

Penelitian morfologi
“PROSES MORFOFONEMIK DALAM SURAT KABAR HARIAN METRO BANJAR”
Dosen Pembimbing  : RUSMA NOORTYANI, S.Pd, M.Pd

 

Di susun Oleh :
ARIF SUNARYA         ( A1B109235 )
 
 
 
 
 
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
2010
 

BAB I
 
PENDAHULUAN
 
1.1 Latar Belakang
 
Sebagai bahasa yang hidup, pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus semakin ditingkatkan. Hal itu dapat dilakukan pada semua bidang yang dianggap tepat dan dapat menunjang kesempurnaan bahasa Indonesia. Pada bidang morfologi misalnya, pembinaan dan pengembangan biasanya diarahkan pada proses pembentukan kata. Proses pembentukan kata tersebut dapat dilakukan dengan cara, antara lain: proses morfofonemik.
 
Khusus mengenai proses perubahan kata melalui proses morfofonemik. Proses pembubuhan perubahan fonem atau kata sangat penting dan memerlukan ketelitian karena jika salah akan menjadi makna dan bentuknya tidak komunikatif. Berdasarkan kenyataan itu, media massa, dalam hal ini surat kabar sebagaimana diketahui, merupakan salah satu media yang dianggap resmi dalam pemakaian bahasa. Asep menjelaskan bahwa berita dalam televisi, radio, surat kabar, majalah, serta tulisan dalam buku-buku, yang merupakan produk wartawan dan penerbit, sangat mewarnai pemakaian bahasa dalam masyarakat. Oleh karena itu, suatu hal yang sangat masuk akal jika wartawan dan penerbit perlu
 
meningkatkan kemahiran dalam pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam penyebaran informasi, baik secara lisan maupun tulisan. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena di samping sebagai salah satu media resmi, juga media massa sangat berpotensi dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah media massa, dalam hal ini surat kabar, sudah patut menjadi panutan berbahasa Indonesia yang baik dan benar? Apakah sudah menerapkan kaidah-kaidah morfologis dalam penulisan berita-beritanya? Ataukah lebih mengutamakan prinsip ekonomi bahasa sebagai salah satu cirinya. Dalam pemakaian bahasa di surat kabar, terdapat istilah “ekonomi bahasa”. Artinya, kita dapat menggunakan kata atau kalimat dengan sehemat-hematnya. Akan tetapi, penghematan itu jangan sampai merusak kaidah bahasa, apalagi menimbulkan salah paham (Suroso, 2001: 6). Salah satu kolom yang terdapat dalam surat kabar atau media massa ini
 
adalah metro soccer yang membahas tentang informasi terbaru atau tehangat tentang dunia sepak bola. Secara umum karakteristik bahasa yang digunakan pada wacana tajuk rencana adalah padat, logis, singkat, menarik. Penulisan metro soccer pada surat kabar metro banjar harus berpijak pada kaidah jurnalistik dan hal ini memungkinkan pada hasil tulisannya terdapat kesalahan karena hanya memenuhi target yang telah disebutkan di atas.
 
Bertolak pada uraian di atas, penulis tertarik pada salah satu media cetak yang terbit di kawasan Kalimantan Selatan, yakni surat kabar harian METRO BANJAR sebagai objek penelitian. Surat kabar KOMPAS merupakan salah satu surat kabar harian yang paling sering ditemukan pada pedagang koran dan terlaris di wilayah Kalimantan Selatan . Penulis juga memilih wacana metro soccer sebagai kajian
 
penelitian karena wacana tersebut sering dijadikan bahan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Sering kali guru kurang memperhatikan struktur morfologinya terutama menyoroti proses morfofonemik pada wacana tersebut. Pada saat sesorang membaca surat kabar, pertama kali yang ia baca adalah isi berita tersebut. Setelah selesai dibaca, kemudian koran akan dilipat dan  dimasukan ke dalam tas bahkan dibiarkan begitu saja. Jarang sekali seorang pembaca meneliti kebahasaannya padahal, belum tentu setiap wacana tidak terdapat kesalahan. Misalnya saja kesalahan penulisan atau penggunaan EYD, tidak terdapatnya kekohesian pada wacananya, juga kaidah gramatikalnya yang kurang diperhatikan khususnya pada bidang kajian morfologi yaitu proses morfofonemik. Berdasarkan yang tercantum dalam surat kabar harian METRO BANJAR, terutama dalam hal pembentukan kata melalui proses morfofonemik.
 
 
 
1.2 Perumusan Masalah 
 
Penelitian berjudul Peristiwa Morfofonemik Bahasa Indonesia di Surat Kabar Metro Banjar berusaha menjawab beberapa masalah seperti :  

  1. Peristiwa-peristiwa morfofonemik apa saja yang muncul pada Surat Kabar
Metro Banjar ? 2.  Apa saja jenis-jenis morfofonemik yang dipakai? 3.  Bagaimanakah kaidah morfofonemik yang bisa disimpulkan?   1.3 Tujuan Penelitian
  1. Ingin mendeskripsikan Peristiwa-peristiwa morfofonemik yang muncul
pada Surat Kabar Metro Banjar? 2.  Ingin mendeskripsikan jenis-jenis morfofonemik yang dipakai? 3.  Ingin mendeskripsikan kaidah morfofonemik yang ada pada Surat Kabar Metro Banjar? 1.4. Manfaat Penelitian Sesuai dengan yang telah diuraikan dalam latar belakang penelitian di atas, manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.  Sebagai salah satu sumber informasi tentang salah satu unsur bahasa yang ada pada surat kabat Metro Banjar. 2.  Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti  lanjutan tentang tipe morfologi       BAB II LANDASAN TEORI.  1.1 Proses Morfofonemik di Surat Kabar Metro Banjar Ada beberapa yang sering digunakan untuk menggambarkan interaksi antara morfologi dan fonologi. Ramlan dalam Morfologi; Suatu Tinjauan Deskriptif menyebut dengan istilah morfofonemik. Dalam tulisan ini digunakan istilah morfofonemik, sejalan dengan judulnya “Peristiwa Morfofonemik Bahasa Indonesia di Surat Kabar Metro Banjar”. Morfofonemik disebut juga morfofonemik, morfonologi  atau morfonologi yang didefinisikan sebagai suatu peristiwa berubahnya wujud morfemis dalam suatu proses morfologis, baik afiksasi, reduplikasi, maupun komposisi. Menurut Ramlan morfofonemik mempelajari perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain (1985: 75). Misalnya prefiks meN- apabila bertemu dengan bentuk dasar yang diawali fonem l, maka akan terjadi penghilangan fonem N, misalnya kata melerai. Prefiks meN- di sini kehilangan N-nya. Proses berubahnya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal atau fonem yang mendahuluinya dinamakan proses morfofonemik (Alwi, 2003: 109). Katamba (1993) menyebut empat jenis distribusi alomorf. Pertama, distribusi alomorf yang ditentukan oleh kondisi fonologis (phonological conditioning). Sebagai contoh, apabila morfem jamak bertemu dengan morfem bebas yang berakhir dengan bunyi alveolar atau alveolar sibilant maka morfem jamak itu direalisasikan dengan bunyi [∂z]. Akan tetapi, jika morfem jamak bertemu dengan morfem yang berakhir dengan bunyi konsonan tidak bersuara non-strident maka morfem jamak itu direalisasikan dengan bunyi [-s], sedangkan realisasi [-z] muncul apabila morfem jamak bergabung dengan morfem yang tidak diakhiri dengan bunyi alveolar/alveolar sibilant atau bunyi konsonan tidak bersuara non-strident. Kedua, distribusi yang ditentukan oleh kondisi gramatikal (grammatical conditioning). Sebagai contoh, kehadiran morfem lampau menentukan pilihan alomorf /wep/ dan /swep/ dari /wi:p/ dan /swi:p/. Demikian pula dalam pilihan alomorf took dan shook dari take dan shake. Pilihan alomorf took dan shook dari take dan shake ditentukan oleh kehadiran morfem lampau (past tense morpheme). Ketiga, distribusi alomorf yang ditentukan oleh kondisi leksikal (lexical conditioning). Distribusi varian ini adalah distribusi alomorf tertentu yang terjadi pada kata tertentu. Ini tampak dalam kata oxen yang merupakan hasil penggabungan morfem jamak (-en) dengan nmorfem bebas (ox). Keempat, distribusi alomorf yang disebut suplesi (suppletion). Suplesi, seperti halnya kondisi leksikal, hanya terjadi pada kata tertentu. Dalam bahasa Inggris, misalnya, bentuk good dan better tidak sama. Akan tetapi, good dan better merepresentasikan leksem GOOD. Demikian pula dengan bentuk am, are, dan is. Ketiga bentuk ini jelas berbeda. Akan tetapi, ketiganya merupakan representasi dari lexeme BE. Dalam bahasa Indonesia, sedikit-sedikitnya terdapat tiga proses morfofonemik, yang meliputi: 1.      Proses perubahan fonem 2.      Proses penambahan fonem 3.      Proses hilangnya fonem (Ramlan, 1985: 76)                     BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Sumber Penelitian Sumber penelitian ini diperoleh dari beberapa sumber, yaitu dari buku-buku morfologi, buku bahasa Indonesia dan bahan-bahan dari internet.   3.2 Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptip kualitatif. Suroto mengatakan bahwa penelitian kualitatif bersufat deskriptif artinya peneliti mencatat dengan teliti dan detail data yang berwujud kata-kata, kalimat, wacana, gambar, catatan harian, memorandum, video, dan lai-lain ( 1992: 7). Metode deskriptif kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk mendeskripsikan proses morfofonemik pada kolom “Metro Soccer” dalam surat kabar harian METRO BANJAR edisi bulan Desember 2010. . 3.3 Teknik Analisis Data Teknik yang digunakan untuk menganalisis data yang sudah terhimpun atau didapatkan ialah dengan  cara membandingkan kembali data-data itu dan menyeleksi data mana yang lebih baik untuk dipakai atau digunakan dalam laporan penelitian ini. Dengan mengambil dari berbagai sumber yang apa adanya untuk menjadikan kesempurnaan dalam membuat penelitian ini.               BAB IV PEMBAHASAN PENELITIAN 4.1 Proses morfofonemik dalam surat kabar metro banjar Di dalam penelitian ini morfofonemik bahasa Indonesia pada surat kabar harian Metro Banjar, dapat dapat diamati proses-prosesnya melalu beberapa proses :
  1. Proses morfofonemik jenis penambahan,
  2. Proses morfofonemik jenis penghilangan,
  3. Proses morfofonemik jenis penggantian, dan
  4. Proses morfofonemik jenis penggeseran
  4.1.1 Proses morfofonemik menjadi penambahan Morfofonemik bahasa Indonesia surat kabar Metro Banjar dengan proses penambahan fonem adalah bertambahnya salah satu fonem pada morfem akibat penggabungan dua buah morfem. penambahan bias berupa prefiks, infiks, sufiks, dan konfiks. Morfofonemik bahasa Indonesia pada surat kabar Metro Banjar yang dapat di analisis adalah :
  1. Afiks me- , men-
  • me-/ + /buang/             à  /mem-buang/         penambahan fonem /m/
  • me-/+ /ganti/                à /meng-gan-ti/          penambahan fonem /ng/
  • me-/+ /ukur/                 à /me-ngu-kur/           penambahan fonem /ng/
  • /me-/+/dapat/               à /men-da-pat/           penambahan fonem /n/
  • /men-/+/alir/                 à /me-nga-lir/             penambahan fonem /ng/
  • /me-/+/damba/             à /men-dam-ba/         penambahan fonem /n/
  • /men-/+/harap/             à /me-ngha-rap/          penambahan fonem /ng/
  • /me-/+/bunuh/              à /mem-bu-nuh/                     penambahan fonem /m/
  • /me-/+/jauh/                 à  /men-ja-uh/              penambahan fonem /n/
  • /men-/+/ambil/ à  /me-ngam-bil/        penambahan fonem /ng/
  • /me-/+/bawa/               à /mem-ba-wa/          penambahan fonem /m/
  • /me-/+/cari/                  à /men-ca-ri/             penambahan fonem /n/
  • /me-/+/bom/                 à /mem-bom/             penambahan fonem /m/
  • /men-/+/ambil/ à /me-ngam-bil/         penambahan fonem /ng/
  • /me-/+/cari/                  à /men-ca-ri/              penambahan fonem /n/
  • /me-/+/belai/                à /mem-be-lai/          penambahan fonem /m
  1. Afiks pe-
  • /pe-/+ /bicara/  à /pembicara/               penambahan fonem /m/
  • /pe-/+ /acara/                à /pengacara/             penambahan fonem /ng/
  • /pe-/+/dusta/                à /pendusta/               penambahan fonem /n/
  • /pe-/ + /jahat/               à /penjahat/                penambahan fonem /ny/
  • /pe-/ + /jahit/                à /penjahit/                penambahan fonem /ny/
  4.1.2 Proses morfofonemik menjadi penghilangan Dari hasil yang bisa dicapai proses morfofonemik penghilngan dalam surat kabar harian Metro Banjar ialah proses  menghilangnya suatu fonem pada saat proses pembentukan kata. Dari hasil analisi yang dicapai terdapat beberapa proses :
  1. Afiks men-, meng-, mem-
  • /meng-/ + /kira/            à /mengira/    penghilangan fonem /k/
  • /meng-/ + /kosongkan/à /mengosongkan/    penghilangan  fonem /k/
  • /meng-/ + /kurangi/      à /mengurangi/           penghilangan  fonem /k/
  • /meng-/ + /kandung/    à /mengandung/   penghilangan fonem /ng/
  • /meng-/ + /kupas/         à /mengupas/               penghilangan  fonem /k/
  • /men-/ + /tendang/       à /menendang/          penghilangan  fonem /t/
  • /men-/ + /tawar/           à /menawar/               penghilangan  fonem /t/
  • /men-/ + /tumbuk/        à /menumbuk/           penghilangan  fonem /t/
  • /mem-/ + /pancing/      à /memancing/           penghilangan  fonem /p/
 
  1. Afiks ber-
  • /ber-/ + /renang/           à /berenang/               penghilangan  fonem /r/
  • /ber-/ + /lajar/               à /belajar/                   penghilangan  fonem /r/
  • /ber/ + /kerja/               à /bekerja/      penhilangan fonem /r/
  • /per-/ + /renang/           à /perenang/   penghilangan  fonem /r/
  • /ber-/ + /cermin/           à /becermin/   penghilangan  fonem /r/
  • /ber-/ + /ragam/            à /beragam/    penghilangan  fonem /r/
  • /ber-/ + /ternak/            à /beternak/   penghilangan  fonem /r/
  • /ber-/ + /racun/ à /beracun/       penghilangan  fonem /r/
 
  1. Afiks per-, peng-,
  • /peng-an/ + /kunci/      à /penguncian/   penghilangan  fonem /k/
  • /per-/ + /main/              à /pemain/         penghilangan  fonem /r/
  • /peng-/ + /keras/           à /pengeras/     penghilangan fonem /k/
 
  1. Sufiks –wan
  • /sejarah/ + /-wan/         à /sejarawan/             penghilangan  fonem /h/
  • /anak/ + /nda/              à /ananda/      penghilangan fonem /k/
  4.1.3 Proses morfofonemik menjadi penggantian Pada surat kabar harian Metro Banjar juga terdapat beberapa proses pergantian yaitu berubahnya salah satu fonem pada morfem akibat bertemunya dengan morfem lain. Proses ini bisa juga disebut proses penggantian fonem.
  1. Afiks me-, meng-, men-
  • /meng-/ + /datang/       à /mendatangkan/
  • /meng-/ + /campur/      à /mencampur/
  • /me-/ + /tari/                 à /menari/
  • /me-/ + /sayur/             à /menyayur/
  • /me-kan/ + /saksi/        à /menyaksikan/
  • /me-i/ + /sakit/             à /menyakiti/
  • /me-/ + /kekang/          à /mengekang/
  • /me-/ + /karang/           à /mengarang/
  • /me-/ + /tabur/              à /menabur/
  • /me-/ + /tahan/             à /menahan/
  • /me-/ + /tangkap/         à /menangkap/
  • /me-/ + /tulis/               à /menulis/
  • /me-/ + /tabung/           à /menabung/
  • /meng-/ + /bawa/         à /membawa/
  1. Afiks pe-
  • /pe-/ + /suluh/              à /penyuluh/
  • /pe-/ + /ubah/               à /pengubah/
  • /pe-/ + /catur/               à /pencatur/
  • /pe-/ + /gulat/               à /penggulat/
  • /pe-/ + /susun/              à /penyusun/
  • /pe-/  + /pahat/             à /pemahat/
  • /pe-/ + /tanya/              à /penanya/
  4.1.4 Proses morfofonemik menjadi penggeseran Di daalam hasil penelitian ini untuk proses morfofonemik menjadi penggeseran adalah jika terjadi apabila terdapat fonem yang berasal dari bentuk dasar bertemu dengan fonem dan afiks yang membentuk sebuah suku kata. Kemudian yang ditemukan dalam surat kabar harian Metro Banjar ada beberapa contoh, diantaranya :
  • /per-/ + /antara/                        à /pe-ran-ta-ra/
  • /per-/ + /alih/ + /-an/                 à /pe-ra-li-han 
  • /lompat/ + /-an/                        à /lom-pa-tan/
  • /kenang/ + /-an/                       à /ke-na-ngan/
  • /minum/ + /-an/                        à /mi-nu-man/
  • /makan/ + /-an/                        à /ma-ka-nan/
  • /pelajar/ + /-an/                        à /pe-la-ja-ran/
  • /meng-/ + /ajar/                        à /me-nga-jar/
  • /per-/ + /abotan/                       à /pe-ra-bo-tan/
  • /ter-/ + /ulang/                          à /te-ru-lang/
  • \/ber-/ + /usaha/                        à /be-ru-sa-ha/
  • /meng-/ + /urus/                       à /me-ngu-rus/
  • /per-/ + /ingat/ + /-an/              à /pe-ri-nga-tan/
  • /tali/ + /-em-/                            à /te-ma-li/
  • /-ter/ + /angkat/                        à /te-rang-kat/
  • /per-/ + /antara/                        à /pe-ran-ta-ra/
  • /per-/ + /alih/ + /-an/                 à /pe-ra-li-han/
  • /ber-/ + /amal/                          à /be-ra-mal/
  • /ter-/ + /atur/                            à /te-ra-tur/
  • /ber-/ + /angkat/                       à /be-rang-kat/
  4.2 Kaidah proses morfofonemik dalam surat kabar Metro Banjar Setelah ditemukannya proses morfofonemik pada surat kaar harian Metri Banjar ini kemudian ditemukan beberapa kaidah morfofonemik bahasa Indonesia yang terdapat didalam surat kabar harian Metro Banjar. Dari hasil tersebut ditemukan 8 kaidah morfofonemik yang bisa diidentifikasi pada surat kabar harian Metro Banjar, diantaranya :
  1. a. Jika meng- ditambahkan pada dasar yang bermula dengan fonem /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /k/, /g/, /h/, atau /x/. Bentuknya tidak berubah dan bentuknya tetap meng-. 
Contoh dalam surat kabar harian Metro Banjar : Meng- + ambil             à mengambil Meng- + ikat                           à mengikat Meng- + ukur                          à mengukur Meng- + elakkan                     à mengelakkan Meng- + olah                           à mengolah Meng- + kalahkan                   à mengalahkan Meng- + garap                         à menggarap Meng- + harap                         à mengharap Meng- + khawatirkan              à mengkhawatirkan  
  1. b. Jika meng- ditambahkan pada dasar yang bermula dengan fonem /l/, /m/, /n/, /r/, /y/, /w/, bentuknya berubah menjadi me-. Kemudian contoh yang bisa diambil pada surat kabar harian Metro Banjar : 
Meng- + latih                          à melatih Meng- + makan                       à memakan Meng- + namai                        à menamai Meng- + nyatakan                   à menyatakan Meng- + ramaikan                   à meramaikan Meng- + wajibkan                   à mewajibkan  
  1. c. Jika meng- ditambahkan pada dasar yang bermula dengan fonem /d/ atau /t/, bentuknya berubah menjadi men-  atau meny-, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kata yang dipakai cenderung luluh atau mengalami peluluhan. Selanjutnya contoh yang bisa ditemukan :
Meng- + datangkan                 à mendatangkan Meng- + tanamkan                  à menanamkan  
  1. d. Jika meng- ditambahkan pada dasar yang bermula dengan fonem /b/, /p/, atau /f/, bentuknya bisa berubah menjadi mem-. Contoh yang terdapar diantaranya :
Meng- + babat                         à membabat Meng- + patuhi                       à mematuhi Meng- + fokuskan                   à memfokuskan Meng- + pertingi                     à mempertinggi Meng- + pertaruhkan              à mempertaruhkan Meng- + perdalam                   à memperdalam Meng- + perdulikan                à memperdulikan Meng- + pesonaka                  à mempesonakan  
  1. e. Jika meng- ditambahkan pada dasar yang bermula dengan fonem /c/, /j/, /s/, , bentuknya beruah menjadi meny-. Didalam ejaan yang dibakukan, bentuk meny- yang bergabunmg dengan huruf <c>, <j>, dan <sy> pada awal dasar disederhanakan menjadi men-. Namun didalam ejaan yang lama kaidah ini ditetapkan utuk menghindari penulisan menjtjari dan menjdjadjah sehingga menjadi mentjari dan mendjadjah. Penghilanggan huruf <j> itu hingga sekarang masih dipertahankan. Kemudian cotoh meng- menjadi meny- pada surat kabar harian Metro banjar diantaranya :
Meng- + satukan                     à menyatukan Meng- + sadari                        à menyadari Meng- + sucikan                     à menyucikan Meng- + cari                            à menyari Meng- + jatuhkan                    à menjatuhkan Meng- + syaratkan                  à menyaratkan  
  1. f. Jika meng- ditambahkan pada dasar  yang bersuku satu, bentuknya berubah menjadi menge. Disamping itu, ada bentuk yang tidak baku, yaitu tanpa adanya proses peluluhan. Di dalam surat kabar harian Metro Banjar ini bisa ditemukan beberapa contoh diantaranya :
Meng- + tik                             à mengetik Meng- + bom                          à mengebom Meng- + cek                            à mengecek Meng- + rem                           à mengerem  
  1. g. Kemudian kata-kata dari bahasa asing diperlukan berbeda-beda berganting pada frekuensi dan lamanya kata tersebut telah kita pakai. Jika dirasakan masih relatif baru, proses peluluhan diatas tidak berlaku. Hanya kecocokan artikulasi saja yang diperhatikan dengan catatan bahwa meng- di depan dasar asing yang bermula dengan /s/ menjadi men-. Jika dasar itu dirasakan tidak asing lagi, morofofonemiknya mengikuti kaidah yang umum. Di dalam surat kabar harian Metro Banjar  seperti :
Meng- + produksi                   à memproduksi Meng- + klasifikasi                 à mengklasifikasi Meng- + transfer                     à mentransfer Meng- + protes                        à memprotes Meng- + proses                       à memproses Meng- + impor                        à mengimpor  
  1. h. Jika verba berdasar tunggal direduplikasi, dasarnya diulangi dengan dipertahankan peluluhan konsonan pertamanya. Dasar yang bersuku satu mempertahankan unsur nge- didepan dasar yang direduplikasikan tetapi jikaada sufiks tidak direduplikasikan. Hasil penelitian dari surat kabar harian Metro Banjar ada beberapa pola.
Tulis                à menulis                   à menulis-nulis Karang                        à mengarang              à mengarang-ngarang Sulitkan           à menyulitkan           à menyulit-nyulitkan Pijit                  à memijit                   à memijit-mijit Baca                à membaca                à membaca-baca.                       BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan Peristiwa morfofenemik pada dasarnya adalah proses berubahnya sebuah fonem dalam pembentukan kata yang terjadi karena proses afiksasi karena pertemuan antara morfem dasar dengan afiks. Morfofonemik terdapat pada setiap bahasa yang mengalami proses morfologi. Morfofonemik adalah peristiwa fonologis yang terjadi pada proses morofologis sehingga dibahas pada bidang morfologi. Analisis terhadap peristiwa morfofonemik perlu dilakukan agar dapat diketahui kaidah pembentukan kata yang benar dalam pemakaian bahasa serta dalam upaya memperkaya kasanah bahasa Indonesia. 5.2 Saran Penelitian ini telah mendeskripsikan struktur morfologi proses morfofonemik di dalam surat kabar harian Metro Banjar, yang merupakan salah satu  aspek dari struktur  proses morfofonemik bahasa indonesia dalam surat kabar harian Metro Banjar secara keseluruhan, yang  tentunya masih banyak aspek lain yang belum disentuh dalam penelitian ini, sehingga disarankan  kepada peneliti selanjutnya agar lebih memperdalam dalam penelitian ini sehingga hasilnya lebih memuaskan,  yang  hasilnya proses morfofonemik dan kaidah-kaiadah yang terdapat didalam proses morfofonemik yang kemudian  mengkaji aspek lain dalam kajian  morfologi bahasa Indonesia didalam surat kabar harian Metro Banjar lagi. Mengingat besarnya  pengaruh bahasa-bahasa yang timbul seiring berkembangnya zaman dalam memperkaya bahasa Indonesia, kiranya penelitian terhadap proses morfofonemik bahasa Indonesia di dalam surat kabar harian Metro Banjar ini perlu terus  dilanjutkan.         DAFTAR PUSTAKA Noortyani, Rusma. (2010). Morfologi Bahasa Indonesia. Banjarbaru : Scripta Cendikia. Djajasudarma,Fatimah T.1993.Metode Linguistik : Ancangan Metode Penelitian dan Kajian . Bandung : Eresco Nida, E.A.  1970. Morphology: The Descriptive Analysis Of Words. Michigan:  Ann Arbour, Diversity Of Michigan Press. Moeliono, Anton.M. 1997. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kridalaksana, Harimurti. 2007. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. http://prabareta.blogspot.com/2009/01/morfofonemik-dalam-bahasa-indonesia.html http://eprints.undip.ac.id/6034/  

Satu gagasan untuk “PENELITIAN PROSES MORFOFONEMIK DALAM SURAT KABAR HARIAN METRO BANJAR”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s